
Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Asia bergerak mayoritas menguat pada perdagangan Kamis (29/10/2026), seiring investor mencermati kinerja keuangan perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS) dan keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Melansir CNBC Internasional, Indeks Nikkei 225 Jepang naik lebih dari 0,58%, sementara indeks Topix bergerak datar.
Di Korea Selatan, indeks Kospi naik 0,11% saat pembukaan perdagangan, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq turun 0,97%. Sementara itu, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 menguat 0,51%.
Pergerakan pasar turut dipengaruhi oleh laporan keuangan perusahaan teknologi AS yang dirilis setelah perdagangan reguler berakhir. Saham Microsoft naik 3% dalam perdagangan setelah jam bursa (after-hours) setelah pertumbuhan bisnis infrastruktur cloud Azure membantu perusahaan tersebut membukukan pendapatan dan laba di atas ekspektasi pada kuartal I tahun fiskal 2027, menurut data LSEG.
Sebaliknya, saham Alphabet merosot 9% setelah laba per saham yang disesuaikan dan pendapatan perusahaan pada kuartal III-2026 tidak memenuhi ekspektasi pasar. Alphabet juga mencatat arus kas bebas negatif sebesar US$9,07 miliar, sementara perusahaan mempertahankan proyeksi belanja modal sepanjang 2026 pada kisaran US$195 miliar hingga US$205 miliar.
Kinerja kedua perusahaan tersebut menjadi perhatian di tengah sorotan investor terhadap perdagangan saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Saham-saham AI, termasuk yang tercermin dalam iShares Semiconductor ETF (SOXX) dan Roundhill Memory ETF (DRAM), mengalami tekanan selama sebagian besar Oktober sebelum mulai menguat dalam beberapa hari terakhir.
Pada perdagangan reguler Rabu (28/10/2026), saham sektor semikonduktor membantu mendorong penguatan pasar saham AS. Indeks S&P 500 naik untuk hari ketiga berturut-turut setelah saham Micron Technology melonjak hampir 6% dan Broadcom menguat lebih dari 2%, sedangkan indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi naik 0,3%.
Dari sisi kebijakan moneter, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75%-4% dalam pertemuan Rabu. Keputusan tersebut telah diperkirakan secara luas oleh pasar setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September.
Dalam pernyataannya, para pembuat kebijakan The Fed menyoroti bahwa inflasi masih berada pada level tinggi atau remains elevated. Namun, bank sentral juga menyatakan akan menunggu akumulasi informasi ekonomi lebih lanjut sebelum mengambil langkah kebijakan berikutnya.
Kepala Global Short Duration and Liquidity Janus Henderson Investors Daniel Siluk menilai keputusan tersebut dapat ditafsirkan sedikit dovish, tetapi lebih tepat dipandang sebagai sikap menunggu dan mencermati perkembangan data ekonomi. Menurut dia, peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut masih terbuka, meskipun para pembuat kebijakan tampak bersedia menunggu data terbaru untuk memastikan perlunya tindakan tambahan.
Investor selanjutnya akan mencermati sejumlah data ekonomi AS yang dirilis pada Kamis, termasuk indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk September yang menjadi salah satu indikator inflasi pilihan The Fed. Selain itu, data awal produk domestik bruto (PDB) kuartal III dan klaim pengangguran mingguan AS juga dijadwalkan dirilis.
Di sisi korporasi, pelaku pasar akan menantikan laporan keuangan kuartalan Caterpillar dan Eli Lilly yang dijadwalkan terbit sebelum perdagangan reguler dimulai. Setelah pasar ditutup, perhatian investor akan beralih ke laporan keuangan Amazon dan Intel.
(rob/rob)
Leave a comment