
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Kita baru saja mencatat sebuah keberhasilan yang selama sembilan tahun terakhir belum bisa diwujudkan. Pada 2025, lifting minyak akhirnya melampaui target APBN. Hal ini patut kita syukuri, karena banyak prediksi sebelumnya mengatakan lifting minyak kita akan terus menurun justru kenyataannya, kita berhasil menaikkannya kembali.
Keberhasilan ini menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh. Pemerintah pun semakin serius menggenjot lifting minyak hingga 610 ribu barel per hari pada 2026, dengan target jangka menengah mencapai 1 juta barel per hari pada 2030.
Arah kebijakan ini sangat bermanfaat karena dapat memangkas defisit energi. Tentu ini bukan hal yang mustahil, meskipun ada tantangan nyata seperti maturitas lapangan, kendala teknis, dan kebutuhan eksplorasi yang lebih agresif dan inilah yang perlu diantisipasi sejak sekarang.
Gas Domestik Semakin Dominan
Di sisi gas, ceritanya berbeda yaitu sekitar 69 persen gas nasional dipakai untuk kebutuhan domestik: industri, kelistrikan, LNG/LPG, jaringan gas, dan peningkatan produksi. Sisanya dialokasikan untuk diekspor dan ini memperkuat posisi gas sebagai penghubung antara agenda industrialisasi dan transisi energi. Pemanfaatan gas domestik yang semakin besar membuka ruang bagi pengembangan infrastruktur pendukung: pipa transmisi, virtual pipeline, regasifikasi, dan monetisasi gas domestik.
Pemerintah sendiri menekankan modernisasi infrastruktur migas, interkoneksi pipa, dan pengembangan klaster virtual pipeline. Hilirisasi juga menjadi prioritas pemerintah dengan contoh konkretnya adalah pengembangan petrokimia terintegrasi yang diproyeksikan menekan impor hingga sekitar US$ 1,4 miliar per tahun. Hal ini merupakan upaya mengubah struktur industri dari pengekspor bahan mentah menjadi produsen produk bernilai tambah yang akan mendongkrak devisa negara.
Teknologi Sudah Menjadi Enabler
Di sisi hulu, teknologi menjadi kunci untuk meningkatkan lifting. Enhanced Oil Recovery (EOR), fracking, dan horizontal drilling diposisikan sebagai enabler untuk mengoptimalkan lapangan yang sudah ada. Perlu dicatat bahwa teknologi harus dibaca sebagai enabler bisnis, bukan sebagai showcase semata. Karena itu, penting untuk memilih teknologi yang benar-benar berdampak pada peningkatan recovery, keandalan operasi, spesifikasi produk, margin, atau kepatuhan terhadap regulasi.
Sebuah pilot yang bisa diperluas skalanya jauh lebih bernilai dibandingkan digital showcase yang tidak memberikan dampak nyata pada arus kas. Prinsipnya, teknologi yang dipilih harus benar-benar memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha.
Arah ke Depan
Dengan pendekatan itu, peluang yang ada bisa dimanfaatkan secara lebih optimal. Pasar migas tetap menarik, tetapi makin selektif dan tidak lepas dari berbagai faktor ketidakpastian. Di tengah kondisi itu, Indonesia justru membuka peluang di brownfield, greenfield, gas, petrokimia, dan hilirisasi.
Target lifting yang terus dinaikkan, pemanfaatan gas domestik yang semakin besar, serta modernisasi infrastruktur menciptakan ruang bagi operator, midstream, EPC/OFS, layanan keandalan, dan pembangunan kilang terintegrasi dengan petrokimia.
Persaingan di industri migas kini tidak terbatas pada siapa yang punya cadangan terbesar. Yang lebih menentukan adalah siapa yang memiliki cost position yang baik, speed yang cepat, dan access to market yang jelas. Ketiga hal inilah yang membedakan pelaku industri yang akan benar-benar tumbuh dan bertahan.
(miq/miq)
Leave a comment