Home Finance Cetak Sejarah, RI Teguhkan Kemerdekaan dengan Ketahanan Pangan
Finance

Cetak Sejarah, RI Teguhkan Kemerdekaan dengan Ketahanan Pangan

Share
Cetak Sejarah, RI Teguhkan Kemerdekaan dengan Ketahanan Pangan
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Indonesia mencatat sebuah lompatan bersejarah 81 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan. Dari negara yang dua tahun lalu harus mengimpor sekitar tujuh juta ton beras akibat tekanan El Niño, Indonesia kini berhasil meningkatkan produksi, menghentikan impor beras medium, memiliki Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tertinggi sepanjang sejarah, Nilai Tukar Petani (NTP) tertinggi setelah 34 tahun sekaligus kembali meneguhkan swasembada pangan sebagai simbol baru kemerdekaan bangsa.

Di tengah dunia yang masih dibayangi krisis pangan, perubahan iklim, dan konflik geopolitik, kemampuan negara memenuhi kebutuhan pangannya sendiri menjadi ukuran nyata kedaulatan.

Bagi Indonesia, swasembada pangan bukan sekadar target produksi atau keberhasilan sektor pertanian. Ia telah menjadi simbol baru kemerdekaan kemampuan bangsa berdiri di atas kekuatan sendiri tanpa bergantung pada negara lain untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar yaitu pangan.

Fenomena El Niño yang melanda sepanjang 2023 hingga 2024 menjadi salah satu ujian terberat sektor pertanian dalam satu dekade terakhir. Curah hujan turun drastis, jutaan hektare lahan mengalami tekanan kekeringan, luas tanam menyusut, produksi padi menurun, sementara harga pangan mulai bergejolak. Untuk menjaga pasokan nasional, Indonesia harus mengimpor sekitar tujuh juta ton beras sepanjang 2024.

Namun arah kebijakan berubah ketika pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan pangan sebagai prioritas utama pembangunan nasional. Swasembada pangan tidak lagi dipandang sebagai agenda sektoral, melainkan sebagai fondasi kedaulatan negara.

Melalui berbagai kebijakan strategis, mulai dari penyederhanaan regulasi, peningkatan luas tanam, pembangunan irigasi, optimalisasi lahan, cetak sawah baru, Brigade Pangan, modernisasi alat dan mesin pertanian, hingga kemudahan akses pupuk, pemerintah membangun kembali sistem produksi pangan nasional dari hulu hingga hilir.

Tahun 2025 menjadi titik balik. Indonesia berhasil menghentikan impor beras medium, sementara produksi nasional kembali meningkat. Bahkan pemerintah mulai membuka peluang ekspor beras secara terbatas setelah kebutuhan domestik dinilai aman.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras Indonesia sepanjang 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat 13,29% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, proyeksi Januari-September 2026 menunjukkan produksi padi mencapai 49,84 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau meningkat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dengan estimasi produksi beras sebesar 28,71 juta ton.

Peningkatan tersebut bukan sekadar angka statistik. Angka itu mencerminkan semakin luasnya areal tanam, meningkatnya indeks pertanaman, penggunaan benih unggul, modernisasi mekanisasi pertanian, hingga semakin mudahnya petani memperoleh pupuk bersubsidi.

Seluruh intervensi tersebut membentuk fondasi baru pertanian nasional yang lebih produktif sekaligus lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Keberhasilan Indonesia menjadi semakin menonjol ketika dibandingkan dengan kondisi global. Dalam laporan Food Outlook, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memproyeksikan produksi beras dunia musim 2026/2027 justru mengalami penurunan menjadi sekitar 552,4 juta ton akibat tekanan iklim, menurunnya keuntungan usaha tani, serta berkurangnya luas tanam di sejumlah negara produsen utama seperti Thailand, Amerika Serikat, Brasil, hingga Kamboja.

Di saat banyak negara menghadapi penurunan produksi, Indonesia justru bergerak ke arah sebaliknya. FAO memperkirakan produksi beras Indonesia mencapai 38,6 juta ton pada musim 2026/2027. Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar keempat dunia, setelah India, China, dan Bangladesh, sekaligus mempertahankan posisi sebagai produsen terbesar di kawasan ASEAN.

Keberhasilan tersebut juga tercermin dari semakin kuatnya cadangan pangan nasional. Hingga akhir Juli 2026, pemerintah mencatat standing crop atau potensi tanaman padi yang masih berada di sawah setara sekitar 10 juta ton beras.

Pada saat yang sama, stok beras yang berada di rumah tangga, penggilingan, pedagang, industri pengolahan, hingga sektor hotel, restoran, dan kafe diperkirakan juga mencapai sekitar 10 juta ton. Sementara Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog telah menembus 5,25 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto menyebut capaian itu sebagai hasil kerja keras seluruh insan pertanian Indonesia.

“Saya beri tugas swasembada pangan dalam empat tahun, beliau (Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman) bisa hasilkan dalam satu tahun. Saya ucapkan terima kasih,” ujar Prabowo dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (7/8/2026).

Menanggapi capaian tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa keberhasilan swasembada beras bukan sekadar peningkatan angka produksi, tetapi bukti bahwa Indonesia mampu bangkit dari tekanan krisis pangan global melalui kerja bersama seluruh pemangku kepentingan.

“Alhamdulillah, arahan Presiden mulai membuahkan hasil. Dari kondisi El Niño yang memaksa kita melakukan impor besar, kini Indonesia mampu meningkatkan produksi, menghentikan impor beras medium, memiliki cadangan beras pemerintah tertinggi sepanjang sejarah, dan kembali menuju swasembada. Ini adalah hasil kerja keras petani, penyuluh, TNI-Polri, pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, serta seluruh insan pertanian Indonesia,” ujar Amran.

Amran menegaskan bahwa pemerintah tidak akan berhenti pada capaian tersebut. Menurutnya, berbagai program peningkatan produksi akan terus diperkuat agar swasembada pangan menjadi fondasi yang berkelanjutan sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan petani.

“Target kami bukan hanya swasembada. Produksi harus terus meningkat, kesejahteraan petani harus semakin baik, harga pangan tetap stabil, dan Indonesia semakin kokoh sebagai negara yang berdaulat di bidang pangan,” tegas Amran.

Dia menegaskan bagi Kementerian Pertanian, ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah meningkatnya kesejahteraan petani. Karena itu berbagai kebijakan pemerintah diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan hasil panen, tetapi juga menjaga harga gabah di tingkat petani, memperbaiki distribusi pupuk, memperluas mekanisasi, mempercepat pembangunan irigasi, hingga memperkuat hilirisasi komoditas pertanian agar nilai tambah lebih banyak dinikmati petani.

Badan Pusat Statistik mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Juli 2026 mencapai 127,84, tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Angka tersebut menunjukkan kemampuan ekonomi petani terus menguat, baik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun membiayai usaha taninya.

“Bagi Prabowo Subianto, swasembada pangan adalah fondasi kedaulatan bangsa. Karena itu pembangunan pertanian tidak lagi menjadi tanggung jawab Kementerian Pertanian semata, tetapi melibatkan seluruh kementerian, pemerintah daerah, BUMN, perguruan tinggi, TNI-Polri, penyuluh, hingga jutaan petani di seluruh Indonesia,” ungkap Amran.

Menurutnya, arah pembangunan pertanian pun bergeser dari sekadar mengejar produksi menjadi membangun sistem pangan nasional yang tangguh, modern, efisien, dan berkelanjutan. Reformasi dilakukan menyeluruh melalui modernisasi pertanian, optimalisasi lahan, cetak sawah baru, Brigade Pangan, penguatan irigasi, hingga hilirisasi komoditas strategis.

“Kemerdekaan kini juga tercermin pada kemampuan bangsa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, menjaga kesejahteraan petani, dan berdiri tegak di tengah ketidakpastian global. Dari sawah-sawah yang kembali produktif hingga cadangan beras yang mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, Indonesia menunjukkan bahwa kedaulatan pangan bukan sekadar cita-cita, melainkan fondasi baru menuju Indonesia yang semakin kuat, mandiri, dan berdaulat,” pungkas Amran.

(dpu/dpu)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *