Home Finance China Kini Jadi OPEC Baru, Penguasa & Pemain Pasar Minyak Dunia
Finance

China Kini Jadi OPEC Baru, Penguasa & Pemain Pasar Minyak Dunia

Share
China Kini Jadi OPEC Baru, Penguasa & Pemain Pasar Minyak Dunia
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – China mulai menjelma menjadi penguasa baru pasar minyak dunia. 

Kemampuan Beijing mengatur pembelian, penyimpanan, hingga konsumsi minyak membuat keputusan negara tersebut semakin menentukan pergerakan harga energi global. Kekuatan itu terlihat ketika perang Iran memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.

Penutupan Selat Hormuz membuat sekitar 14 juta barel minyak mentah per hari tertahan di kawasan Teluk. Meski demikian, harga minyak tidak pernah menyentuh US$150 per barel seperti yang sempat diperkirakan banyak analis pada awal konflik.

Melansir dari The Economist, keputusan sejumlah negara memang membantu meredam dampaknya. 

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mengalirkan tambahan sekitar 5 juta barel per hari melalui jaringan pipa yang tidak melewati Hormuz. Amerika Serikat dan Jepang juga melepas sekitar 2 juta barel per hari dari cadangan darurat, sementara penjatahan energi di sejumlah negara berkembang menekan permintaan.

Impor Minyak China Anjlok, Pasokan dari Negara Teluk MerosotImpor Minyak China Anjlok, Pasokan dari Negara Teluk Merosot Foto: The Economist

Namun, harga minyak berpotensi melonjak jauh lebih tinggi tanpa perubahan besar yang terjadi di China. Sepanjang Februari hingga Juni 2026, negara tersebut memangkas impor minyak mentah hingga separuh atau sekitar 5,5 juta barel per hari.

Sejumlah pakar memperkirakan penurunan impor China membantu menahan harga Brent setidaknya US$30 per barel lebih rendah. Besarnya bahkan melampaui separuh penurunan permintaan minyak dunia saat pandemi Covid-19, ketika konsumsi global merosot sekitar 9 juta barel per hari.

Bedanya, penurunan kebutuhan minyak ketika pandemi disebabkan aktivitas ekonomi dunia yang terhenti. Kali ini, China mampu mengurangi impor secara drastis tanpa membuat ekonominya jatuh ke dalam resesi. Produk domestik bruto (PDB) China masih tumbuh 4,3% secara tahunan pada kuartal II-2026.

Kondisi tersebut memberi China kemampuan yang selama ini identik dengan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya. Jika OPEC+ berusaha menjaga harga dengan mengatur produksi, China dapat memengaruhi pasar dari sisi permintaan.

Posisi Beijing semakin kuat ketika OPEC+ tengah menghadapi perpecahan setelah keluarnya Uni Emirat Arab serta keterbatasan kapasitas produksi sejumlah negara Teluk. China juga memiliki satu keunggulan lain. Keputusan OPEC+ harus disepakati oleh 21 negara, sedangkan kebijakan energi China dapat dijalankan secara terpusat oleh pemerintah.

Tiga Senjata China Mengendalikan Pasar Minyak

Kemampuan China memangkas impor minyak tanpa menimbulkan kerusakan besar terhadap perekonomian bertumpu pada tiga instrumen utama.

1. Memanfaatkan Persediaan Minyak yang Besar

Senjata pertama adalah cadangan minyak nasional. Selama 12 bulan hingga awal 2026, ketika pasar menghadapi ancaman kelebihan pasokan dan harga minyak relatif murah, China membeli sekitar 200 juta barel untuk menambah persediaannya yang telah mencapai sekitar 1 miliar barel.

Pembelian tersebut diperkirakan ikut mengerek harga minyak dunia sekitar US$10-US$20 per barel sebelum perang Iran pecah. Dari impor China yang mencapai 11,6 juta barel per hari pada Februari, sekitar 1 juta barel per hari diperkirakan merupakan pembelian tambahan untuk mengisi tempat penyimpanan.

Setelah kiriman minyak terakhir dari Teluk sebelum perang tiba pada akhir April, China mulai menggunakan persediaan tersebut.

Data Vortexa menunjukkan inventaris minyak China turun sekitar 70 juta barel hingga Juli. Angka itu belum menghitung minyak yang disimpan di kapal dan lokasi penyimpanan lain yang tidak tercatat.

Jika seluruh tempat penyimpanan diperhitungkan, China diperkirakan telah menarik sekitar 150 juta barel dalam tiga bulan atau setara 1,5 juta barel per hari.

Ditambah penghentian pembelian 1 juta barel per hari untuk mengisi stok, pengelolaan persediaan menjelaskan sekitar 2,5 juta barel per hari dari total penurunan impor sebesar 5,5 juta barel per hari.

Sebagian besar minyak tersebut berasal dari persediaan komersial milik perusahaan minyak besar, bukan cadangan strategis pemerintah. Dalam kondisi normal, kilang harus mengganti stok yang digunakan dalam waktu satu bulan. Namun, kepemilikan negara membuat pemerintah dapat melonggarkan ketentuan tersebut dan memakai stok komersial untuk kepentingan nasional.

Strategi ini diperkirakan masih dapat dipertahankan sekitar empat bulan sebelum persediaan turun ke tingkat yang mulai membuat Beijing tidak nyaman. China pun masih memiliki cadangan strategis yang sejauh ini baru sedikit digunakan.

China Andalkan Cadangan Minyak, Persediaan Mulai MenyusutChina Andalkan Cadangan Minyak, Persediaan Mulai Menyusut Foto: The Economist

2. Menahan Ekspor Produk BBM

Senjata kedua adalah pengendalian ekspor. China merupakan negara pengolah minyak terbesar kedua dunia sekaligus salah satu pemasok utama produk bahan bakar bagi negara-negara Asia.

Pada Maret, pemerintah meminta kilang domestik berhenti menandatangani kontrak ekspor baru dan membatalkan sebagian kesepakatan yang telah dibuat. Hasilnya, ekspor produk minyak olahan China turun hampir separuh dari Februari hingga April menjadi sekitar 430.000 barel per hari.

Penurunan tersebut mencakup sekitar 180.000 barel per hari bahan bakar pesawat. Secara keseluruhan, pembatasan ekspor produk olahan diperkirakan menghemat kebutuhan minyak mentah kilang China sekitar 1,2 juta-1,8 juta barel per hari.

Langkah itu membuat lebih banyak produksi kilang tersedia bagi pasar domestik. Minyak mentah yang sebelumnya digunakan untuk menghasilkan produk ekspor juga dapat dialihkan untuk memproduksi nafta, liquefied petroleum gas (LPG), dan bahan bakar minyak yang biasanya didatangkan dari kawasan Teluk.

China Andalkan Cadangan Minyak, Persediaan Mulai MenyusutChina Pangkas Ekspor BBM untuk Amankan Pasokan Domestik Foto: The Economist

Kebijakan tersebut memang menekan keuntungan perusahaan pengolahan minyak karena margin ekspor lebih tinggi dibandingkan penjualan domestik. Namun, perusahaan kilang besar China dikuasai negara sehingga pemerintah dapat mengutamakan ketahanan pasokan daripada keuntungan jangka pendek.

3. Menekan Konsumsi Dalam Negeri

Besarnya pengurangan impor China tidak dapat dijelaskan hanya oleh persediaan dan pembatasan ekspor. Pemerintah juga menekan kebutuhan minyak di dalam negeri.

Pada Juni, kilang-kilang China mengolah minyak mentah 2,7 juta barel per hari lebih sedikit dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Produksi bensin turun 14%, sedangkan produksi solar dan bahan bakar pesawat sama-sama menyusut 21%.

Margin Ekspor Kilang China Jauh Lebih MenguntungkanMargin Ekspor Kilang China Jauh Lebih Menguntungkan Foto: The Economist

Ketika pemerintah membiarkan harga BBM naik, sebagian masyarakat perkotaan beralih dari kendaraan pribadi ke kereta bawah tanah, sepeda, dan taksi yang banyak menggunakan tenaga listrik. Selama libur nasional selama sepekan pada Mei, penggunaan fasilitas pengisian daya kendaraan listrik di jalan bebas hambatan melonjak hampir 55% dibandingkan tahun sebelumnya.

Kereta juga menggantikan sebagian perjalanan udara setelah jumlah penerbangan domestik dipangkas. Pemerintah daerah menunda sejumlah proyek infrastruktur sehingga konsumsi solar ikut berkurang.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan penggunaan bensin dan minyak tanah China selama dua bulan pertama perang turun sekitar 10% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Industri petrokimia juga melakukan penyesuaian. Perusahaan biasanya mengolah nafta dan LPG dari kawasan Teluk menjadi polimer seperti PVC, karet sintetis, nilon, dan poliester. Ketika pasokan bahan baku tersebut berkurang, perusahaan mulai menggunakan batu bara serta etana untuk menghasilkan sebagian produk yang sama.

Mengapa Ekonomi China Masih Bertahan?

Kemampuan China menghadapi kelangkaan minyak tidak terjadi dalam waktu singkat.

Investasi besar pemerintah pada energi terbarukan, kendaraan listrik, dan transportasi umum membuat sistem energinya lebih fleksibel dibandingkan negara lain.

Kelebihan kapasitas di sektor petrokimia juga menghasilkan persediaan polimer dan barang jadi dalam jumlah besar. Cadangan tersebut dapat digunakan ketika produksi baru harus dikurangi. Kondisi ini membantu menahan kenaikan harga produsen dan menjaga inflasi konsumen tetap terkendali.

Pertumbuhan ekonomi China memang melambat menjadi 4,3% pada kuartal II-2026, terendah sejak akhir 2022. Namun, perlambatan lebih banyak disebabkan lemahnya investasi dan dampak berkepanjangan dari krisis properti dibandingkan kelangkaan minyak.

Namun, kekuatan China tetap terbatas. Pengelolaan stok pada skala saat ini diperkirakan hanya dapat bertahan sekitar empat bulan lagi. Setelah itu, Beijing harus meningkatkan impor, menggunakan cadangan strategis, atau menekan konsumsi lebih dalam.

Berbeda dengan OPEC yang dapat memangkas produksi selama bertahun-tahun, China tidak mungkin terus mengurangi impor sebesar 5,5 juta barel per hari.

Meski belum bisa menggantikan OPEC, perang Iran membuktikan bahwa Beijing mampu memengaruhi harga dan menstabilkan pasar minyak dunia selama beberapa bulan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *