Home Finance Dulu Jual Durian Kini Bisnis AI, CEO Perusahaan Terancam Dicopot
Finance

Dulu Jual Durian Kini Bisnis AI, CEO Perusahaan Terancam Dicopot

Share
Dulu Jual Durian Kini Bisnis AI, CEO Perusahaan Terancam Dicopot
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan distributor durian asal Singapura, NutryFarm International, tengah menghadapi konflik internal setelah memutuskan masuk ke bisnis pusat data (data center) dan layanan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Sejumlah pemegang saham kini mendesak pencopotan CEO perusahaan, Niu Liming, dari jabatannya.

Mengutip VNExpress, Jumat (16/10/2026), desakan tersebut muncul di tengah upaya NutryFarm mengubah arah bisnisnya dari sektor makanan dan distribusi durian menuju layanan teknologi. Dalam keterbukaan informasi pada 11 Oktober 2026, NutryFarm mengungkapkan telah menerima surat keberatan dari sejumlah pemegang saham sehari sebelumnya.

Surat tersebut mempersoalkan hak suara yang akan digunakan Niu dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB). Hak suara yang dipermasalahkan itu berasal dari pemegang saham terbesar perusahaan, Jia Lijie, yang memberikan kewenangan kepada Niu untuk mewakilinya dalam pemungutan suara.

Perselisihan ini bermula ketika sekelompok pemegang saham dengan kepemilikan gabungan sebesar 10% mengajukan permintaan penyelenggaraan RUPSLB pada 9 Oktober 2026.

Menurut laporan The Straits Times, kelompok pemegang saham tersebut menginginkan Niu diberhentikan dari posisi direktur serta seluruh jabatan lainnya di dalam grup perusahaan. Mereka juga mengusulkan agar salah satu pemegang saham, Charlie In, diangkat menjadi anggota dewan direksi.

Selain itu, mereka meminta dewan mempertimbangkan penunjukan Charlie In sebagai CEO baru NutryFarm. Tidak berhenti di situ, kelompok pemegang saham yang sama turut mengirimkan surat tuntutan terpisah pada 9 Oktober.

Dalam surat tersebut, mereka mendesak agar Niu segera dicopot dari seluruh jabatan eksekutif dan tidak dilibatkan dalam pembahasan maupun pemungutan suara dewan terkait pencopotan nya. Menanggapi tuntutan itu, NutryFarm menyatakan tengah memeriksa berbagai tuduhan yang disampaikan para pemegang saham. Perusahaan juga sedang meminta nasihat hukum terkait surat-surat yang diterimanya.

Dari Bisnis Durian Beralih ke AI

Konflik internal ini terjadi ketika NutryFarm sedang berupaya membangun kembali bisnisnya sekaligus mengembalikan perdagangan saham di papan utama Bursa Singapura (Singapore Exchange/SGX).

Saham perusahaan diketahui telah dihentikan perdagangannya selama lebih dari empat tahun, tepatnya sejak April 2022.

Sebelum terjun ke bisnis teknologi, NutryFarm menjalankan usaha di sektor nutrisi dan makanan kesehatan. Perusahaan kemudian memperluas bisnisnya ke distribusi durian.

Namun, arah bisnis tersebut mulai berubah pada November 2024. Saat itu, NutryFarm mengumumkan anak usahanya, Global Agricapital (Singapore), telah berganti nama menjadi AI Nova.

Melalui entitas tersebut, perusahaan mulai menjajaki peluang bisnis layanan pengujian dan analisis teknis untuk pusat data. Pengumuman itu juga mengungkap adanya pinjaman sebesar 5 juta dolar Singapura atau sekitar US$3,9 juta dari perusahaan investasi Singapura, Alpha Hill.

Di tengah perubahan bisnis tersebut, posisi Niu menjadi sorotan karena struktur kepemilikan saham dan pengaruhnya dalam perusahaan. Meski secara langsung hanya memiliki 0,26% saham NutryFarm, Niu tercatat mempunyai kepentingan langsung dan tidak langsung dengan total mencapai 25,72%.

Angka tersebut mencakup kepemilikan saham sebesar 15,78% milik Jia Lijie, yang merupakan pemegang saham terbesar perusahaan. Sebelumnya, Niu juga pernah menyatakan dirinya merupakan kreditur terbesar NutryFarm ketika perusahaan menghadapi kesulitan keuangan.

Saat itu, NutryFarm disebut tidak memiliki kas dan kesulitan mempertahankan kendali atas sejumlah anak usaha di luar negeri. Hingga kini, perusahaan masih menelaah tuntutan para pemegang saham. Belum ada keputusan final mengenai pencopotan Niu maupun penunjukan CEO baru.

(hsy/hsy)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *