Surakarta, CNBC Indonesia – Masyarakat Kampung Margorejo, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, mulai mendapatkan akses air bersih. Melalui program Master Meter, sebanyak 50 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di kawasan padat penduduk tersebut kini menikmati layanan air perpipaan langsung ke dalam rumah.
Suwarno selaku Ketua RT 1 RW 10 kelurahan Gilingan menjadi salah satu yang merasakan manfaat program Master Meter. Dia mengaku dapat menghemat setelah mendapatkan air dari jaringan Master Meter dengan biaya rata-rata sebesar Rp 25 ribu per bulan.
“Ngirit sekali. Dulu (kebutuhan air) pakai galon. Sekarang tidak. Air direbut, didinginkan. Sebulan 4 galon. Bagi saya pengaruh sekali, bermanfaat sekali,” jelas dia di kediamannya, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Kamis (8/10/2026).
Dia berharap Master Meter dapat berkembang sebab program ini mendapatkan permintaan yang tinggi di masyarakat. Apalagi saat ini sedang musim kemarau di mana sumber air mulai berkurang.
“Seperti musim ini, kita ketar-ketir karena sumber air berkurang. Sekarang tidak khawatir lagi,” tegas Suwarno.
Diketahui program Master Meter dijalankan Coca-Cola Foundation Indonesia melalui kerja sama dengan PDAM Toya Wening Kota Solo dan Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) serta menggandeng Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Program yang berjalan sejak Oktober 2025 ini merupakan kombinasi dari sambungan PDAM dan sambungan yang berbasis masyarakat.
![]()
|
Dalam mekanismenya PDAM bertanggung jawab terhadap meter besar dari Master Meter yang dipasang sebelumnya jaringan distribusi ke masyarakat. Sementara itu masyarakat yang diwakili oleh KSM bertanggung jawab terhadap jaringan distribusi setelah meter.
Secara terpisah, Ketua Coca-Cola Foundation Indonesia Triyono Prijosoesilo menjelaskan akses dan kebutuhan air bersih masih menjadi tantangan masyarakat termasuk di kota-kota besar. Program Master Meter pun dirancang untuk menjembatani antara masyarakat dan air bersih.
Triyono menjelaskan Master Meter yang dikelola secara kolektif ini menjembatani sekitar 50 kepala keluarga di wilayah Margorejo. Sebanyak 50 kepala keluarga tersebut pun mendapatkan akses air bersih secara rutin.
“Tentunya mendukung pemberdayaan masyarakat dan menciptakan social infrastrukturnya sehingga pengelolaannya bisa berjalan. Alhamdulillah kelihatannya manfaatnya sudah mulai terasa,” ujar dia.
Sementara itu, Manajer Air Limbah PDAM Toya Wening Kota Solo Bayu Tunggul mengungkapkan Master Meter menyasar masyarakat dengan keterbatasan legalitas lahan dan kemampuan ekonomi. Melalui skema jaringan kolektif, masyarakat dapat memperoleh akses air minum dengan tarif yang lebih terjangkau.
“Kalau di Margorejo, kelurahan Gilingan itu banyak sekali rumah tinggal yang berada di posisi tanah PT KAI. Yang kedua bahwa kalau status tanahnya belum legal, kebanyakan kami memberi bantuan untuk hidran umum,” jelas Bayu.
Di samping itu Master Meter menjawab keterbatasan legalitas lahan dan ancaman kesehatan air tanah. Sebelum program ini masuk, warga setempat terpaksa mengandalkan sumur dangkal yang tinggi cemaran bakteri E. coli.
“Karena memang kalau mengandalkan sumur dangkal sekarang di kota Surakarta sudah banyak sekali sumo dangkal yang tercemar bakteri ecoli. Bahkan di kelurahan gilingan sendiri sebagai lokus penurunan angka stunting,” tambah dia.
Dia pun mengapresiasi fasilitas Master Meter tersebut. Apalagi selama setahun berjalan fasilitas tersebut, belum terdapat keluhan masyarakat terkait akses bersih.
“Semoga ke depan teman-teman foundation yang lain bisa menduplikasi ini. Karena memang salah satu tanggung jawab masyarakat pelibatan melalui teman-teman foundation itu,” pungkas Bayu.
(rah/rah)

Leave a comment