
Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melancarkan kritik tajam terhadap pihak-pihak yang menyerukan perlambatan pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Ia menyebut para kritikus tersebut sebagai “kekuatan-kekuatan negatif” yang sengaja menyebar skenario fiktif dan ketakutan.
Pernyataan itu dilontarkan Trump saat menjawab pertanyaan wartawan di lapangan golf miliknya di Doonbeg, Irlandia, terkait apakah industri AI perlu direm atau mendapat regulasi lebih ketat.
“Kita memimpin China dalam hal AI. Kita negara paling canggih di dunia, dan jujur saya ingin mempertahankannya karena siapa pun yang memenangkan AI adalah pemenangnya,” tegas Trump, dikutip dari Reuters, Senin (14/9/2026).
Meski membuka peluang penerapan sejumlah pembatas (guardrails), Trump menilai perdebatan soal ancaman AI digerakkan oleh pihak-pihak yang gemar menyebar ketakutan berlebihan.
Isu keselamatan AI memang tengah memanas di AS menyusul peringatan dari dua peneliti Anthropic bahwa teknologi mutakhir ini berpotensi memicu petaka besar, yakni kepunahan umat manusia di masa depan.
Penolakan terhadap infrastruktur data center AI juga terjadi di banyak negara bagian AS. Banyak masyarakat terdampak inovasi AI dan menyerukan pemberhentian pembangunan data center AI.
Berbeda dengan kekhawatiran tersebut, pemerintahan Trump pada periode keduanya justru tampil mesra dan merangkul raksasa-raksasa industri AI. Hubungan simbiosis ini terlihat dari aliran dana jumbo yang digelontorkan para eksekutif teknologi untuk mendukung kampanye Partai Republik menjelang Pemilu Kongres paruh waktu pada 3 November mendatang.
Salah satunya melalui America PAC, super PAC milik bos SpaceX Elon Musk, yang royal menyokong kandidat Republik untuk mendulang suara.
Kendati demikian, gesekan internal industri tetap terjadi. Pentagon sebelumnya sempat melontarkan peringatan dini terhadap model AI buatan Anthropic. Buntutnya, sejumlah pemimpin perusahaan teknologi justru mendesak adanya rem darurat bagi laju inovasi.
Kerangka Kerja 3 Tahap dari Anthropic
Akhir pekan lalu, CEO Anthropic Dario Amodei membeberkan kerangka kerja tiga tahap untuk memperlambat pengembangan model AI perbatasan guna menjinakkan risiko. Proposal ini langsung mendapat restu dari CEO OpenAI Sam Altman dan Elon Musk.
Namun, Amodei mengakui bahwa batu sandungan terbesar dari usulannya adalah persaingan sengit antara AS dan China. Dalam wawancara dengan CBS News, ia menyebut benturan kepentingan geopolitik ini sebagai “dilema paling sulit”.
“Insentif untuk unggul dan keunggulan militer yang didapat dari AI sangat besar, sehingga kemampuan untuk memverifikasi apakah pihak lawan berbuat curang harus sangat absolut,” ujar Amodei. “Itu pekerjaan bertahun-tahun, dan sejujurnya, saya tidak tahu apakah itu mungkin dilakukan.”
Di sisi lain, Jacob Coxon, mantan peneliti Anthropic yang mundur dan membunyikan alarm bahaya AI, mendesak Washington untuk tidak berjalan sendiri. Ia menilai koordinasi global mutlak diperlukan agar persaingan dengan China tidak berubah menjadi bumerang yang mematikan.
“Kita butuh koordinasi internasional, kalau tidak, kita hanya akan mengulang perlombaan senjata yang sama dengan China, dan itu sama-sama berbahaya,” pungkas Coxon.
(fab/fab)
Leave a comment