Jakarta, CNBC Indonesia – Ribuan warga Israel, termasuk kelompok pemukim dan aktivis sayap kanan, menggelar aksi demonstrasi besar-besaran dengan merangsek maju mendekati perbatasan Gaza. Massa menuntut pemerintah untuk membangun kembali pemukiman Yahudi di wilayah Palestina yang telah hancur lebur akibat perang tersebut.
Mengutip laporan CNA, Senin (20/07/2026), aksi demonstrasi tersebut pecah pada hari Mingguwaktu setempat. Para demonstran berkumpul di dekat perbatasan sebelum akhirnya berjalan kaki dalam jumlah besar menuju pagar pembatas yang menghadap langsung ke wilayah Gaza utara.
Pasukan keamanan Israel, yang terdiri dari tentara dan polisi, langsung dikerahkan dalam jumlah besar untuk memblokir akses ke area terlarang tersebut guna mencegah para peserta merangsek maju lebih jauh.
Massa yang membawa bendera Israel menegaskan bahwa tujuan aksi jalan kaki ini adalah untuk mendesak pemerintahan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu agar memberikan izin resmi untuk kembali ke Gaza. Rencana ini digulirkan lebih dari dua dekade setelah Israel mengevakuasi seluruh pemukimannya dari wilayah kantong tersebut berdasarkan rencana penarikan diri (disengagement plan) pada tahun 2005 silam.
“Kami berjalan hari ini untuk memberi tahu pemerintah Israel dan menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa tanah ini milik kami dan bahwa Gaza benar-benar milik kami dan bahwa kami ingin kembali ke sana,” kata Daniel Sellem, salah satu peserta aksi.
Sellem menyatakan harapan besarnya agar tekanan massa ini berhasil memaksa pemerintah mewujudkan kepulangan mereka dalam waktu dekat. Gerakan ini dinilai oleh kelompok pemukim sebagai langkah awal yang krusial untuk menguasai kembali wilayah tersebut secara permanen.
“Kami tinggal di sana sebelum mereka mengeluarkan kami pada tahun 2005.”
“Baru Permulaan”
Gerakan ini dipandang oleh para aktivis sayap kanan bukan sekadar protes sesaat, melainkan sebuah awal dari kampanye jangka panjang untuk memulihkan komunitas Yahudi di wilayah pesisir tersebut. Mereka mengklaim bahwa penarikan mundur pasukan dan warga Israel pada tahun 2005 hanyalah kebijakan yang bersifat sementara.
“Kami sedang melakukan pawai besar kembali ke Jalur Gaza, kembali ke tempat orang Yahudi tinggal selama ratusan, ribuan tahun,” terang Yechiel Greenblum salah satu peserta demonstrasi lainnya.
“Tidak ada alasan,” tandasGreenblum yang menilai orang Yahudi sangat bisa untuk kembali menetap di Gaza Utara.
Rentetan aksi unjuk rasa serupa sebelumnya juga telah berulang kali digelar untuk menekan pemerintahan PM Benjamin Netanyahu, yang tercatat sebagai salah satu pemerintahan paling sayap kanan dalam sejarah negara tersebut.
Langkah desakan ini tetap gencar disuarakan meskipun sebagian besar wilayah Gaza kini telah dinyatakan tidak dapat dihuni akibat perang yang telah berkecamuk selama lebih dari dua tahun.
Saat ini, pasukan militer Israel dilaporkan masih memegang kendali penuh atas lebih dari 60% wilayah Jalur Gaza. Kendati kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan kelompok Palestina Hamas telah ditandatangani, eskalasi kekerasan dan konflik bersenjata harian terpantau masih terus terjadi di wilayah perbatasan tersebut.
(tps/tps)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment