Home Finance Fenomena ‘Cash Paradox’ di India, 176 Miliar Uang Kertas Beredar
Finance

Fenomena ‘Cash Paradox’ di India, 176 Miliar Uang Kertas Beredar

Share
Fenomena ‘Cash Paradox’ di India, 176 Miliar Uang Kertas Beredar
Share




Jakarta, CNBC IndonesiaIndia tengah menghadapi fenomena unik di tengah pesatnya perkembangan pembayaran digital. Ketika masyarakat semakin sering menggunakan pembayaran digital, jumlah uang tunai yang beredar justru terus meningkat.

Mengutip BBC International, Selasa (15/9/2026), bank sentral India, Reserve Bank of India (RBI), kini mencatat sekitar 176 miliar lembar uang kertas beredar di masyarakat. Setiap tahun, RBI mencetak sekitar 28-30 miliar lembar uang kertas baru dalam enam pecahan, sementara sekitar 21 miliar lembar ditarik dari peredaran.

Besarnya jumlah uang fisik tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi RBI. Pasalnya, di saat yang sama, sistem pembayaran digital India berkembang sangat pesat.

Sistem pembayaran digital utama India, Unified Payments Interface (UPI), bahkan tengah menuju angka sekitar 1 miliar transaksi per hari. Namun, pertumbuhan transaksi digital tersebut tidak membuat kebutuhan terhadap uang tunai menghilang.

Deputi Gubernur RBI, Shirish Chandra Murmu ,menyebut kondisi tersebut sebagai “cash paradox” atau paradoks uang tunai. “Peredaran uang terus tumbuh dalam tingkat dua digit meskipun porsi uang tunai dalam transaksi individu menurun,” katanya.

Bukan Sekadar Alat untuk Belanja

Menurut ekonom Anirudh Tagat, fenomena tersebut menunjukkan bahwa uang tunai memiliki fungsi yang lebih luas dibandingkan sekadar alat pembayaran. Uang tunai dapat digunakan sebagai alat transaksi, penyimpan nilai, sekaligus perlindungan ketika terjadi kondisi darurat.

Pembayaran digital terutama menggantikan fungsi pertama, tetapi tidak serta-merta menghilangkan dua fungsi lainnya. Hal tersebut membantu menjelaskan mengapa masyarakat India tetap menyimpan uang fisik meskipun penggunaan aplikasi pembayaran semakin luas.

India sendiri memiliki jaringan distribusi uang tunai yang sangat besar. Uang kertas disalurkan melalui 19 kantor regional RBI, kantor cabang bank, lebih dari 250.000 ATM dan mesin pencair uang, serta jutaan agen perbankan yang melayani masyarakat di wilayah pedesaan dan kota-kota kecil.

Faktor lain juga ikut berperan. Penelitian yang dikutip BBC International menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi yang tidak tercatat, termasuk transaksi properti menggunakan uang tunai, dapat membuat pertumbuhan jumlah uang beredar lebih cepat dibandingkan transaksi yang tercatat secara resmi.

Dalam transaksi properti di India, pembayaran tunai masih ditemukan karena nilai acuan pemerintah untuk properti terkadang berada di bawah harga pasar. Kondisi ini dapat mendorong sebagian pembeli dan penjual untuk melaporkan nilai transaksi lebih rendah dan membayar selisihnya secara tunai.

Trauma Krisis dan Ketakutan Sistem Digital?

Ada pula faktor psikologis. Ketika pembayaran digital semakin mudah, masyarakat justru bisa semakin menyadari pentingnya memiliki uang tunai sebagai cadangan. Kekhawatiran terhadap gangguan listrik, serangan siber, perang, atau kegagalan sistem pembayaran digital membuat uang tunai kembali dipandang sebagai semacam asuransi untuk menghadapi situasi darurat.

Fenomena serupa juga terjadi di Eropa. Bank Sentral Eropa (ECB) mencatat jumlah uang kertas euro yang beredar meningkat dari sekitar €1 triliun pada 2016 menjadi €1,6 triliun tahun ini, meskipun penggunaan uang tunai dalam transaksi di toko menurun.

Bagi India, kondisi tersebut menciptakan dilema. RBI harus tetap mempertahankan infrastruktur uang tunai, sementara pada saat bersamaan pemerintah dan bank sentral terus mendorong digitalisasi pembayaran.

RBI bahkan memiliki pabrik kertas, empat percetakan uang serta fasilitas produksi tinta sendiri untuk memastikan pasokan mata uang tetap terjaga. Dengan lebih dari 550 juta orang menggunakan UPI, India telah menjadi salah satu contoh terbesar transformasi pembayaran digital di dunia.

Namun, perkembangan tersebut ternyata tidak membuat uang tunai kehilangan tempatnya. Pelajarannya, pembayaran digital mungkin mengubah cara masyarakat menggunakan uang, tetapi belum tentu menghilangkan keinginan mereka untuk menyimpan uang secara fisik.

Bagi banyak orang, uang tunai kini bukan hanya alat untuk bertransaksi. Tetapi juga menjadi cadangan ketika teknologi tidak bisa diandalkan.

(sef/sef)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *