
Jakarta, CNBC Indonesia – Situasi di kawasan Eropa Timur berada di ambang eskalasi berbahaya setelah sebuah rudal jelajah yang diduga milik Rusia berhasil menembus pintu gerbang NATO dan jatuh sekitar 90 km di dalam wilayah Polandia pada Kamis (30/07/2026) pagi. Ledakan rudal tersebut menghantam area terbuka dekat Desa Tarnawa-Kolonia, Provinsi Lublin, hingga memicu ledakan dahsyat dan memunculkan kawah raksasa di tengah ladang warga.
Mengutip laporan CNN International, Kamis (30/7/2026), Perdana Menteri Polandia Donald Tusk dalam rapat darurat pemerintah mengonfirmasi bahwa rudal yang melanggar ruang udara aliansi NATO tersebut teridentifikasi sebagai rudal jelajah jenis Kh-101 milik Rusia. Tusk menegaskan pihak militer sebetulnya telah bersiap untuk menembak jatuh proyektil tersebut jika terus melanjutkan penerbangannya, sembari terus mengoordinasikan situasi darurat ini kepada para komandan tinggi NATO.
“Semua indikasi menunjukkan bahwa proyektil itu adalah rudal jelajah Kh-101 milik Rusia. Kami bersiap untuk menembak jatuh rudal tersebut jika terus melanjutkan penerbangannya, dan para komandan NATO terus mendapatkan pembaruan informasi,” tegas Perdana Tusk.
Insiden penerobosan ruang udara NATO ini terjadi bersamaan saat Moskow melancarkan serangan udara masif yang menghantam berbagai wilayah di Ukraine. Tentara Polandia mengonfirmasi telah menyiagakan dan menerbangkan jet-jet tempurnya setelah mengamati sedikitnya selusin rudal meluncur di wilayah Ukraina barat dan berpotensi mengancam keamanan wilayah Polandia.
Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi meluncurkan serangan skala besar menggunakan senjata presisi tinggi jarak jauh dari darat, udara, dan laut beserta drone serang ke sasaran militer di Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut gempuran tersebut menggunakan lebih dari 70 rudal dan 280 drone, di mana 260 drone berhasil dicegat di tengah krisis amunisi pertahanan udara.
Dampak Pemboman Maut di Ukraina dan Pengungsian Warga
Gempuran masif Rusia ke wilayah Ukraina menewaskan sedikitnya delapan orang, termasuk anak-anak, serta melukai puluhan warga lainnya. Di Desa Radushne dekat kota Kryvyi Rih, sebuah rudal balistik menghancurkan rumah warga hingga menewaskan pasangan suami istri dan tiga anak mereka yang berusia 5 dan 12 tahun.
Di ibu kota Kyiv dan kawasan Poltava, serangan udara merusak puluhan rumah, fasilitas bisnis, hingga infrastruktur energi dan menewaskan warga sipil. Ratusan keluarga terpaksa mengungsi dan tidur di dalam stasiun kereta bawah tanah (metro) Kyiv menggunakan tenda seadanya untuk berlindung dari kejaran pemboman.
“Ada anak-anak di sini, ada banyak anak-anak. Kami telah mengeluarkan satu anak dan masih ada yang terbaring di bawah runtuhan,” tutur seorang saksi mata di lokasi kejadian Radushne yang disiarkan dalam video darurat.
Petugas penyelamat di Kota Lviv juga terus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan warga yang tertimbun di bawah reruntuhan bangunan tempat tinggal yang hancur. Rangkaian gempuran ini terjadi hanya dua hari pascakunjungan Presiden Zelenskyy ke Gedung Putih untuk meminta tambahan sistem pertahanan udara dari Presiden AS Donald Trump.
Di sisi lain, Ukraina melancarkan serangan drone balasan yang membakar gudang logistik milik raksasa e-commerce Rusia, Wildberries, di Kota Penza pada hari Kamis. Gubernur Wilayah Penza, Oleg Melnichenko, mengonfirmasi satu orang terluka dan sekitar 200 karyawan dievakuasi dari fasilitas tersebut.
Ukraina secara konsisten menargetkan pusat distribusi Wildberries yang dianggap sebagai padanan Amazon di Rusia guna mengganggu rantai pasokan logistik militer. Kyiv mengklaim fasilitas tersebut menjadi target militer yang sah karena memasok peralatan bagi pasukan garis depan Rusia, meski tuduhan tersebut dibantah oleh Moskow.
(tps/tps)
Leave a comment