
Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara tak bergerak di tengah kenaikan harga minyak dan kekhawatiran gangguan distribusi serta pasokan.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (10/8/2026) ditutup di US$ 134 per ton. Harganya tak bergerak.
Harga batu bara menguat ditopang minyak dan menipisnya pasokan.
Kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik 1,3% menjadi US$83,20 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent, yang menjadi patokan internasional, naik sekitar 1,4% menjadi US$88,91 per barel.
Minyak dan batu bara adalah komoditas yang saling substitusi sehingga harganya memengaruhi.
Turki Blokir Jalur Perdagangan
Turki mulai memblokir sejumlah kapal komersial untuk memasuki Laut Hitam menuju pelabuhan Rusia, Novorossiysk. Langkah ini semakin memperburuk gangguan di dua jalur perdagangan komoditas yang sebelumnya sudah terguncang akibat serangkaian serangan.
Direktorat Jenderal Keselamatan Pesisir Turki telah memberi tahu sejumlah kapal bahwa izin transit untuk pelayaran menuju Novorossiysk belum diterbitkan, sementara pengajuan izin melalui Selat Dardanella membutuhkan waktu lebih lama.
Kapal-kapal yang menuju pelabuhan Ukraina juga terdampak, sementara lalu lintas kapal menuju pelabuhan Bulgaria dan Turki masih berlangsung normal.
Pengetatan jalur transit ini memperparah penurunan tajam ekspor batu bara Rusia melalui pelabuhan-pelabuhan selatan.
Pengiriman batu bara ekspor melalui jalur kereta api ke pelabuhan Rusia mencapai 16,50 juta ton pada Juli, naik 13,01% secara tahunan, tetapi turun 1,58% dibandingkan Juni, berdasarkan data Metals & Mining Intelligence (MMI).
Namun, pengiriman menuju pelabuhan-pelabuhan selatan anjlok 31,18% secara bulanan menjadi 1,56 juta ton.
Sebaliknya, pelabuhan utara Lavna yang baru masuk dalam perhitungan menerima 356.000 ton, melonjak lebih dari 161% secara tahunan dan 547% dibandingkan Juni. Kenaikan tersebut sebagian didorong oleh gangguan di wilayah selatan.
Pelabuhan-pelabuhan di kawasan Baltik menangani 2,99 juta ton, atau sekitar 18% dari total pengiriman. Volume tersebut turun 5,83% secara bulanan, tetapi masih naik 10,67% secara tahunan.
MMI memperkirakan penurunan pengiriman melalui pelabuhan selatan akan berlanjut hingga Agustus. Biaya asuransi yang semakin tinggi dan semakin banyak perusahaan yang menolak pemesanan pengiriman melalui Laut Hitam membuat arus pengiriman beralih ke jalur lain.
Selain itu, pembatasan izin dari Turki diperkirakan memperlambat proses transit dan semakin menunda pergerakan kapal.
Pemulihan sebagian diperkirakan terjadi di pelabuhan Baltik serta jalur utara melalui Murmansk dan Lavna. Namun, jalur-jalur tersebut tidak dapat sepenuhnya menggantikan terminal-terminal di selatan. Di sisi lain, waktu pelayaran laut yang lebih panjang akan menekan margin keuntungan pengiriman.
Impor Batu Bara China Melandai Setelah Terbang?
Impor batu bara China melonjak ke level tertinggi sepanjang tahun ini pada Juli 2026. Namun, kenaikan tersebut dinilai menipu karena lebih banyak didorong faktor jangka pendek yang kemungkinan tidak akan bertahan lama.
Data resmi menunjukkan impor batu bara China mencapai 43,73 juta ton pada Juli, naik 23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut juga meningkat dari 42,78 juta ton pada Juni dan hampir sepertiga lebih tinggi dibandingkan titik terendah tahun ini sebesar 33,1 juta ton pada April.
Lonjakan impor terjadi setelah China memperketat inspeksi keselamatan tambang menyusul kecelakaan di sebuah tambang di Provinsi Shanxi pada 22 Mei yang menewaskan 82 orang.
Inspeksi keselamatan tambang biasanya menekan produksi di China, yang merupakan produsen batu bara terbesar dunia. Ketika pasokan domestik berkurang, China meningkatkan impor untuk menutup kekurangan tersebut.
Produksi batu bara domestik China pada Juni turun 9,7% secara tahunan menjadi 380,88 juta ton. Produksi rata-rata harian hanya mencapai 12,7 juta ton, terendah sejak Juli 2025.
Produksi kemungkinan juga masih tertekan pada Juli. Data resmi diperkirakan dirilis pekan depan. Namun, analis di China memperkirakan produksi Agustus akan kembali mendekati level 2025.
Artinya, kebutuhan China terhadap batu bara impor berpotensi mulai menurun sejak Agustus.
China mendapatkan batu bara dari dua sumber utama, yakni melalui jalur laut dan jalur darat dari negara tetangga, terutama Mongolia serta sebagian dari Rusia.
Impor melalui laut menyumbang sekitar 75% dari total impor batu bara China. Namun, porsinya terus menurun dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya pasokan dari Mongolia, terutama batu bara metalurgi untuk industri baja.
Analis DBX Commodities memperkirakan impor batu bara China melalui jalur laut pada Agustus mencapai 31,23 juta ton, turun dari 33,91 juta ton pada Juli. Jika terealisasi, ini menjadi penurunan pertama dalam empat bulan.
Angka tersebut masih dapat berubah seiring masuknya data kargo tambahan. Namun, tren awal menunjukkan impor Agustus kemungkinan berada di bawah Juli, menandakan kebutuhan impor China mulai mereda seiring berakhirnya inspeksi keselamatan tambang.
Prospek impor batu bara China dan harga batu bara laut juga sangat bergantung pada permintaan listrik.
Data resmi menunjukkan produksi listrik dari pembangkit termal China naik 2,9% pada semester I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pembangkit termal China sebagian besar menggunakan batu bara, dengan sebagian kecil menggunakan gas alam. Meski produksinya meningkat, porsi pembangkit termal terhadap total produksi listrik terus menurun seiring China mempercepat pembangunan pembangkit energi angin dan surya.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa lonjakan impor batu bara China pada Juli belum tentu menjadi tren baru. Jika produksi domestik kembali normal dan energi terbarukan terus berkembang, kebutuhan China terhadap batu bara impor berpotensi semakin melemah.
India Pangkas Penggunaan Batu Bara
Pembangkit listrik berbasis batu bara di India memangkas ketergantungan terhadap batu bara impor secara signifikan.
Dalam tiga tahun terakhir, impor batu bara yang digunakan untuk blending atau pencampuran dengan batu bara domestik oleh pembangkit listrik termal India turun hingga 71,5%.
Penurunan tersebut menunjukkan semakin kuatnya pemanfaatan batu bara domestik untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik India sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.
Langkah ini juga sejalan dengan upaya India memperkuat ketahanan energi dan menekan kebutuhan impor batu bara untuk sektor kelistrikan.
(mae/mae)
Leave a comment