
Jakarta, CNBC Indonesia – Ketegangan Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) dan kelompok Houthi Yaman melaporkan serangan terpisah terhadap kapal-kapal pada Selasa. Eskalasi terjadi ketika upaya mengakhiri perang Iran yang telah berlangsung selama lima bulan kembali menemui jalan buntu.
Melansir Reuters, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim telah menyerang kapal Saudi yang membawa peralatan militer di Selat Bab el-Mandeb. Kantor berita Saba yang dikelola Houthi melaporkan serangan itu dilakukan setelah kelompok tersebut pada 20 Juli menyatakan akan memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi di Laut Merah.
Kementerian Transportasi Yaman juga menyebut empat awak kapal kargo kecil tewas dalam dugaan serangan Houthi di Bab el-Mandeb. Kapal bernama Tihamah dan berbendera Mesir itu menjadi kapal pertama yang dilaporkan menelan korban jiwa akibat serangan Houthi sejak perang Iran dimulai.
Di sisi lain, militer AS mengatakan sebuah helikopter MH-60 Angkatan Laut AS menembakkan dua rudal Hellfire untuk melumpuhkan sistem kemudi kapal kargo berbendera Panama. Kapal tersebut disebut mengabaikan peringatan berulang kali untuk menghentikan pelanggaran terhadap blokade laut AS di sekitar pelabuhan Iran.
Sumber-sumber maritim mengatakan, kapal itu terkena tembakan ketika berada di lepas pantai Pakistan dan sedang menuju Teluk Oman. Insiden tersebut menambah risiko bentrokan di jalur pelayaran yang menjadi sangat penting bagi perdagangan energi dunia.
Ketegangan juga meningkat setelah pejabat senior keamanan Iran Mohsen Rezaei menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka selama Washington belum memenuhi tuntutan Teheran.
“Selama Amerika tidak mengubah perilakunya dan tidak menerima syarat-syarat Iran, Selat Hormuz tidak akan dibuka,” kata Rezaei, seperti dikutip Tasnim, Rabu (12/8/2026).
Tuntutan Iran mencakup pencairan aset negara yang dibekukan serta penghentian perang di seluruh kawasan, termasuk konflik di Lebanon dan Gaza. Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump meminta Iran membayar kompensasi bagi korban berbagai perang, serangan, dan aksi protes selama 50 tahun terakhir.
Trump sebelumnya beberapa kali mengancam eskalasi sekaligus mengisyaratkan peluang tercapainya kesepakatan damai. Namun, dalam wawancara dengan Real America’s Voice, ia mengakui ketidakpastian dapat berlangsung lebih lama.
“Saya sedang dalam proses negosiasi. Mereka adalah negosiator yang sangat licik,” ujar Trump.
Serangan tersebut turut memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global. Harga minyak Brent naik 1,4% menjadi US$88,91 per barel, sementara minyak mentah AS menguat 1,3% menjadi US$83,20 per barel.
Selat Hormuz menjadi titik paling krusial dalam konflik ini karena sebelum perang pecah, jalur tersebut menjadi rute bagi sekitar seperlima arus minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Dengan ribuan orang telah tewas sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, ancaman eskalasi semakin besar setelah penasihat Garda Revolusi Iran Mohammad Reza Naqdi mengatakan Teheran tengah mengembangkan kemampuan untuk menjalankan operasi “di wilayah musuh.”
(tfa/tfa)
Leave a comment