Home Finance Harga Batu Bara Suam-Suam Kuku, Ada Kuat Sentimen Penggerak
Finance

Harga Batu Bara Suam-Suam Kuku, Ada Kuat Sentimen Penggerak

Share
Harga Batu Bara Suam-Suam Kuku, Ada Kuat Sentimen Penggerak
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga batu bara acuan Newcastle mengakhiri perdagangan Jumat (31/7/2026) di US$134,00 per ton. Harga turun tipis US$0,05 atau 0,04% dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Secara mingguan, batu bara melemah US$1,40 atau 1,03% dari posisi US$135,40 per ton pada akhir pekan sebelumnya.

Tekanan jual langsung terlihat pada awal pekan. Harga batu bara jatuh 2,14% ke US$132,50 pada Senin, kemudian kembali turun 1,25% menjadi US$130,85 pada Selasa.

Batu bara kemudian melonjak 3,55% ke US$135,50 pada Rabu. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Harga turun 1,07% menjadi US$134,05 pada Kamis dan melemah tipis ke US$134,00 pada Jumat.

Sepanjang pekan, penutupan tertinggi tercatat di US$135,50 dan terendah di US$130,85. Rentang pergerakannya mencapai US$4,65 atau sekitar 3,43%, menunjukkan volatilitas masih tinggi.

Permintaan Asia Menjadi Penahan

Meskipun berakhir melemah, permintaan dari Asia masih memberikan penopang bagi harga batu bara.

Impor batu bara termal Asia diperkirakan meningkat selama tiga bulan berturut-turut pada Juli. Kenaikan terutama berasal dari China, Jepang, dan Korea Selatan yang meningkatkan pembelian untuk menghadapi puncak kebutuhan listrik musim panas.

Impor Jepang diperkirakan mencapai 10,46 juta ton pada Juli, naik dari 7,51 juta ton pada Juni. Sementara itu, impor Korea Selatan diproyeksikan meningkat menjadi 8,54 juta ton dari 6,08 juta ton.

Peningkatan permintaan tersebut sempat membawa indeks mingguan batu bara Newcastle berkalori 6.000 kilokalori per kilogram menuju level tertinggi dalam empat pekan. Economic Times

China juga masih menjadi motor utama. Impor batu bara termal Negeri Panda mencapai 30,60 juta ton pada Juni, melonjak 38,3% dibandingkan Mei dan menjadi posisi tertinggi sejak Februari.

Pembelian batu bara Australia oleh China bahkan melesat 91,3% secara bulanan menjadi 6,36 juta ton. Permintaan meningkat karena konsumsi listrik tinggi, sementara harga batu bara impor kembali kompetitif dibandingkan pasokan domestik. APBI-ICMA

India Masih Lemah, tetapi Stok Mulai Menipis

Berbeda dengan negara Asia lainnya, permintaan impor India masih tertahan. Impor batu bara termal India diperkirakan turun menjadi sekitar 10,88 juta ton pada Juli, dari 12,30 juta ton pada Juni. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak Agustus tahun lalu.

Harga batu bara internasional yang masih tinggi dan pasokan domestik yang melimpah membuat pembeli India menahan impor.

Namun, terdapat peluang permintaan kembali meningkat. Persediaan batu bara di pembangkit listrik India turun menjadi sekitar 13-14 hari konsumsi pada akhir Juli. Sebanyak 29 dari 190 pembangkit yang dipantau juga berada dalam kondisi persediaan kritis.

Di saat bersamaan, pembangkitan listrik berbasis batu bara India meningkat 14% secara tahunan pada Juni, sedangkan pembangkitan hidro turun 20%. Jika stok terus berkurang dan harga impor mulai lebih menarik, India berpotensi kembali aktif di pasar internasional.

Perang Ikut Menopang, Ekonomi China Jadi Ancaman

Konflik di Timur Tengah turut memberikan dukungan terhadap batu bara. Gangguan pasokan gas alam cair atau LNG membuat sejumlah negara Asia kembali meningkatkan penggunaan batu bara untuk menjaga keamanan energi.

India membakar lebih banyak batu bara untuk memenuhi permintaan listrik. Korea Selatan juga meningkatkan pembangkitan batu bara, sementara Jepang menambah pengadaan sebagai langkah antisipasi terhadap gangguan LNG.

Namun, perang juga memiliki sisi negatif. Kenaikan harga minyak dan biaya angkut dapat membuat batu bara impor semakin mahal, khususnya bagi India dan negara berkembang lainnya.

Dari China, aktivitas manufaktur pada Juli juga kembali mengalami kontraksi. Indeks manajer pembelian atau PMI manufaktur turun menjadi 49,2 dari 50,3 pada Juni. Indeks pesanan baru bahkan jatuh ke 48,5, terendah sejak 2023.

Perlambatan manufaktur dan sektor properti dapat membatasi permintaan energi industri sehingga menjadi risiko bagi kenaikan batu bara berikutnya.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/luc)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *