Home Finance Harga CPO Mulai Bangkit, Tapi Banyak Kabar Buruk
Finance

Harga CPO Mulai Bangkit, Tapi Banyak Kabar Buruk

Share
Harga CPO Mulai Bangkit, Tapi Banyak Kabar Buruk
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) mulai membaik setelah melandai pada akhir pekan lalu.

Harga CPO melemah pada penutupan perdagangan Jumat (2/10/2026), memperpanjang penurunan menjadi enam sesi berturut-turut. Harga mulai bergerak naik pada perdagangan pagi ini, Senin (5/10/2026), meski penguatannya masih terbatas.

Merujuk data Refinitiv, harga CPO kontrak acuan di Bursa Malaysia Derivatives ditutup di posisi MYR 4.535 per ton pada Jumat, turun MYR 19 atau 0,42% dibandingkan penutupan sebelumnya di 4.554 per ton.

Sepanjang pekan lalu, harga CPO melemah sekitar 2,93% dari posisi MYR 4.672 per ton pada Jumat (25/9/2026). Pelemahan tersebut menjadi penurunan mingguan kedua berturut-turut.

Sementara itu, pada perdagangan Senin (5/10/2026) hingga pukul 10.30 WIB, harga CPO bergerak di posisi MYR 4.537 per ton, naik tipis MYR 2 atau 0,04% dibandingkan penutupan Jumat.

Ekspor Melemah, Stok Membayangi

Tekanan harga pekan lalu dipicu oleh lemahnya ekspor Malaysia serta kekhawatiran terhadap peningkatan persediaan.

Mengutip Reuters, survei Intertek Testing Services dan AmSpec Agri Malaysia menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia sepanjang September turun antara 17,1% hingga 28,8% dibandingkan Agustus.

Seorang trader di Kuala Lumpur menyebut produksi meningkat tajam pada September. Kondisi tersebut memunculkan perkiraan bahwa stok akhir dapat meningkat hingga lebih dari 3 juta ton, sehingga menambah tekanan terhadap harga.

Pada perdagangan Senin pagi, penguatan minyak kedelai di Chicago memberikan dukungan bagi CPO.

Reuters melaporkan harga minyak kedelai naik 0,48%. Kedua komoditas tersebut bersaing di pasar minyak nabati global, sehingga pergerakan harganya kerap saling memengaruhi.

juga melemah 0,07% terhadap dolar AS. Pelemahan mata uang Malaysia membuat minyak sawit relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.

Meski demikian, penurunan harga minyak mentah membatasi penguatan CPO. Bertambahnya ekspor minyak dari Timur Tengah dan pelepasan cadangan minyak negara-negara G7 menambah pasokan, di tengah kekhawatiran mengenai kerusakan infrastruktur minyak akibat perang Iran.

Harga minyak mentah yang lebih rendah mengurangi daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel.

Tren Penurunan Harga CPO Belum Berakhir

Dari sisi teknikal, analis Reuters Wang Tao menilai harga minyak sawit masih bergerak dalam kanal penurunan.

Harga berpotensi menguji level support atau batas bawah di MYR 4.499 per ton. Jika level tersebut ditembus, pelemahan dapat berlanjut menuju MYR 4.445 per ton.

Sebaliknya, penembusan level MYR 4.567 dapat menjadi sinyal pembalikan tren dan membuka peluang penguatan menuju rentang MYR 4.588-4.622 per ton.

Wang menilai penutupan perdagangan Senin akan menjadi penentu arah berikutnya. Penutupan di atas MYR 4.529 dapat mengonfirmasi pola pembalikan naik, sementara penutupan di bawahnya berpotensi menunjukkan berlanjutnya tren penurunan.

RI Uji Pemantauan Ekspor

Dari Indonesia, Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) mulai menguji platform National Data Intelligence (NADI) untuk meningkatkan transparansi ekspor komoditas, termasuk minyak sawit.

Mengutip Reuters, platform tersebut memasuki tahap uji coba pada Kamis (1/10/2026). Pemantauan awal dilakukan terhadap pengiriman sejumlah eksportir terpilih sebelum diterapkan secara bertahap kepada eksportir lainnya.

Data yang dikumpulkan mencakup volume ekspor, harga, pengiriman, dan rekonsiliasi penyelesaian transaksi. Informasi tersebut akan dianalisis untuk mendeteksi ketidaksesuaian sekaligus memperkuat pengawasan penerimaan ekspor Indonesia.

(slm/slm)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *