
Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas dunia bergerak liar di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta ketidakpastian arah suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Jumat (16/10/2026) ditutup di posisi US$ 4165 per troy ons atau melemah 0,13%.
Dalam sepekan, harga emas jatuh 0,69% pada pekan lalu.
Pada perdagangan hari ini, Senin (19/10/2026) pukul 06.23 WIB harga emas menguat 0,25% ke US$ 4175,27 per troy ons.
Harga Emas Pekan Ini, Melemah atau Terbang?
Pergerakan tersebut membuat prospek emas pekan ini sulit ditebak. Berdasarkan survei Kitco News, hanya 33% responden yang memperkirakan harga emas akan menguat. Sebanyak 17% memprediksi harga bakal turun, sementara 50% lainnya memperkirakan emas bergerak mendatar atau memilih tidak mengambil posisi.
Kubu bearish memperingatkan bahwa tekanan inflasi dan potensi kenaikan suku bunga The Fed dapat kembali menyeret harga emas ke level yang lebih rendah.
James Stanley, analis strategi senior Forex.com, menilai emas masih berpeluang melanjutkan koreksi karena grafik harga menunjukkan tren penurunan. Kendati demikian, ia tetap optimistis dan melihat US$4.000 sebagai level support paling penting.
Sementara itu, Alex Kuptsikevich, analis senior FxPro, memperkirakan harga emas berpotensi mencapai US$4.400-US$4.500 per troy ounce dalam beberapa pekan mendatang.
Menurutnya, ketidakpastian politik AS menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections dapat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai.
Namun, proyeksi tersebut belum menjadi konsensus pasar. Dalam survei Kitco News, separuh responden justru memperkirakan harga emas bergerak sideway atau memilih menunggu perkembangan pasar sebelum mengambil posisi.
Inflasi AS Jadi Ancaman, Emas Bisa Terkoreksi Lagi
Di sisi lain, tekanan inflasi membuat prospek emas semakin rumit.
Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) AS melonjak 1,3% secara bulanan pada September 2026, kenaikan terbesar sejak Maret 2022. Secara tahunan, inflasi produsen mencapai 6,3%, tertinggi sejak Desember 2022.
Harga energi menjadi pendorong utama. Harga energi untuk permintaan akhir naik 10,8%, sedangkan harga bensin melonjak 20,3%.
Data tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa The Fed masih harus mempertahankan kebijakan moneter ketat, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Adam Button, kepala strategi mata uang investingLive, menilai ekspektasi pasar terhadap jalur suku bunga The Fed berpotensi terlalu optimistis. Menurutnya, tekanan inflasi terbaru merupakan persoalan serius yang belum sepenuhnya diperhitungkan pasar.
Bagi emas, kondisi ini menjadi ancaman. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, emas cenderung tertekan ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkat.
Fawad Razaqzada, analis StoneX Bullion, juga memperingatkan bahwa belum ada sinyal kuat yang memastikan koreksi emas telah berakhir. Meski harga sempat bertahan di sekitar US$4.100, ia menilai level resistance di atasnya masih cukup kuat.
Level Kunci: US$4.000 Jadi Benteng Pertahanan
Secara teknikal, level US$4.000 menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Meski peluang rebound masih terbuka, harga emas perlu menunjukkan kemampuan bertahan di atas support dan menembus resistance terdekat untuk memperkuat prospek bullish.
The Fed Jadi Penentu Arah Emas
Komentar Ketua The Fed Kevin Warsh turut memengaruhi pergerakan emas. Pasar menangkap bahwa belum ada sinyal jelas mengenai kenaikan suku bunga pada Oktober, sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat berkurang.
Menurut data CME FedWatch yang dikutip dalam laporan, mayoritas pelaku pasar memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada Oktober. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan sekitar 90%.
Pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga akan menjadi penentu. Dolar yang melemah serta penurunan imbal hasil obligasi dapat memberikan ruang bagi emas untuk menguat. Sebaliknya, dolar yang kembali perkasa dan kenaikan yield berpotensi menekan harga logam mulia tersebut.
Colin Cieszynski dari SIA Wealth Management memilih bersikap netral terhadap emas untuk pekan ini. Ia menilai harga emas masih bergerak di sekitar US$4.200 tanpa katalis yang cukup kuat untuk menentukan arah selanjutnya.
Adrian Day, Presiden Adrian Day Asset Management, juga memperkirakan harga emas relatif tidak berubah dan masih bergerak dalam rentang terbatas.
Dengan inflasi yang tetap tinggi dan arah kebijakan The Fed yang belum pasti, harga emas diperkirakan masih menghadapi volatilitas tinggi. Pasar kini menunggu apakah level US$4.000 mampu menjadi pijakan untuk reli berikutnya atau justru menjadi awal dari koreksi yang lebih dalam.
Leave a comment