Home Finance Harga Minyak Dunia Ambruk Sepekan, Turun di Bawah US$85/Barel
Finance

Harga Minyak Dunia Ambruk Sepekan, Turun di Bawah US$85/Barel

Share
Harga Minyak Dunia Ambruk Sepekan, Turun di Bawah US/Barel
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak mentah dunia mengalami tren penurunan sepanjang pekan ini, walaupun pada perdagangan terakhir harga minyak mentah melonjak.

Berdasarkan Refinitiv pada penutupan perdagangan Jumat (7/8/2026), harga minyak Brent berada di US$83,55 per barel, naik 1,06% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,15% menjadi US$78,18 per barel.

Secara mingguan, kinerja masing-masing acuan minyak mentah terkoreksi dalam 7,29% dan 7,67%.



Harga minyak mentah tersengat karena dinamika Selat Hormuz. Iran bersama Oman sedang membahas aturan baru yang berpotensi membatasi kapal-kapal yang dianggap bermusuhan untuk melintas di jalur tersebut. Rancangan aturan itu bahkan memuat usulan denda hingga 20% dari nilai muatan bagi kapal yang melanggar.

Selain itu, Iran mengusulkan pungutan sekitar 5%-7% dari nilai kargo bagi kapal yang melewati Selat Hormuz. Oman dikabarkan mengusulkan tarif sekitar 3%, sedangkan Amerika Serikat menginginkan lalu lintas tetap bebas tanpa pungutan.

Rencana tersebut memicu keraguan pelaku pasar terhadap prospek normalisasi pengiriman minyak. Empat sumber industri yang dikutip Reuters menyebut skema tersebut sulit diterapkan karena masih terbentur sanksi Amerika Serikat terhadap Iran serta klausul asuransi yang membatasi mekanisme pembayaran.

Penekan harga minyak terjadi pada perdagangan Selasa, Brent ditutup merosot 5,3% ke US$79,36 per barel, level terendah sejak 13 Juli. WTI bahkan turun 5,7% menjadi US$75,77 per barel, juga menjadi posisi terendah dalam sekitar tiga pekan.

Aksi jual dipicu pernyataan pejabat AS dan Qatar yang mengindikasikan adanya kemajuan dalam pembicaraan terkait Iran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan negosiasi dengan Iran dan Oman mengenai peningkatan lalu lintas kapal di Selat Hormuz mengalami perkembangan, meski kesepakatan final belum tercapai. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menyebut pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut berpeluang disepakati dalam waktu dekat.

Dari Doha, Kementerian Luar Negeri Qatar menyampaikan upaya mencari solusi diplomatik masih berlangsung. Emir Qatar dan Presiden AS Donald Trump juga disebut membahas langkah-langkah untuk meredakan ketegangan sekaligus menyelaraskan posisi Washington dan Teheran.

Harapan terhadap solusi diplomatik membuat pelaku pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang selama beberapa bulan terakhir mendorong harga minyak tetap tinggi. Jika pembicaraan berlanjut dan menghasilkan kesepakatan, risiko gangguan pasokan dari kawasan Teluk diperkirakan berkurang sehingga tekanan terhadap harga minyak dapat berlanjut.

Meski demikian, kondisi di lapangan belum banyak berubah. Arus kapal melalui Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb masih berada pada level yang sangat rendah. Gangguan distribusi melalui Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia, masih membatasi ekspor energi dari kawasan tersebut. Kepala perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, bahkan menyebut dunia telah kehilangan lebih dari 2,6 miliar barel pasokan minyak sejak perang Iran pecah pada Februari lalu.

Sebelum koreksi tajam pekan ini, harga minyak sempat melonjak hingga menembus US$100,69 per barel untuk Brent pada 23 Juli. Namun, dalam waktu kurang dari dua pekan, Brent telah terkoreksi lebih dari 20% hingga berada di kisaran US$79 per barel, mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap risiko pasokan global.

Di tengah volatilitas tersebut, Goldman Sachs masih memperkirakan Brent akan bergerak dalam kisaran US$80-90 per barel sampai ada kepastian mengenai kesepakatan baru antara AS dan Iran atau terjadi eskalasi konflik yang lebih besar.

(ras/ras)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *