Home Finance Harga Telur Sempat Jatuh ke Rp17.100/kg, Peternak Teriak Minta Tolong
Finance

Harga Telur Sempat Jatuh ke Rp17.100/kg, Peternak Teriak Minta Tolong

Share
Harga Telur Sempat Jatuh ke Rp17.100/kg, Peternak Teriak Minta Tolong
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Indonesia disebut sudah mencapai swasembada telur. Namun, di tengah capaian tersebut, peternak ayam petelur rakyat justru meminta pemerintah turun tangan karena usaha mereka semakin tertekan.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) wilayah Jawa Tengah, Suwardi, mengatakan peternak rakyat selama ini ikut menopang ketahanan pangan dengan memproduksi telur. Namun, kondisi usaha sejak April 2026 tidak lagi seimbang.

“Kami sampaikan bahwa saat ini dengan produksi telur dari rakyat kita sudah mencapai swasembada telur,” kata Suwardi dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Komisi IV DPR RI, Rabu (7/10/2026).

“Namun bagi kami sejak bulan April 2026 sampai dengan hari ini, bahwa biaya ongkos produksi dan hasil produksi sangat tidak balance,” lanjut dia.

Masalahnya, biaya pakan terus meningkat, sementara harga telur justru berada di bawah harga acuan pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah. Suwardi menyebut harga telur di tingkat peternak rata-rata hanya Rp19.000-Rp20.000 per kg sejak April, sedangkan HAP di tingkat peternak berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) Nomor 6 Tahun 2024 sebesar Rp26.500 per kg.

Bahkan, katanya, harga telur sempat jatuh ke Rp17.100 per kg pada Juni 2026. Kondisi itu membuat peternak diperkirakan mengalami kerugian Rp5.000-Rp7.000 per kg setiap hari.




Peternak memanen telur di salah satu peternakan ayam petelur di Gunung Sindur, Jawa Barat, Rabu (24//5). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Peternak memanen telur di salah satu peternakan ayam petelur di Gunung Sindur, Jawa Barat, Rabu (24//5). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Peternak memanen telur di salah satu peternakan ayam petelur di Gunung Sindur, Jawa Barat, Rabu (24//5). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Di sisi lain, peternak menghadapi mahalnya bahan baku pakan. Jagung, yang porsinya mencapai 50% dalam pakan, saat ini disebut berada di kisaran Rp7.500-Rp8.000 per kg. Berdasarkan perhitungan peternak, biaya formulasi pakan mencapai Rp8.155 per kg.

Tekanan tersebut membuat sebagian peternak bahkan tidak mampu mempertahankan ayamnya.

“Bahkan hari ini ada sebagian teman-teman kami yang kandangnya sudah melompong kosong. Karena sudah tidak sanggup lagi untuk ngasih pakan ayam itu,” ujar Suwardi.

Menurut Suwardi, kondisi tersebut ironis karena peternak rakyat justru menjadi bagian dari upaya pemerintah mencapai swasembada telur. Karena itu, mereka meminta pemerintah tidak hanya menjaga produksi, tetapi juga memastikan hasil produksi peternak terserap.

“Telur-telur kami menumpuk. Saya piara ayam, telurnya sampai kita buang. Karena nggak ada yang beli, harganya murah,” sebutnya.

Para peternak pun berharap telur dapat diserap melalui program pemerintah, termasuk bantuan pangan. Mereka juga meminta pemerintah menjamin pasokan jagung. Untuk periode Oktober 2026-Februari 2027, peternak memperkirakan membutuhkan setidaknya 223.000 ton jagung untuk pakan.

“Harapan dari kami, tolong disediakan jagung untuk kami dengan harga yang seimbang. Sehingga kami bisa terus untuk melanjutkan usaha kami, peternak ayam untuk menghidupi keluarga kami,” pungkas dia.

(wur)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *