Jakarta, CNBC Indonesia – Fenomena baru terjadi di China. Bahkan menjadi tantangan baru pemerintah untuk menghidupkan kembali konsumsi domestik.
Reuters Kamis (16/7/2026) melaporkan bagaimana gagal bayar utang rumah tangga di Negeri Tirai Bambu melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah. Sementara perlambatan ekonomi dan lesunya pasar tenaga kerja membuat semakin banyak warga kesulitan memenuhi kewajiban finansialnya.
Salah satunya dialami Jack Chen, pekerja perawatan jaringan telekomunikasi berusia 27 tahun asal Provinsi Jiangsu. Setelah perusahaan tempatnya bekerja memangkas gaji dan menghapus tunjangan bahan bakar tahun ini, beban utangnya terus membengkak hingga sekitar 140.000 yuan (sekitar Rp 337 juta) atau setara dengan penghasilan selama hampir satu tahun.
Padahal, Chen mengaku telah memangkas seluruh pengeluarannya dan hanya menyisakan kebutuhan pokok seperti makanan, sewa tempat tinggal, serta bahan bakar kendaraan. “Utang saya terus bergulung dan semakin besar,” ujarnya.
Kisah Chen kini menjadi potret yang semakin umum di China. Di tengah pasar tenaga kerja yang melemah dan krisis properti yang berkepanjangan, angka gagal bayar pinjaman konsumen melonjak ke rekor tertinggi.
Para analis memperkirakan kondisi tersebut masih akan memburuk, terutama bagi masyarakat berpendapatan rendah. Ironisnya, situasi ini terjadi ketika Beijing justru tengah mendorong masyarakat untuk lebih banyak berbelanja dan meminjam uang guna menopang konsumsi domestik sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi.
Data resmi yang dirilis pekan ini menunjukkan ekonomi China hanya tumbuh 4,3% pada kuartal II-2026, laju paling lambat dalam lebih dari tiga tahun. Lemahnya konsumsi domestik menjadi salah satu faktor yang menghambat pemulihan ekonomi, meski sektor manufaktur dan ekspor masih menunjukkan ketahanan.
Di sisi lain, People’s Bank of China (PBOC) telah berulang kali meminta bank-bank komersial meningkatkan penyaluran kredit kepada masyarakat. Akan tetapi, perbankan justru memperketat persyaratan pinjaman karena khawatir terhadap meningkatnya risiko kredit macet.
Data terbaru juga menunjukkan pinjaman rumah tangga jangka pendek turun 7% secara tahunan pada Juni. Ini menandakan permintaan kredit masyarakat masih sangat lemah.
“Nasabah yang memiliki kualitas kredit baik mulai mengurangi penggunaan kartu kredit mereka,” kata analis perbankan Moody’s, Nicholas Zhu.
“Sebaliknya, konsumen dengan kualitas kredit lebih rendah tetap aktif meminjam, sehingga meningkatkan risiko aset bagi para pemberi pinjaman,” tambahnya.
Lembaga riset Gavekal Dragonomics mencatat total kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) rumah tangga China melonjak lebih dari 20% sepanjang tahun lalu. Angkanya kini menjadi 2,22 triliun yuan atau sekitar US$324,5 miliar.
Nilai tersebut setara sekitar 1,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB) China. Menurut lembaga tersebut, angka itu mengindikasikan sebanyak satu dari sepuluh orang dewasa di China tercatat menunggak pembayaran utang selama 2025.
Kebijakan Pelonggaran Kredit
Sejumlah pelaku industri perbankan menilai lonjakan kredit bermasalah dipicu kebijakan pelonggaran penyaluran kredit tahun lalu yang dilakukan pemerintah demi mengejar target peningkatan konsumsi. Akibatnya, banyak bank kini mengubah model penilaian kredit.
Seorang pejabat kredit di bank menengah China mengatakan institusinya kini lebih menitikberatkan stabilitas pendapatan peminjam dibandingkan kepemilikan aset seperti rumah atau properti. Bank-bank juga berupaya menahan lonjakan kredit macet dengan menawarkan restrukturisasi pinjaman, perpanjangan tenor, hingga memberikan waktu kepada debitur untuk menjual aset sebelum pinjaman dikategorikan bermasalah.
“Kami berkomunikasi lebih dulu dengan nasabah. Jika mereka belum mampu membayar pokok pinjaman, kami melihat apakah mereka masih bisa membayar bunga atau sebagian bunga. Dengan begitu pinjaman belum langsung diklasifikasikan sebagai kredit macet,” ujar seorang pegawai bank di China, mengakui kondisi keterlambatan pembayaran pinjaman ritel kini sudah sangat serius.
Data juga menunjukkan lima bank milik negara terbesar di China mengalami kenaikan rasio kredit bermasalah untuk pinjaman individu sepanjang tahun lalu. Bank of Communications mencatat kenaikan tertinggi menjadi 1,58%, sementara China Merchants Bank, salah satu bank ritel terbesar di negara itu, melaporkan rasio NPL pinjaman pribadi naik menjadi 1,14% pada kuartal I-2026.
Meski demikian, pemerintah China belum mengubah arah kebijakannya. Awal tahun ini Beijing bahkan meningkatkan subsidi bagi masyarakat yang mengambil kredit konsumsi menjadi maksimal 3.000 yuan per orang serta memperluas cakupan program hingga mencakup cicilan kartu kredit.
Lemahnya Pendapatan Masyarakat?
Namun sejumlah ekonom menilai akar persoalan bukan terletak pada akses pembiayaan, melainkan lemahnya pendapatan masyarakat. Ekonom TS Lombard, Minxiong Liao, mengatakan peningkatan konsumsi tidak bisa hanya mengandalkan kredit murah apabila pertumbuhan pendapatan rumah tangga masih stagnan.
“Mendorong rumah tangga mengambil kredit lebih murah ketika pendapatan mereka tidak bertumbuh justru berisiko memperparah masalah gagal bayar,” ujarnya
(sef/sef)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment