Jakarta, CNBC Indonesia – Sebuah kebijakan perubahan menu makanan gratis di sejumlah sekolah negeri di negara bagian Benggala Barat, India Timur, secara mengejutkan memicu badai politik dan kekhawatiran massal. Pihak pemerintah daerah yang baru terpilih secara resmi memutuskan untuk menghapus menu telur dari program makan siang siswa, dan menggantinya dengan paket makanan vegetarian murni.
Mengutip laporan CNA yang memuat agensi, Selasa (14/7/2026), langkah radikal ini diambil setelah pemerintah nasionalis Hindu yang baru memenangkan pemilu regional pada Mei lalu menyerahkan mandat pengelolaan program kepada sebuah yayasan keagamaan. Kebijakan ini langsung menghidupkan kembali perdebatan panjang terkait korelasi antara pangan, keyakinan iman, serta pemenuhan gizi anak di negara dengan populasi terbanyak di dunia tersebut.
Kritik tajam segera berdatangan dari berbagai pihak yang menuduh pemerintah sengaja memanfaatkan program pendidikan untuk memaksakan gaya hidup vegetarian kepada anak-anak sekolah secara sepihak. Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Perdana Menteri (PM) Narendra Modi yang memenangkan pemilu di wilayah tersebut memang kerap mempromosikan paham vegetarian sebagai bagian dari agenda nasionalis mereka, meskipun mayoritas umat Hindu di India tetap mengonsumsi daging dan ikan.
“Pemerintah BJP sedang mencoba memaksakan paham vegetarian kepada anak-anak sekolah,” kecam anggota parlemen dari partai oposisi TMC, Dola Sen, dalam sebuah pernyataan resmi.
Skema Makan Siang Sekolah Terbesar di Dunia
Penghapusan menu telur ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan tenaga pendidik mengenai potensi penurunan drastis tingkat kehadiran siswa di kelas. Menu makanan gratis yang selama ini menjadi daya tarik utama bagi anak-anak dari keluarga miskin terancam kehilangan fungsinya akibat hilangnya protein hewani yang sangat digemari tersebut.
“Makan siang gratis telah menjadi salah satu daya tarik terbesar di sekolah dasar negeri. Para siswa akan datang dalam jumlah yang sangat besar pada hari-hari ketika menu telur disediakan,” ungkap Raja Dey, seorang guru sekolah negeri setempat.
Sebagai perbandingan komparatif di tingkat regional, data resmi dari negara bagian Karnataka tahun lalu membuktikan bahwa tingkat kehadiran siswa meroket dari 93,5% menjadi 98,97% setelah distribusi telur diperluas menjadi enam hari seminggu. Mulai bulan lalu, Benggala Barat resmi menggandeng International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) atau gerakan Hare Krishna sebagai penyedia baru yang hanya menyajikan hidangan berbasis tanaman.
Program makan siang sekolah di India sendiri diakui PBB sebagai skema pemenuhan nutrisi terbesar di dunia yang berhasil meningkatkan angka partisipasi sekolah hingga 15% sekaligus menekan angka kekerdilan (stunting). Namun, para pakar kesehatan masyarakat kini memperingatkan bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu terancam kehilangan sumber nutrisi terbaik mereka akibat pergantian menu massal ini.
Standar Emas Nutrisi
Pihak yayasan ISKCON langsung membantah kekhawatiran tersebut dan mengklaim bahwa olahan kedelai, keju pondok (cottage cheese), serta kacang-kacangan memiliki nilai gizi yang tidak kalah bersaing. Otoritas pendidikan setempat juga membela kebijakan baru ini dengan menyatakan bahwa banyak masyarakat India yang tetap dapat mempertahankan pola hidup sehat meskipun hanya mengonsumsi makanan vegetarian.
“Kami akan memastikan bahwa nutrisi apa pun yang didapat anak dari telur akan dapat ditandingi atau bahkan dilampaui oleh protein dan vitamin berkualitas tinggi dalam makanan kami,” tegas Surovijoy Govinda Das, seorang anggota senior ISKCON.
“Telur adalah standar emas untuk kualitas protein. Tanpa adanya informasi berbasis fakta, negara ini akan menghadapi krisis yang mengancam dalam hal hasil nutrisi dan kesehatan,” bantah Sylvia Karpagam, seorang dokter kesehatan masyarakat, sebagaimana dikutip oleh majalah Frontline.
Sentimen negatif dan kekhawatiran bahwa pemerintah akan melarang peredaran daging serta ikan secara total kini terus menggelinding di tengah masyarakat Benggala Barat. Kasus ini bahkan telah resmi bergulir ke meja hijau setelah Pengadilan Tinggi setempat melayangkan perintah kepada pemerintah negara bagian untuk mengklarifikasi alasan penyerahan proyek makan siang tersebut kepada pihak yayasan, di mana persidangan lanjutan dijadwalkan akan digelar bulan depan.
(tps/sef)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment