
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Kita hidup di era yang penuh dengan ketidakpastian dari ancaman geopolitik dan sanksi di sektor minyak dan energi membuat pasokannya semakin tidak stabil. Selain itu, ketergantungan yang terlalu besar pada sedikit sumber energi memperparah keadaan. Akibatnya, energi semakin sulit diakses, terutama bagi kalangan menengah ke bawah.
Kondisi ini mendorong banyak pihak berlomba mengembangkan energi baru dan terbarukan dan hidrogen dianggap menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan. Hal ini mengingat sumbernya mudah dan banyak tersedia di sekitar kita. Ketertarikan inilah yang membuat berbagai negara mulai mengembangkan pemanfaatannya, hingga perlahan merambah kehidupan sehari-hari.
Kompor Hidrogen dari India
Salah satu contohnya dari India. Sebuah startup di India bernama Greenvize sedang mengembangkan kompor hidrogen yang terintegrasi dengan electrolyzer proton exchange membrane. Sistem ini memungkinkan pengguna menghasilkan hidrogen langsung dari air, cukup dengan memutar knop dan tidak perlu infrastruktur penyimpanan atau distribusi.
Cara kerjanya ialah air dipecah menjadi hidrogen dan oksigen melalui elektrolisis, lalu hidrogen langsung digunakan sebagai bahan bakar memasak sehingga yang keluar dari kompor hanyalah uap air dan oksigen yang dilepaskan justru membantu memperbaiki kualitas udara di sekitarnya.
Menurut Sanjeev Choudhary, direktur dan co–founder Greenvize, sistem ini hanya membutuhkan sekitar 100 mililiter air suling atau air reverse osmosis dan sekitar satu kilowatt–hour listrik untuk menghasilkan hidrogen yang cukup untuk enam jam memasak terus-menerus. Unit ini juga bisa dipasangkan dengan panel surya atap, yang sangat relevan untuk daerah dengan pasokan listrik tidak stabil atau terbatas akses ke jaringan gas.
Sepeda Hidrogen di Chengdu
Setelah membahas kompor hidrogen, kita beralih ke transportasi. Di Chengdu, China, hidrogen sudah digunakan secara massal untuk transportasi roda dua. Kendaraan ini dikembangkan oleh Qinglv Technology, perusahaan rintisan berbasis teknologi hijau di Distrik Xindu. Warga lokal menjuluki armada biru ini “Hydrogen Pony” atau Kuda Poni Hidrogen.
Hingga awal 2026, lebih dari 11.000 unit sepeda dan skuter hidrogen telah beroperasi di Chengdu, dengan lebih dari 3,5 juta perjalanan tercatat. Tarifnya terjangkau: 2,5 yuan atau sekitar Rp5.500 untuk 10 menit pertama, lalu 1 yuan per 5 menit berikutnya.
Yang menarik, kendaraan ini tidak membakar hidrogen langsung di mesin, melainkan menggunakan tangki hidrogen padat bertekanan rendah 2 MPa. Hidrogen bereaksi dengan oksigen di dalam sel bahan bakar untuk menghasilkan listrik yang menggerakkan motor dan setiap unit membawa tabung berisi 100 gram hidrogen yang mampu menempuh jarak hingga 100 kilometer (dua kali lipat lebih jauh dibandingkan sepeda listrik berbasis baterai litium).
Performanya pun tetap stabil di suhu ekstrem, sementara sisa pembuangannya hanya uap air. Chengdu sendiri kini dikenal sebagai hub pengembangan energi hidrogen di China barat daya, dengan cakupan yang meluas ke truk logistik, stasiun pengisian hidrogen, hingga kereta perkotaan.
Penerbangan Hidrogen, Masih Jauh Tapi Serius
Transportasi udara juga sudah mulai melirik hidrogen sebagai alternatif solusi dan sekarang sedang dikembangkan oleh Rolls-Royce, salah satu produsen mesin pesawat terkemuka yang baru saja mematenkan sistem bahan bakar untuk mesin turbin gas yang dirancang membakar hidrogen.
Salah satu tantangan terbesar dalam penggunaan hidrogen cair adalah suhunya yang sangat dingin, sehingga sulit dibakar secara stabil. Sistem Rolls-Royce menjawab tantangan itu dengan memanaskan hidrogen sebelum mencapai mesin.
Hidrogen memang salah satu bahan bakar terbersih, tetapi dalam praktiknya paling sulit diterapkan di pesawat. Ia membutuhkan ruang penyimpanan lebih besar dibanding bahan bakar jet biasa, dan harus disimpan pada suhu minus 253 derajat Celsius.
Rolls-Royce menargetkan mesin berbahan bakar hidrogen siap untuk pesawat kecil dan menengah mulai pertengahan 2030-an, dimulai dari pesawat ringan sebelum akhir dekade ini. Untuk jarak jauh, Sustainable Aviation Fuel (SAF) akan tetap menjadi solusi utama, sementara hidrogen lebih dulu dipakai untuk penerbangan jarak pendek.
Penutup
Dari beberapa contoh di berbagai penjuru dunia yang kita bahas tadi, mulai dari kompor, sepeda, hingga pesawat, terlihat bahwa dunia sudah melihat hidrogen sebagai solusi jangka panjang di masa mendatang. Memang, saat ini pemanfaatannya belum ekonomis dan masih terbilang mahal karena masih dalam tahap riset.
Namun, Indonesia juga perlu memasang mata untuk pemanfaatan dan utilisasi hidrogen. Perlu ada riset dan pengembangan berkelanjutan, hingga suatu hari nanti hidrogen dapat diaplikasikan secara massal dan ekonomis di Indonesia.
(miq/miq)
Leave a comment