Home Finance Warning! Industri Petrokimia RI Terancam Banjir Produk Murah China
Finance

Warning! Industri Petrokimia RI Terancam Banjir Produk Murah China

Share
Warning! Industri Petrokimia RI Terancam Banjir Produk Murah China
Share




Bogor, CNBC Indonesia – Industri petrokimia Indonesia menghadapi tekanan dari membanjirnya produk impor murah di tengah kelebihan kapasitas produksi atau oversupply di pasar global. China menjadi salah satu pemain yang paling agresif memperluas kapasitas produksi, sehingga persaingan semakin berat bagi produsen dalam negeri.

Kondisi ini terjadi ketika sejumlah negara produsen petrokimia dunia juga terus menambah kapasitas produksi. Akibatnya, persaingan tidak hanya datang dari China, tetapi juga Rusia, India, Amerika Serikat hingga negara-negara Timur Tengah.

Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian Sri Bimo Pratomo mengungkapkan, China kini telah berkembang menjadi pemain utama industri petrokimia dunia. Negara tersebut bahkan telah membangun industri dari hulu hingga hilir sehingga tidak lagi bergantung seperti sebelumnya.

“Dulu, China itu adalah tempat kita mengekspor bahan baku produk-produk petrokimia. Tetapi, karena permintaannya cukup kuat, industri petrokimia itu dibangun dari hulu hingga ke hilir, sehingga China sudah sangat mandiri dan sekarang mengalami oversupply,” ungkap Bimo dalam media gathering Forwin di Sentul, Jumat (6/11/26).

Persoalan semakin besar karena Indonesia memiliki pasar domestik yang sangat besar dengan jumlah penduduk hampir 300 juta jiwa. Besarnya pasar tersebut menjadi daya tarik bagi produsen luar negeri yang sedang mencari tujuan ekspor untuk menyerap kelebihan produksi mereka.




Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian Sri Bimo Pratomo (tengah) dan Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono (kanan) dalam Media Gathering Forwin di Sentul, Jumat (6/11/26). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)Direktur Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian Sri Bimo Pratomo (tengah) dan Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono (kanan) dalam Media Gathering Forwin di Sentul, Jumat (6/11/26). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi) Foto: (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Posisi Indonesia juga belum terlalu kuat jika dibandingkan dengan sejumlah negara ASEAN. Dari sisi infrastruktur produksi, Indonesia masih tertinggal dalam jumlah fasilitas cracker yang menjadi fondasi industri petrokimia.

“Kalau kita lihat di ASEAN, Indonesia itu hanya mempunyai dua cracker, kemudian di Malaysia ada tiga, Singapura ada empat, dan Thailand lebih dari empat. Dengan jumlah penduduk besar dan produsen pabrik petrokimia kita, ini kita harus bersaing dengan negara-negara ASEAN,” jelasnya.

Tekanan impor juga terlihat dari tren perdagangan produk bahan baku plastik. Produk dari luar negeri masuk dengan harga kompetitif, sementara produsen lokal harus menanggung biaya produksi dan investasi yang tidak kecil.

Sementara itu Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menilai perubahan peta perdagangan global perlu menjadi perhatian serius. China berpotensi semakin mendominasi pasar produk petrokimia Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.

“Dulu impor material ini didominasi lima besarnya dari ASEAN, kemudian baru Timur Tengah. Dengan adanya perang, sekarang lima besarnya berubah. Masih tetap Singapura, Malaysia, Vietnam, China sekarang nomor empat, baru Korea Selatan,” kata Fajar.

Perkembangan tersebut menjadi tantangan bagi keberlangsungan investasi industri dalam negeri. Apalagi, pembangunan fasilitas petrokimia membutuhkan modal besar dan waktu yang panjang sehingga produsen membutuhkan kepastian pasar sebelum memutuskan ekspansi.

“China ini kemungkinan besar 2030 bisa nomor satu untuk polyethylene, PVC, dan lain-lain. Karena dari sisi suplai dan demand memang oversupply, tetapi China juga memanfaatkan bahan bakunya. Kita harus memperkuat industri dari hulu sampai hilir,” tegas Fajar.

(fys/wur)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *