Home Finance Hybrid Dulu Juara Kini Disalip Mobil Listrik Full, Ada Apa Indonesia?
Finance

Hybrid Dulu Juara Kini Disalip Mobil Listrik Full, Ada Apa Indonesia?

Share
Hybrid Dulu Juara Kini Disalip Mobil Listrik Full, Ada Apa Indonesia?
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Tren kendaraan elektrifikasi di Indonesia mengalami perubahan cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Jika pada awal kemunculannya mobil hybrid lebih dominan, kini mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) justru mampu mencatat penjualan jauh lebih tinggi.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, sepanjang 2023 penjualan mobil hybrid mencapai 52.568 unit atau sekitar 75,4% dari total penjualan kendaraan elektrifikasi. Pada periode yang sama, penjualan BEV baru mencapai 17.058 unit dengan pangsa pasar 24,4%.

Namun, posisi tersebut berbalik pada 2025. Penjualan BEV mencapai sekitar 103.931 unit, melonjak 141% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan hybrid tercatat sekitar 65.943 unit atau hanya tumbuh sekitar 10%.

Pengamat otomotif senior Bebin Djuana menilai perubahan tersebut tidak terlepas dari karakter merek yang hadir ketika kendaraan elektrifikasi mulai diperkenalkan ke pasar Indonesia. Menurutnya, faktor reputasi merek menjadi salah satu alasan utama konsumen pada awalnya lebih memilih kendaraan hybrid.

“Di awal hybrid laris karena diusung nama-nama besar, reputasi yang tidak terbantahkan, sementara EV merek-merek baru dari China, harga pun tidak terlalu menggairahkan,” kata Bebin kepada CNBC Indonesia, Jumat (14/8/2026).

Seiring waktu, peta persaingan kendaraan listrik berubah cukup cepat. Kehadiran lebih banyak merek asal China membuat pilihan konsumen semakin beragam, sementara harga kendaraan listrik juga menjadi semakin kompetitif di pasar Indonesia.

“Dengan berjalannya waktu kebetulan terjadi overstock di negara asal sehingga terjadi perang harga, pemerintah kita memberikan subsidi/insentif disertai pertumbuhan SPKLU dan cerita pengalaman pemakai yang sudah lebih dahulu mencoba,” sebut Bebin.

Perubahan tersebut membuat konsumen memiliki lebih banyak pertimbangan sebelum menentukan jenis kendaraan elektrifikasi yang akan dibeli. Selain harga, kesiapan ekosistem dan pengalaman pengguna menjadi faktor yang ikut membentuk kepercayaan terhadap kendaraan listrik.

“Sekarang hybrid yang masuk berbeda prinsip kerjanya, konsumen diam-diam mempelajari dahulu, sedangkan dealer EV & jaringannya sudah lebih siap, konsumen lebih cepat membuat keputusan untuk membeli, ditambah lagi kekuatiran kenaikan harga EV akibat melemahnya nilai rupiah,” katanya.

Perubahan tren ini tercermin dari data penjualan nasional. Pada 2025, BEV tidak hanya mengungguli hybrid dalam jumlah unit, tetapi juga mencatat pertumbuhan yang jauh lebih agresif.

Melonjaknya penjualan BEV tersebut terjadi ketika pasar Indonesia semakin ramai dengan pendatang baru, terutama merek-merek asal China yang menawarkan kendaraan listrik dengan harga lebih kompetitif. Di saat bersamaan, pembangunan infrastruktur pengisian daya dan semakin banyaknya pengguna BEV membuat teknologi tersebut semakin dikenal masyarakat.

Dengan demikian, pergeseran dari dominasi hybrid ke BEV bukan semata-mata karena konsumen sudah meninggalkan teknologi hybrid.

Perubahan tersebut merupakan hasil kombinasi antara harga, pilihan produk, kesiapan jaringan penjualan, infrastruktur pengisian daya, pengalaman pengguna, serta arah kebijakan pemerintah yang turut membentuk pasar kendaraan elektrifikasi Indonesia.

(dce)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *