
Jakarta, CNBC Indonesia – Sekelompok ilmuwan biologi dari berbagai negara memperingatkan potensi bahaya riset “mirror life” atau kehidupan cermin, yakni organisme sintetis yang biokimianya merupakan bayangan cermin dari makhluk hidup di Bumi. Peringatan itu mengemuka dalam Singapore Conference on Mirror Life yang digelar pekan ini.
Mengutip laporan The Economist , jika organisme semacam ini lolos dari laboratorium, ia berpotensi memicu wabah yang sulit dihentikan atau merusak ekosistem secara luas.
Apa Itu Mirror Life?
Banyak molekul penting dalam tubuh makhluk hidup memiliki dua bentuk yang saling berkebalikan seperti tangan kanan dan kiri. Kehidupan di Bumi umumnya hanya memakai satu bentuk. Asam amino penyusun protein pada umumnya berbentuk “kidal”, sedangkan gula, yang menjadi tulang punggung DNA dan RNA, berbentuk “kanan”.
Mirror life berarti sel, kemungkinan besar bakteri, yang dibangun dengan bentuk sebaliknya. Para ilmuwan menyebut sifat ini dengan istilah kiralitas.
Kekhawatiran soal ini mulai menjadi perhatian publik lewat makalah di jurnal Science pada akhir 2024. Para penulisnya menilai bakteri cermin bisa lolos dari sistem imun manusia maupun makhluk lain, sehingga berkembang biak tanpa kendali.
Bakteri semacam itu juga diperkirakan sulit dimangsa predator alaminya, seperti amuba, dan tahan terhadap virus pemakan bakteri (bakteriofage) yang selama ini menekan populasi bakteri. Artinya, ia berpotensi berkembang biak tanpa batas.
Alam memang tidak sepenuhnya tanpa hambatan. Mirror life tidak bisa memetabolisme semua molekul dari organisme alami. Namun banyak biomolekul tidak memiliki kiralitas, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai sumber makanan.
Saat ini, pembuatan mirror life di laboratorium masih dianggap jauh. Namun, biologi sintetis berkembang pesat, apalagi dengan penerapan kecerdasan buatan (AI). Pada 2024, teknologi ini diperkirakan setidaknya masih 15 tahun lagi, tetapi kini bisa tiba lebih cepat.
George Church dari Harvard Medical School, salah satu penulis makalah 2024, menyebut dua perkembangan penting. Pertama, sel sintetis berbentuk mirip kentang (“spud cell”) yang diumumkan peneliti University of Minnesota pada Juli. Sel itu memiliki tujuh plasmid yang mengodekan 36 enzim, dan mampu makan, tumbuh, serta membelah diri.
Kedua, modifikasi di laboratorium Church yang memungkinkan sel menyusun protein dengan asam amino nonstandar, yang secara prinsip bisa mencakup bentuk sebaliknya.
Kenapa Ada Riset Mirror Life?
Alasan membuat mirror life ada dua: rasa ingin tahu ilmiah soal mengapa biologi bersifat “kidal”, dan potensi molekul berkiralitas terbalik sebagai obat yang lebih tahan lama di tubuh. Obat berbasis D-peptida sudah ada, dan sejumlah spiegelmer sedang diuji. Sejumlah ilmuwan menilai molekul semacam itu bisa dibuat tanpa harus menciptakan organisme cermin.
Deepa Agashe, ahli ekologi dan biologi evolusi dari National Centre for Biological Sciences di Bengaluru, India, memaparkan data kadar nutrisi tanpa kiralitas di tanah, darah, dan isi usus. Menurutnya, ketiga habitat itu cukup untuk menopang bakteri E. coli tanpa makanan berkiralitas. Jika E. coli mampu, bakteri cermin kemungkinan juga bisa.
Ia mengibaratkan risikonya dengan spesies invasif seperti kodok tebu di Australia yang merajalela karena tak punya predator. Spesies invasif kadang bisa dikendalikan, tetapi belum pernah benar-benar dimusnahkan.
Sejumlah otoritas di Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman telah menyatakan kekhawatiran. Pada Maret, Dewan Penasihat Ilmiah Sekretaris Jenderal PBB menerbitkan ringkasan soal risikonya. Pemerintah China belum menyampaikan sikap.
(fsd/fsd)
Leave a comment