
Jakarta, CNBC Indonesia – Ilmuwan menemukan struktur organ kekebalan baru di dalam tulang tengkorak yang diduga berperan sebagai garis pertahanan pertama tubuh untuk melawan kanker otak. Temuan ini berpotensi membuka cara baru untuk mengobati tumor otak tanpa harus melakukan operasi besar pada otak.
Penemuan tersebut berasal dari penelitian ahli biologi di Washington University (WashU) School of Medicine di St. Louis, Amerika Serikat. Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Nature, peneliti menemukan struktur sistem kekebalan yang sebelumnya tidak diketahui berada di dalam tulang tengkorak.
Namun, untuk saat ini para ilmuwan baru menemukan struktur tersebut pada tikus. Meski begitu, mereka menemukan sejumlah petunjuk bahwa struktur serupa kemungkinan juga terdapat pada manusia.
Para peneliti menduga struktur ini berfungsi seperti “pos keamanan” bagi otak. Letaknya yang berdekatan dengan jaringan otak memungkinkan sistem kekebalan tubuh merespons ancaman secara lebih cepat, termasuk ketika muncul sel kanker.
“Studi ini mengungkap bahwa sumsum tulang tengkorak jauh lebih dari sekadar kerangka struktural. Sumsum tersebut memiliki pusat respons imun khusus untuk otak yang sebelumnya belum dikenali,” kata Jonathan Kipnis, ahli imunologi otak di WashU sekaligus penulis senior penelitian tersebut, dikutip dari ScienceAlert, Kamis (20/8/2026).
Menurut Kipnis, penemuan ini mengubah pemahaman mengenai hubungan antara sistem saraf dan sistem kekebalan tubuh. Struktur tersebut juga membuka peluang baru untuk mengembangkan terapi tumor otak dan berbagai penyakit neurologis.
Selama ini, para ilmuwan memahami bahwa tubuh manusia memiliki sistem kekebalan yang bekerja di luar sistem saraf pusat serta mekanisme pertahanan khusus untuk otak dan sumsum tulang belakang.
Kedua sistem tersebut sebelumnya dianggap relatif terpisah. Bahkan, masuknya sel kekebalan dari sistem perifer ke otak dalam kondisi tertentu dapat memicu masalah karena jaringan saraf sangat sensitif terhadap respons imun.
Namun, penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya hubungan yang lebih erat antara keduanya.
Dalam penelitian sebelumnya, tim WashU menemukan saluran-saluran kecil yang menghubungkan jaringan otak dengan tulang tengkorak. Saluran tersebut melewati dura mater, yakni lapisan pelindung terluar yang menyelimuti otak, sebelum mencapai tulang tengkorak.
Dalam studi terbaru, peneliti menggunakan protein pelacak berpendar untuk melihat bagaimana molekul bergerak melalui saluran tersebut. Mereka kemudian mengikuti pergerakan molekul dari neuron hingga mencapai sumsum tulang di dalam tengkorak.
Peneliti akhirnya menemukan struktur yang menyerupai germinal center. Struktur ini biasanya ditemukan di kelenjar getah bening dan berfungsi sebagai tempat ‘pelatihan’ sel kekebalan tubuh.
Di dalam struktur tersebut, sel B yang belum matang dapat berkembang biak dalam jumlah besar. Sel-sel tersebut kemudian dipersiapkan untuk mengenali ancaman tertentu sebelum dikirim untuk melawan patogen.
Bedanya, struktur yang ditemukan dalam penelitian ini berada sangat dekat dengan otak. Kondisi tersebut memungkinkan sistem kekebalan melakukan respons langsung tanpa harus mengandalkan perekrutan sel dari bagian tubuh lain.
“Kami belum pernah melihat struktur seperti ini pada sumsum tulang yang sehat sebelumnya,” kata Jang Hyun Park, ahli biologi sel di WashU sekaligus penulis pertama penelitian.
Menurutnya, temuan tersebut menunjukkan bahwa otak yang kompleks kemungkinan memiliki struktur kekebalannya sendiri untuk memberikan perlindungan secara khusus.
Untuk menguji fungsi struktur tersebut, peneliti kemudian menggunakan tikus yang mengalami glioma, salah satu jenis kanker otak yang agresif.
Peneliti mengubah aktivitas struktur limfoid di tengkorak tikus dengan memberikan hidrogel di bawah kulit kepala. Hidrogel tersebut mengandung senyawa yang dapat meningkatkan atau menekan aktivitas sistem kekebalan.
Hasilnya cukup signifikan. Tikus dengan struktur limfoid tengkorak yang terganggu mengalami pertumbuhan tumor yang jauh lebih agresif dan memiliki tingkat kelangsungan hidup lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol.
Sebaliknya, tikus yang mendapat kombinasi tiga protein pemicu sistem kekebalan menunjukkan respons imun yang lebih kuat pada struktur tersebut. Sistem kekebalan mereka kemudian mampu melawan kanker dengan lebih efektif dan secara signifikan meningkatkan peluang hidup.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa hasil penelitian pada tikus belum tentu berlaku sama pada manusia.
Kendati begitu, terdapat petunjuk penting. Peneliti sebelumnya telah menemukan sel T folikuler di dalam sumsum tulang tengkorak manusia. Temuan tersebut bisa menjadi indikasi bahwa struktur kekebalan serupa juga tersembunyi di dalam kepala manusia.
Jika keberadaannya pada manusia dapat dikonfirmasi, temuan ini berpotensi mengubah cara dokter menangani kanker otak.
Salah satu kemungkinan terapi adalah menggunakan hidrogel yang disuntikkan di bawah kulit kepala untuk mengaktifkan pusat kekebalan tersebut. Metode ini secara teori jauh lebih minim invasif dibandingkan operasi otak untuk mengangkat tumor.
“Penemuan ini secara mendasar mengubah pemahaman kita mengenai neuroimunologi,” ujar Kipnis.
Ia mengatakan, pemahaman bahwa otak memiliki “pasukan pertama” di tulang tengkorak di sekitarnya dapat mengubah cara ilmuwan mengembangkan terapi untuk berbagai penyakit neurologis.
Tak hanya kanker otak, pendekatan tersebut berpotensi diteliti untuk penyakit seperti Alzheimer, Parkinson, skizofrenia, hingga long Covid yang memiliki komponen terkait sistem kekebalan.
Para peneliti menilai, terapi di masa depan bahkan berpotensi menargetkan pusat-pusat kekebalan tersebut langsung melalui tulang tengkorak sehingga dapat mengurangi efek samping yang muncul pada bagian tubuh lain.
(dem/dem)
Leave a comment