
Jakarta, CNBC Indonesia – Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Malaysia mulai berdampak pada kesehatan hewan peliharaan. Sejumlah pemilik kucing dan anjing melaporkan gangguan kesehatan pada hewan mereka, mulai dari gatal-gatal hingga mata berair dan bersin berulang.
Melansir The Star, salah satu kasus dialami Raymond Tan, 36, warga Petaling Jaya. Pada akhir Agustus lalu, anjingnya terus-menerus menggaruk tubuh hingga membuatnya khawatir. Awalnya, Tan menduga anjingnya mengalami alergi makanan. Namun, karena tidak ada perubahan pada pola makan, ia mulai mencurigai faktor lingkungan, terlebih ketika kabut asap di kawasan Lembah Klang semakin memburuk.
Setelah memeriksakan anjingnya ke dokter hewan, Tan mendapat penjelasan bahwa keluhan tersebut berkaitan dengan paparan kabut asap. Anjingnya kemudian diberikan obat oral dan salep untuk mengatasi kondisi kulitnya.
Biaya pengobatan mencapai 300 ringgit Malaysia (Rp 1,3 juta), atau lebih tinggi dibandingkan pengeluaran rutin untuk perawatan dokter hewan yang biasanya berkisar 100-200 ringgit.
Sejak kejadian itu, Tan membatasi aktivitas anjing-anjingnya di luar rumah, terutama ketika Indeks Pencemaran Udara (API) menunjukkan angka tinggi. Ia tetap memberikan kesempatan bagi hewan peliharaannya untuk beraktivitas di luar saat kondisi udara membaik.
Pemilik Kucing Ikut Khawatir
Kekhawatiran serupa dirasakan Sufyan Zahri, 36, yang mengurangi waktu bermain di luar bagi kucing-kucingnya. Sejak kabut asap memburuk pada akhir September, ia menghentikan kebiasaan membiarkan salah satu dari dua kucingnya keluar rumah pada sore hari.
Sufyan mengaku khawatir partikel polutan menempel pada bulu kucing dan tertelan ketika hewan tersebut menjilati tubuhnya untuk membersihkan diri.
Sementara itu, J. Linda, 32, mulai lebih waspada setelah kucingnya mengalami mata berair dan bersin terus-menerus ketika kabut asap memburuk di Lembah Klang pada bulan sebelumnya.
Padahal, kucing tersebut selalu berada di dalam rumah. Linda menduga partikel polutan masuk melalui jendela yang terbuka.
Setelah dibawa ke dokter hewan dan mendapatkan pengobatan, kondisi kucingnya membaik. Namun, pengalaman tersebut membuat Linda lebih berhati-hati saat membuka jendela, termasuk pada malam hari.
Ia mengingatkan pemilik hewan bahwa udara di dalam rumah belum tentu bebas dari polutan meskipun kabut asap tidak terlihat secara langsung.
Paparan Polusi Perlu Diwaspadai
Kasus-kasus tersebut menjadi pengingat bahwa dampak kabut asap tidak hanya dirasakan manusia. Hewan peliharaan yang beraktivitas di luar rumah maupun yang dipelihara di dalam ruangan tetap berpotensi terpapar polusi udara.
Karena itu, pemilik hewan perlu memperhatikan perubahan perilaku dan kondisi fisik peliharaan mereka, terutama ketika kualitas udara memburuk. Membatasi aktivitas di luar rumah dan lebih memperhatikan kondisi udara di dalam ruangan dapat membantu mengurangi paparan polutan.
Jika hewan menunjukkan gejala yang tidak biasa, seperti gatal berlebihan, mata berair, atau bersin berkepanjangan, pemeriksaan dokter hewan diperlukan untuk mengetahui penyebab dan menentukan penanganan yang tepat.
Kabut asap mungkin tidak selalu terlihat di dalam rumah, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan untuk melindungi kesehatan seluruh anggota keluarga, termasuk hewan peliharaan.
(hsy/hsy)
Leave a comment