
Jakarta, CNBC Indonesia – Google diketahui jadi salah satu perusahaan yang getol mengembangkan AI besar-besaran. Namun, langkah ini berdampak pada pertumbuhan pendapatan perusahaan.
Selama bertahun-tahun, mesin uang Google berasal dari mesin pencariannya yang terus tumbuh. Dalam setahun terakhir, pertumbuhan pendapatan Google berbalik mulai melambat.
Pada kuartal ketiga, pendapatan Google Search bertumbuh 12%. Sementara itu, kuartal pertama dan kedua mencatatkan 19% dan 17%.
Di tengah perlambatan ini, Google memastikan kehadiran iklan dalam AI Overviews untuk pengguna ke pasar internasional. Termasuk iklan multi-turn dan mode AI di Amerika Serikat.
“Sekarang, kami memperluas jangkauan iklan berkualitas tinggi pada AI Overviews dalam mode AI ke lebih banyak pengguna dan kueri,” kata Chief Business Officer Google, Philipp Schindler, dikutip dari Yahoo Finance, Senin (2/11/2026).
Google mengklaim hasil awal format terbarunya berhasil. Menurut Schindler, tingkat klik-tayang pada produk untuk Mode AI bersponsor telah sebanding pada yang berada di daftar organik.
Dari hasil riset perusahaan, pengguna menganggap iklan yang dihadirkan relevan dengan mereka.
Sementara itu, CEO Sundar Pichai mengklaim pengguna lebih banyak menggunakan fitur AI untuk melakukan pencarian. Kehadiran fitur itu juga menunjukkan perubahan pada penggunaan Search.
Salah satunya adalah memunculkan kueri yang lebih panjang dan kompleks dari pencarian tradisional. satu dari lima pencarian Mode AI secara global terkait suara, gambar, atau dokumen, serta pencarian visual di Google juga telah melebihi 50 miliar per bulananya.
Pertumbuhan Search, dia menyebut melaju dengan cepat selama lima tahun terakhir. Namun dia tak menyebut angka pastinya.
“Search menghadirkan manfaat AI pada lebih banyak oranag dibandingkan produk lain manapun di dunia,” ucap Pichai pada para investor.
Google melaporkan pendapatan US$127,6 miliar (Rp 2.316 triliun) selama kuartal III-2026. Angka itu melonjak 255 dari tahun sebelumnya.
(dem/dem)
Leave a comment