
Jakarta, CNBC Indonesia – Industri alas kaki dalam negeri masih menghadapi tekanan dari derasnya produk impor yang masuk ke pasar domestik. Produk impor, baik legal maupun ilegal, dinilai memiliki harga yang sangat kompetitif sehingga membuat produk buatan dalam negeri semakin tertekan.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Yoseph Billie Dosiwoda mengatakan, persoalan impor menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi industri alas kaki di pasar domestik.
“Dari sisi pasar domestik tantangannya juga tidak ringan. Industri menghadapi banjir produk impor, baik legal maupun ilegal, dengan harga yang sangat kompetitif sehingga menekan produk lokal,” kata Billie kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (12/8/2026).
Selain itu, dia juga menyebut, masih adanya kendala regulasi dan pengawasan, termasuk sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI), berbagai perizinan, serta praktik impor yang tidak seimbang, menambah tekanan terhadap industri alas kaki nasional.
“Ditambah lagi, banyaknya aturan wajib yang menambah beban biaya dan syarat administrasi, serta proses yang lama,” tambahnya.
Menurut Billie, tekanan dari produk impor menjadi persoalan yang perlu diperhatikan di tengah upaya industri alas kaki mempertahankan pasar domestik. Terlebih, Indonesia memiliki pasar yang besar dengan jumlah penduduk sekitar 288 juta jiwa.
“Untuk proyeksi ke depan, dengan melihat situasi geopolitik yang belum pasti dan daya beli masyarakat yang sampai saat ini masih turun, kami melihat peluang perbaikan tetap ada, terutama jika didorong oleh beberapa faktor kunci: stabilitas permintaan global, perbaikan akses pasar ekspor, serta kebijakan pemerintah yang lebih kuat dalam melindungi pasar ekspor dan domestik, dan memperkuat rantai pasok dalam negeri. Karena potensi penduduk Indonesia 288 juta. Bila tiap orang memakai sepatu, artinya pasar nya masih ada,” jelas dia.
Ia menilai pertumbuhan industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki yang mencapai 11,30% pada kuartal II-2026 belum cukup menjadi alasan untuk menganggap industri telah pulih sepenuhnya. Perlindungan terhadap pasar domestik dan penguatan rantai pasok dinilai tetap diperlukan agar pertumbuhan tersebut dapat berlanjut.
“Namun, tanpa intervensi kebijakan yang tepat, baik dalam pengendalian impor, kemudahan bahan baku, insentif industri padat karya yang tepat, misalnya dengan program restrukturisasi mesin. Maka pertumbuhan ini berisiko tidak berkelanjutan,” kata Billie.
Secara keseluruhan, Billie mengatakan pihaknya melihat sinyal perbaikan pada industri alas kaki nasional. Namun, perbaikan itu belum sepenuhnya kuat, dan masih dibayangi berbagai tantangan struktural, baik dalam dan luar negeri.
“Baik di pasar ekspor maupun domestik,” pungkasnya.
(dce)
Leave a comment