
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Solira Edu terus mengembangkan program ekstrakurikuler sustainability di BINUS Simprug. Dalam kegiatan tersebut, saya bertemu dengan Yayasan Cheshire Indonesia, sebuah organisasi yang memberdayakan penyandang disabilitas melalui berbagai program pelatihan.
Saya melihat bagaimana mereka tidak hanya diberikan bantuan, tetapi juga dibekali keterampilan. Mereka belajar menanam sayuran secara hidroponik hingga membuat produk ramah lingkungan seperti sabun eco enzyme.
Dan entah mengapa, pertemuan itu membuat saya berpikir cukup lama. Selama ini, ketika kita membicarakan sustainability, kita sering kali langsung berpikir tentang lingkungan. Tentang sampah, plastik, energi, emisi, dan perubahan iklim.
Padahal, sustainability memiliki tiga pilar yang saling berkaitan: environmental, social, dan economic. Artinya, keberlanjutan bukan hanya tentang bagaimana kita menjaga planet, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun masyarakat yang inklusif dan memastikan lebih banyak orang memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam perekonomian.
Di sinilah komunitas disabilitas menjadi bagian penting dari percakapan terkait sustainability. Kita perlu mulai bertanya, siapa saja yang kita libatkan dalam masa depan yang sedang kita bangun?
Saya kemudian berbicara dengan David Soukhasing, seorang volunteer yang sejak kecil hidup dekat dengan dunia disabilitas karena tantenya adalah seorang penyandang disabilitas.
Menurut David, merawat seseorang dengan disabilitas adalah tanggung jawab 24 jam. Pengalaman tersebut kemudian membawanya menjadi volunteer di sebuah organisasi di Prancis bernama À Bras Ouverts.
Di sana, anak-anak dengan disabilitas mengikuti berbagai kegiatan bersama volunteer selama akhir pekan, sementara orang tua mereka mendapatkan kesempatan untuk beristirahat.
“Sometimes love needs a little bit of breathing room,” kata David kepada saya.
Kalimat itu melekat di kepala saya. Karena di balik seseorang dengan disabilitas, ada keluarga yang juga bisa mengalami kelelahan fisik, emosional, dan finansial. Memberikan ruang untuk bernapas bukan berarti mencintai lebih sedikit. Justru, dukungan seperti ini dapat membantu keluarga terus memberikan perhatian dan kasih sayang dalam jangka panjang.
Namun, pengalaman David juga membuat saya menyadari bahwa inklusi dapat memiliki banyak bentuk. Di À Bras Ouverts, fokusnya bukan pada pekerjaan atau pelatihan. Programnya memberikan anak-anak dengan disabilitas pengalaman di luar rumah sekaligus memberikan keluarga mereka ruang untuk bernapas.
Sementara di Yayasan Cheshire Indonesia, pendekatannya berbeda. Mereka memberikan keterampilan yang dapat membantu penyandang disabilitas menjadi lebih mandiri dan berpartisipasi dalam masyarakat.
Yang menghubungkan keduanya adalah sesuatu yang lebih fundamental: martabat. Penyandang disabilitas tidak hanya membutuhkan simpati. Mereka membutuhkan kesempatan untuk belajar, berpartisipasi, berkarya, dan membangun kehidupan yang mandiri.
Terkadang, kesempatan itu berarti memberikan keluarga ruang untuk beristirahat. Terkadang, kesempatan itu berarti memberikan seseorang akses terhadap keterampilan dan pekerjaan.
Inklusi bukan hanya tentang bertanya, “Bagaimana kita bisa membantu mereka?” Tetapi juga, “Bagaimana kita bisa menciptakan masyarakat yang memberi mereka kesempatan untuk membantu diri mereka sendiri?”
Sayangnya, kesempatan tersebut belum tersedia secara merata di Indonesia. Infrastruktur publik kita masih belum cukup inklusif, sementara banyak organisasi yang bekerja langsung dengan komunitas disabilitas masih bergantung pada pendanaan yang sangat terbatas.
Karena itu, pemerintah perlu memberikan subsidi kepada organisasi akar rumput yang bekerja langsung dengan komunitas disabilitas. Model seperti À Bras Ouverts di Prancis, maupun program pemberdayaan seperti yang dilakukan Yayasan Cheshire Indonesia, layak mendapatkan dukungan agar dapat menjangkau lebih banyak orang.
Ini bukan hanya tentang charity. Ini tentang keadilan, sekaligus empowerment. Ketika seseorang mendapatkan akses terhadap pendidikan, pelatihan, infrastruktur, dan pekerjaan yang layak, mereka bukan hanya menjadi penerima manfaat. Mereka juga dapat menjadi bagian produktif dari perekonomian.
Kita sering berbicara tentang membangun Indonesia yang berkelanjutan. Tetapi keberlanjutan seperti apa yang kita bangun jika masih ada begitu banyak orang yang belum mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian darinya?
Sustainability bukan hanya tentang planet seperti apa yang kita tinggalkan. Sustainability juga tentang masyarakat seperti apa yang kita bangun hari ini. Pada akhirnya, kita tidak hanya membutuhkan dunia yang lebih hijau. Kita membutuhkan dunia yang lebih manusiawi.
(miq/miq)
Leave a comment