Home Finance Jurusan Kuliah Ilmu Komputer Ditinggalkan, Banyak Lulusan Nganggur
Finance

Jurusan Kuliah Ilmu Komputer Ditinggalkan, Banyak Lulusan Nganggur

Share
Jurusan Kuliah Ilmu Komputer Ditinggalkan, Banyak Lulusan Nganggur
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Era kejayaan jurusan ilmu komputer (computer science) di kampus-kampus Amerika Serikat (AS) mulai meredup. Tergerusnya minat calon mahasiswa disebabkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dinilai akan memangkas pekerjaan terkait ilmu komputer.

Sepanjang semester ganti (fall) tahun ini, jumlah mahasiswa yang mendaftar di jurusan teknologi informasi tersebut merosot tajam.

Data terbaru dari National Student Clearinghouse menunjukkan, angka pendaftaran mahasiswa baru tingkat sarjana (S1) ilmu komputer di universitas-universitas AS anjlok hingga lebih dari 12%. Sementara pada jenjang pascasarjana (S2/S3), penurunannya menembus lebih dari 10%.

Penurunan ini makin mempertegas tren eksodus mahasiswa dari bidang teknologi. Hanya dalam rentang dua tahun, program S1 ilmu komputer telah kehilangan 18,4% mahasiswanya, sedangkan program pascasarjana ambles hingga 27,1%.

“Ini adalah penurunan yang sangat luar biasa untuk sebuah bidang yang belum lama ini tercatat sebagai salah satu jurusan dengan pertumbuhan tercepat di pendidikan tinggi,” ujar Direktur Penelitian Senior National Student Clearinghouse, Matthew Holsapple, dikutip dari Business Standard, Kamis (29/10/2026).

Pekerjaan Entry-Level Dibabat AI

Anjloknya minat terhadap jurusan ilmu komputer tidak lepas dari pergeseran peta kerja di industri teknologi. Efisiensi berbasis AI membuat banyak raksasa teknologi melenyapkan posisi koding tingkat pemula (entry-level). Lulusan anyar ilmu komputer kini makin sulit bersaing mendapatkan pekerjaan pertamanya. Alhasil, tak sedikit yang akhirnya menjadi pengangguran setelah lulus kuliah.

Laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS (Bureau of Labor Statistics) pada Agustus lalu mengonfirmasi bahwa sektor lapangan kerja di bidang komputer dan matematika menjadi area yang paling terdampak oleh otomatisasi AI.

Di sisi lain, kebijakan imigrasi yang diperketat oleh Presiden Donald Trump turut memperparah tekanan terhadap angka pendaftaran mahasiswa internasional. Lembaga konsultan pendidikan JB International dan NAFSA mencatat jumlah mahasiswa asing baru di AS sempat merosot 17% pada 2025. Tren ini diproyeksikan berlanjut mengingat jumlah aplikasi kampus dari luar negeri tahun ini susut 10%, penurunan terbesar dalam satu dekade terakhir.

Di tengah kelesuan pendaftaran universitas secara umum yang hanya tumbuh tipis 0,6%, perguruan tinggi komunitas (community college) justru menjadi satu-satunya titik cerah (bright spot). Kampus non-gelar ini mencatatkan kenaikan pendaftaran mahasiswa sebesar 1,2%.

“Para mahasiswa mulai mencari alternatif jalur pendidikan di luar skema tradisional. Faktor keterjangkauan biaya (affordability) menjadi salah satu pertimbangan utamanya,” pungkas Holsapple.

(fab/fab)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *