Home Finance Kapal Bawa 305 Orang Tenggelam, 139 Tewas-84 Masih Hilang
Finance

Kapal Bawa 305 Orang Tenggelam, 139 Tewas-84 Masih Hilang

Share
Kapal Bawa 305 Orang Tenggelam, 139 Tewas-84 Masih Hilang
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Sedikitnya 139 migran, termasuk 15 anak-anak, tewas setelah kapal yang mereka tumpangi tenggelam saat berlayar dari Djibouti menuju Yaman. Sebanyak 84 orang lainnya dilaporkan hilang dalam kecelakaan yang terjadi pada 8-9 Oktober malam waktu setempat tersebut.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dalam pernyataannya pada Minggu (11/10/2026) menyebut kapal yang kelebihan muatan itu membawa 305 orang, sebagian besar merupakan warga Ethiopia. Kapal terbalik di perairan utara Obock, sebuah kota di Djibouti.

Kepala Misi IOM di Djibouti, Alexandre Coissac, mengatakan para penyintas menceritakan bahwa kapal mulai tenggelam tak lama setelah mereka naik.

“Para penyintas mengatakan kepada saya bahwa kapal mulai tenggelam dengan bagian belakang terlebih dahulu begitu mereka naik ke dalamnya,” ujar Coissac kepada AFP.

Dalam pernyataan sebelumnya, ia menggambarkan kejadian tersebut sebagai tragedi besar yang merenggut banyak nyawa.

“Ini adalah kehilangan nyawa yang sangat memilukan,” katanya.

“Pikiran kami bersama para penyintas dan keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih atau masih belum mendapat kabar mengenai kerabat mereka.”

IOM awalnya melaporkan 109 orang tewas dan 116 lainnya hilang. Namun, jumlah korban jiwa kemudian diperbarui menjadi 139 orang setelah lebih banyak jenazah ditemukan, sementara jumlah orang yang hilang direvisi menjadi 84 orang.

Coissac mengatakan tim IOM telah berada di lokasi bersama otoritas Djibouti untuk memberikan bantuan darurat. Menurutnya, tragedi ini kembali menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi para migran ketika menempuh jalur tersebut demi mencari penghidupan yang lebih baik.

“Tragedi ini menjadi pengingat nyata akan bahaya yang dihadapi para migran di sepanjang jalur migrasi ini ketika mereka mencari peluang ekonomi,” ujarnya.

Para migran biasanya menyeberangi Selat Bab al-Mandab menuju Yaman sebelum melanjutkan perjalanan ke negara-negara Teluk. Coissac juga mengatakan dirinya telah berbicara dengan salah satu penyintas yang berasal dari wilayah Tigray, Ethiopia utara. Daerah tersebut kembali dilanda kekerasan dalam konflik antara kelompok pemberontak dan pemerintah federal Ethiopia.

Dari 109 jenazah yang pertama kali ditemukan, 52 di antaranya merupakan laki-laki, 42 perempuan, serta 15 anak-anak yang terdiri atas sembilan anak perempuan dan enam anak laki-laki. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 82 orang berhasil selamat dari kecelakaan tersebut. Seluruh penyintas merupakan warga negara Ethiopia.

IOM menyebut kemiskinan, ketidakamanan, dan dampak perubahan iklim yang semakin terasa menjadi sejumlah faktor yang mendorong orang mengambil risiko melakukan perjalanan berbahaya tersebut, meski situasi di Timur Tengah makin tidak stabil.

IOM saat ini memberikan bantuan kepada 64 penyintas yang berada di sebuah pusat penampungan migran di Obock. Sementara itu, otoritas Djibouti masih melanjutkan operasi pencarian dan penyelamatan di tengah kekhawatiran terhadap nasib orang-orang yang belum ditemukan.

Organisasi tersebut menyebut insiden ini sebagai salah satu kecelakaan kapal paling mematikan yang pernah tercatat di jalur migrasi menuju Yaman.

Juru bicara IOM Kennedy Omondi Okoth mengatakan kepada AFP bahwa sekitar 178.000 orang telah tiba di Djibouti dari Ethiopia selama Januari hingga Oktober tahun ini. Bahkan sejak 10 September, IOM mencatat lebih dari 20.000 penyeberangan dari Ethiopia ke Djibouti, meskipun konflik di Yaman semakin meningkat.

Yaman sendiri masih dilanda pertempuran antara pemerintah yang didukung Arab Saudi dan kelompok pemberontak Houthi yang didukung Teheran. Kelompok Houthi juga telah terlibat dalam konflik regional yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya melawan Iran.

Menurut Coissac, sekitar 150 orang yang berada di kapal nahas tersebut sebelumnya pernah dipulangkan dari Yaman. Meski demikian, mereka kembali mencoba menyeberangi jalur yang sama.

Mayoritas orang yang menempuh perjalanan laut menuju Yaman berasal dari Ethiopia dan Somalia, kata Okoth. Banyak dari mereka akhirnya terjebak di Djibouti tanpa kepastian untuk melanjutkan perjalanan.

Pada 2025, lebih dari 900 migran dilaporkan meninggal atau hilang di sepanjang jalur laut menuju Yaman. Jumlah orang yang mencoba menempuh perjalanan tersebut juga meningkat 18% dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, kecelakaan kapal pada Maret 2026 menewaskan sembilan orang dan menyebabkan 45 lainnya hilang.

Direktur Jenderal IOM Amy Pope mengatakan tidak ada orang yang akan naik ke kapal dalam kondisi berbahaya seperti itu jika mereka merasa memiliki pilihan lain yang lebih aman.

“Tidak ada orang yang akan naik ke kapal seperti itu kecuali mereka percaya bahwa tidak ada cara lain yang aman,” kata Pope dalam sebuah pernyataan.

“Kita tidak bisa terus memperlakukan kematian ini sebagai sesuatu yang normal. Jalur migrasi yang aman dan legal menyelamatkan nyawa. Saya meminta pemerintah dan para donor untuk bertindak sebelum kapal berikutnya tenggelam.”

IOM pun mendesak para donor dan mitranya untuk meningkatkan dukungan terhadap upaya penanganan migrasi di Djibouti, termasuk operasi pencarian dan penyelamatan serta bantuan darurat untuk menyelamatkan nyawa.

Ketua Komisi Uni Afrika Mahmoud Ali Youssouf turut menyampaikan kesedihannya atas banyaknya korban jiwa dalam tragedi tersebut. Ia juga menekankan perlunya langkah mendesak untuk mengatasi persoalan mendasar yang mendorong migrasi ilegal.

Youssouf menyerukan upaya untuk “mengatasi akar penyebab migrasi tidak teratur, memerangi penyelundupan migran dan perdagangan manusia, serta mendorong migrasi yang aman, tertib, dan teratur.”

 

(luc/luc)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *