Home Finance Karhutla Tak Cuma Picu ISPA, Tumbuh Kembang Anak RI Terancam
Finance

Karhutla Tak Cuma Picu ISPA, Tumbuh Kembang Anak RI Terancam

Share
Karhutla Tak Cuma Picu ISPA, Tumbuh Kembang Anak RI Terancam
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan anak ternyata tidak selalu berhenti ketika api berhasil dipadamkan dan kabut asap menghilang. Paparan polusi dari kebakaran berulang dalam jangka panjang dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan hingga tumbuh kembang anak.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio.(K), mengingatkan bahwa partikel halus seperti PM2,5 yang terkandung dalam asap kebakaran dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu berbagai gangguan kesehatan. Bahkan, dampaknya berpotensi bertahan setelah paparan asap tidak lagi terlihat.

“Bisa jadi karhutlanya sudah tidak ada, tapi dampak jangka panjangnya bisa masih ada,” kata Piprim dalam Webinar Media IDAI bertajuk “Dampak Karhutla dan Meningkatnya Pneumonia pada Anak”, Selasa (3/11/2026).

Menurut Piprim, karhutla yang terjadi berulang dalam periode panjang dapat menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena anak-anak merupakan kelompok yang rentan terhadap dampak polusi udara.

“Karhutla yang berulang dan jangka waktu panjang ini tentu saja akan bisa mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak-anak kita,” ujarnya.

Selama ini, tenaga medis berupaya menangani berbagai gangguan kesehatan yang dialami anak akibat paparan asap karhutla, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, hingga pneumonia. Namun, persoalan tersebut dinilai tidak cukup diselesaikan hanya melalui penanganan medis setelah anak jatuh sakit.

Piprim menegaskan, pemerintah perlu mengambil langkah lebih serius untuk menghentikan kebakaran hutan dan lahan sesegera mungkin. Menurut dia, udara bersih merupakan hak setiap warga negara, termasuk anak-anak.

“Pemadaman kebakaran itu harus dilakukan sesegera mungkin karena udara bersih adalah hak asasi setiap warga negara Indonesia, termasuk anak-anak,” ujar Piprim.

Ia menilai berbagai upaya perlindungan seperti penggunaan masker dan pembatasan aktivitas di luar rumah hanya dapat mengurangi paparan asap untuk sementara waktu. Langkah tersebut bukan solusi utama selama sumber polusi masih terus berlangsung.

“Karena masalah seperti penggunaan masker, diam di rumah itu bukan solusi utama. Sebenarnya sementara saja. Solusi utamanya adalah pemadaman kebakaran hutan dan lahan sesegera mungkin, dalam waktu yang secepat-cepatnya. At all cost,” katanya.

Bahkan, Piprim meminta pemerintah tidak ragu mencari bantuan internasional apabila kemampuan penanganan karhutla di dalam negeri tidak mencukupi.

“Kalau pemerintah tidak sanggup, ya undang negara tetangga segera mungkin,” tegasnya.

Menurut Piprim, dampak kesehatan dan biaya penanganan penyakit akibat karhutla seharusnya menjadi alasan bagi pemerintah untuk lebih mengutamakan pencegahan serta pemadaman kebakaran. Ia berharap persoalan karhutla tidak terus berulang karena berpotensi menghambat upaya Indonesia menyiapkan generasi yang sehat dan berkualitas pada masa mendatang.

“Kalau perlu panggil negara tetangga itu supaya bantu pemadamannya,” pungkasnya.

(hsy/hsy)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *