Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih mengevaluasi usulan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI untuk mengimpor kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang. Persetujuan belum diberikan karena pemerintah saat ini masih menunggu spesifikasi teknis final dari kereta yang akan didatangkan.
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Allan Tandiono mengatakan, KAI telah menyampaikan proposal impor tersebut. Namun, pihaknya masih perlu memeriksa sejumlah aspek teknis sebelum mengambil keputusan.
“Mereka (PT KAI) sudah menyampaikan proposalnya. Sedang kami pelajari ya, sedang kami evaluasi, terutama terkait spesifikasi teknisnya,” ujar Allan kepada wartawan dalam diskusi Forwahub di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Menurut Allan, evaluasi antara lain mencakup konfigurasi tempat duduk dan keberadaan toilet di dalam rangkaian kereta asal Jepang. Hal tersebut perlu diperiksa untuk mengetahui apakah desain kereta dapat disesuaikan agar mampu mengangkut lebih banyak penumpang.
“Kita perlu tahu detail terkait kursi atau bangku, itu menghadap ke mana. Terus untuk kereta Jepang itu kan ada toiletnya ya. Nah apakah toiletnya akan dikeluarkan sehingga bisa mengangkut lebih banyak penumpang. Detail finalnya seperti apa, kami masih menunggu dari PT KAI,” jelasnya.
TANJUNG PRIOK, JAKARTA, JAN-06 : Workers lowered a series of electric train from Japan upon arrival at Tanjung Priok Port, Jakarta, on January 06,2016. A total of 18 units to serve commuter KRL Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang and Bekasi arrived at Tanjung Priok Port, marking the end of the procurement program trains 120 PT KAI Commuter Jabodetabek 2015. (Photo by Dasril Roszandi/NurPhoto) (Photo by NurPhoto/NurPhoto via Getty Images) Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto
|
Ia menegaskan, keputusan impor belum dapat dipastikan selama spesifikasi teknis yang diajukan KAI belum final.
“Kan perlu evaluasi spesifikasi teknisnya dulu ya,” ucap dia.
Rencana impor KRL bekas tersebut muncul di tengah meningkatnya kebutuhan armada untuk melayani penumpang Commuter Line Jabodetabek. Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin sebelumnya mengungkapkan, jumlah penumpang KRL pada semester I-2026 tumbuh 11,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut jauh di atas perkiraan pertumbuhan awal sebesar 3%-4%.
“Ini terjadi anomali kalau kita bandingkan 2025 di 2026, itu 11,5%. Ini semester I di semester I, itu 11,5%. Yang tadinya rata-rata penumpang harian itu di bawah 1 juta, sekarang itu sudah 1,1 juta,” ujar Bobby dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (23/9/2026).
Tekanan terhadap kebutuhan armada juga berasal dari faktor usia kereta. KAI mencatat sekitar 92 trainset telah berusia 40 tahun dan perlu dikonservasi secara bertahap. Persoalan tersebut diperkirakan semakin mendesak pada 2029, ketika sejumlah rangkaian memasuki usia sekitar 45 tahun dan menghadapi keterbatasan suku cadang serta penurunan kondisi material.
“Yang paling tinggi itu ada di 2029. Ketika trainset-trainset kita ini sudah berumur 45. Sudah berumur 45. 45 ini kita sudah tidak deal, satu sparepart-nya sudah tidak ada. Yang kedua, secara metal dia sudah mulai fatigue,” kata Bobby.
KAI menilai impor kereta bekas dapat menjadi solusi transisi untuk memenuhi kebutuhan armada sembari menunggu kapasitas produksi industri kereta dalam negeri berkembang. Pengadaan kereta baru dinilai membutuhkan waktu lebih panjang, sementara kereta bekas dari Jepang diharapkan dapat didatangkan lebih cepat.
Bobby juga menegaskan, penggunaan kereta bekas tersebut direncanakan hanya untuk jangka waktu terbatas, sekitar 10 tahun, sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan layanan sebelum pengadaan armada berikutnya terealisasi.
“Kalau kita impor baru, nantinya produksi kereta dalam negeri akan terganggu. Kalau bekas ini hanya untuk transisi,” ujar Bobby.
(wur)

Leave a comment