Jakarta, CNBC Indonesia – Sebuah studi terbaru mengungkap adanya hubungan antara pengasuhan orang tua dan munculnya ciri-ciri psikopatik pada anak. Temuan ini menegaskan bahwa pola asuh dan perilaku anak saling memengaruhi, sehingga pendekatan pengasuhan yang tepat dapat menjadi bagian penting dalam mendukung perkembangan psikologis anak.
Melansir PsyPost, studi ini menjadi tambahan bukti bahwa hubungan antara orang tua dan anak memainkan peran penting dalam perkembangan kesehatan mental sejak usia dini.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Child and Adolescent Psychopathology tersebut meneliti keterkaitan antara ciri-ciri psikopatik pada anak dengan berbagai praktik pengasuhan, sekaligus melihat bagaimana hubungan tersebut dipengaruhi oleh masalah perilaku yang dimiliki anak. Masalah ini termasuk perilaku yang tidak terkendali, perilaku agresif, pelanggaran aturan, dan kesulitan dalam mengikuti norma dan aturan sosial.
Sifat psikopatik, di sisi lain, mengacu pada serangkaian karakteristik kepribadian negatif yang meliputi kurangnya empati, ketidakpedulian, perilaku manipulatif, dan impulsif. Meskipun psikopati sering dikaitkan dengan orang dewasa, penelitian telah menunjukkan bahwa psikopati juga dapat hadir pada anak-anak dan remaja.
Sifat psikopatik pada masa kanak-kanak dan remaja biasanya dibagi menjadi tiga dimensi, seperti tidak berperasaan-tidak emosional, sombong-penipu, dan impulsif-kebutuhan akan stimulasi.
Penelitian menunjukkan bahwa praktik pengasuhan negatif dapat berkontribusi pada perkembangan ciri-ciri psikopatik pada anak.
Studi berjudul Psychopathic Traits and Parental Practices in Greek-Cypriot Community and Dutch Clinical Referred Samples melibatkan dua kelompok partisipan, yakni sampel komunitas di Yunani-Siprus yang terdiri dari 768 orang tua dan sampel klinis di Belanda dengan 217 orang tua.
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara ciri-ciri psikopatik dan praktik pengasuhan orang tua. Secara spesifik, tingkat ciri-ciri psikopatik yang lebih tinggi dikaitkan dengan tingkat perhatian yang lebih rendah dari orang tua. Selain itu, terdapat interaksi signifikan antara ciri-ciri psikopatik dan masalah perilaku terhadap kontrol orang tua. Dengan kata lain, anak-anak dengan tingkat ciri-ciri psikopatik dan masalah perilaku yang tinggi cenderung lebih dikontrol oleh orang tua.
Meski demikian, tim peneliti menegaskan bahwa pola pengasuhan bukan satu-satunya faktor yang bertanggung jawab atas perilaku anak; tetapi perilaku anak juga dapat memengaruhi praktik pengasuhan.
Anak-anak dengan sifat tidak berperasaan dan kurang empati mungkin dianggap menantang oleh orang tua, yang menyebabkan kelelahan orang tua dan praktik pengasuhan yang kurang positif.
Dengan memahami interaksi kompleks antara praktik pengasuhan dan perilaku anak, kita dapat mengembangkan intervensi yang lebih efektif untuk membantu anak-anak dengan psikopatologi menjalani kehidupan yang sehat.
(hsy/hsy)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment