Home Finance Korban Data Center Makin Banyak, Warga Ngamuk Rumah Digusur Paksa
Finance

Korban Data Center Makin Banyak, Warga Ngamuk Rumah Digusur Paksa

Share
Korban Data Center Makin Banyak, Warga Ngamuk Rumah Digusur Paksa
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Warga negara bagian Georgia, Amerika Serikat, meluapkan kemarahan setelah rencana penggusuran rumah dan lahan mereka diumumkan demi pembangunan jalur transmisi listrik yang nantinya sebagian besar akan digunakan untuk menyuplai kebutuhan data center AI.

Perusahaan listrik swasta yang didukung pemerintah negara bagian yaitu Georgia Power berencana merobohkan sekitar 30 unit rumah dan mengambil alih 330 bidang tanah. Lahan tersebut akan digunakan untuk jalur transmisi sepanjang seribu mil. Nantinya jalur ini akan menyalurkan hampir sepuluh ribu megawatt listrik dari pembangkit baru yang dibangun.

Sekitar delapan puluh persen energi tersebut dialokasikan untuk kebutuhan pusat data, sedangkan sisanya dibagi untuk rumah tangga, usaha, dan pelanggan lain.

Pihak perusahaan menawarkan ganti rugi kepada pemilik tanah untuk pindah secara sukarela. Jika tidak sepakat, hak penguasaan lahan atas nama kepentingan umum atau yang dikenal dengan hak pengambilalihan lahan negara akan digunakan. Kebijakan ini membuat warga yang tinggal di daerah perdesaan merasa keberatan karena harus meninggalkan tempat tinggal yang sudah lama dihuni hanya demi mendukung kebutuhan industri teknologi.

Salah satu warga bernama Ansley Brown menggunakan media sosial untuk menyuarakan protesnya. Rumah ibunya yang juga merupakan tempat tinggal masa kecilnya berada di jalur pembangunan tersebut.

“Kami tidak punya pilihan. Mereka akan memperluas jalur listrik. Tujuannya apa? Untuk pusat data. Semua ini dilakukan demi data center,” ujarnya dalam unggahan video di Instagram.

Kantor perwakilan anggota parlemen daerah tersebut yaitu Brian Jack menyatakan sudah menerima banyak permohonan bantuan dari warga yang terkena dampak. Sampai saat ini belum jelas sejauh mana pihak wakil rakyat dapat melakukan intervensi. Sementara itu pihak Georgia Power menyatakan negosiasi dengan keluarga Brown sudah selesai meskipun isi kesepakatan tidak diumumkan secara terbuka.

Kasus ini muncul di tengah meningkatnya perdebatan di berbagai wilayah Amerika Serikat terkait kebutuhan energi yang sangat besar untuk mengoperasikan data center AI.

Banyak daerah mulai menunda atau membatalkan rencana pembangunan fasilitas serupa karena kekhawatiran terhadap dampak lingkungan serta gangguan pada kehidupan warga sekitar. Kini tekanan semakin terasa karena permintaan daya komputasi untuk sistem AI terus meningkat pesat seiring berkembangnya teknologi tersebut.

(dem/dem)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *