Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan kini para petani tidak lagi khawatir jika ingin menanam padi yang dapat tumbuh di lahan yang tidak memungkinkan berkat inovasi dalam varietasi.
Kepala Badan Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP) Kementan Amin Nur mengatakan salah satu inovasi yang berhasil dilakukan dalam pertanian yakni varietas unggul padi, yang hampir 90% sudah diadopsi oleh masyarakat.
“Salah satu inovasi yang tersedia saat ini untuk padi, itu kita memiliki varietas unggul padi, dimana varietas ini hampir 90% itu sudah diadopsi oleh seluruh masyarakat di Indonesia,” kata Amin dalam World Food Day CNBC Indonesia, Jumat (30/10/2026).
Amin melanjutkan varietas unggul ini dinilai bisa untuk ditanam dalam kondisi lahan yang tidak memungkinkan seperti lahan kering, rawa, dan air payau.
“Jadi kalau boleh dibilang bahwa varietas unggul kita ini varietas yang memiliki istilahnya cerdas iklim. Contohnya ada yang kita punya varietas Inpari 32, ada Inpari 42, itu varietas-varietas yang bisa dikembangkan. Kemudian ada varietas untuk lahan kering, seperti Inpago 1, Inpago 2, dan lain-lainnya,” terang Amin.
Pihaknya menjelaskan ada beberapa varietas yang memiliki karakteristik unik dan tentunya berbeda-beda dari varietas lainnya. Contohnya Inpari, di mana varietas padi ini dapat bertahan di air payau dengan salinitas cukup tinggi.
“Nah, varietas ini juga memiliki keunggulan-keunggulan spesifik, seperti dia toleran terhadap kemasalahan tanah. Kemudian yang Inpari tadi itu ada yang toleran terhadap air payau dengan salinitas tinggi, ada juga yang toleran terhadap kekeringan,” jelas Amin.
Tak hanya itu saja, ada varietas yang juga bisa ditanam pada lahan yang lebih basah seperti rawa-rawa, di mana jenisnya yakni Inpara.
“Ada juga varietas kami yang bisa dikembangkan khusus di rawa-rawa atau lahan gambut yakni jenis Inpara, varietas ini tahan dengan keracunan besi dan aluminium,” ujar Amin.
Varietas ini pun juga didukung oleh mekanisasi pertanian sekaligus sistem pertanian modern yakni Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS).
“Kemudian dari inovasi yang kita kembangkan itu, ini diikuti dengan pengembangan sistem mekanisasi pertanian,” jelasnya.
Kerja sama dengan BRIN
Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mengungkapkan varietas padi yang ada sudah cukup lama, bahkan sudah hadir di era Presiden Soeharto, sehingga perlu ada penelitian agar dapat membuat varietas baru.
“Kita harus melakukan penelitian varietas baru, karena varietas padi yang sekarang tinggalan Pak Harto (Soeharto), dan kita belum ada penelitian yang baru. Oleh karena itu perlu kerja sama dengan BRIN untuk mengembangkan varietas-varietas baru, termasuk di daerah-daerah khusus seperti lahan air payau dan lain-lain,” kata Zulhas.
Selain penelitian varietas, perlu juga adanya peningkatan mekanisasi pertanian, agar produktivitas semakin meningkat.
“Mekanisasi juga perlu, tidak mungkin sekarang pertanian tanpa mekanisasi, karena kita akan mengalami produktivitas yang rendah, jadi kita tidak akan bisa bersaing. Saya ambil contoh, kalau nanam padi pakai orang manusia, 1 hektar perlu 24 orang. Tapi dengan mesin, satu mesin bisa 24 hektar satu hari. Jadi mau tidak mau harus melek teknologi,” terang Zulhas.
Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi Amin Nur meyampaikan pemaparannya dalam acara World Food Day ”Inovasi untuk Kedaulatan Pangan Indonesia” di Jakarta, Jumat (30/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi Amin Nur meyampaikan pemaparannya dalam acara World Food Day ”Inovasi untuk Kedaulatan Pangan Indonesia” di Jakarta, Jumat (30/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
|
(dce)

Leave a comment