
Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas naik ke level tertinggi lebih dari dua bulan pada Rabu setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) sesuai ekspektasi. Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada September.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (12/8/2026) ditutup di US$ 4407,06 per troy ons. Harganya melonjak 0,92%.
Kenaikan ini menjadi kabar baik setelah harganya melemah 0,49% pada perdagangan Selasa.
Harga penutupan kemarin juga menjadi yang tertinggi sejak 4 Juni 2026 atau dua bulan lebih. Ini juga menjadi awal kembalinya emas ke level US$ 4.400 per troy ons.
Harga emas nyaris tidak bergerak dan hanya menguat 0,01% pada perdagangan hari ini, Kamis (13/8/2026) pukul 06.54 WIB.
Indeks harga konsumen (CPI) AS pada Juli 2026 sesuai dengan ekspektasi.
Inflasi umum naik 0,1% secara bulanan, sementara tingkat inflasi tahunan mencapai 3,4%. CPI inti, yang tidak memasukkan harga makanan dan energi, naik 0,2% pada Juli dan 2,5% secara tahunan.
Tingkat inflasi tahunan untuk CPI umum maupun inti sedikit turun dibandingkan Juni.
Setelah data inflasi keluar, menurut CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga September sekitar 40%, turun dari 46% sebelum data inflasi dirilis.
“Data inflasi cukup menggembirakan. Angkanya memang lebih tinggi dibandingkan bulan lalu, tetapi masih sesuai dengan ekspektasi. Ditambah pelemahan dolar AS dan faktor teknikal, semuanya turut menopang kenaikan harga emas,” kata Edward Meir, analis Marex, dikutip dari Refinitiv.
The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% pada 29 Juli. Namun, tiga dari 12 anggota pemungutan suara mendukung kenaikan suku bunga.
Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan daya tarik emas karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Pasar kini menunggu data Producer Price Index (PPI) AS yang akan dirilis Kamis hari ini.
Di tengah memanasnya kembali konflik AS-Iran dan serangan terhadap kapal di kawasan, harga emas juga mendapat dukungan dari ketidakpastian geopolitik. Namun, jika konflik kembali meningkat dan harga minyak mendekati US$100 per barel, suku bunga berpotensi naik dan menekan harga emas.
Leave a comment