Home Finance Mitos atau Bukan, Jenis Kelamin Anak Bisa Ditentukan Sebelum Hamil?
Finance

Mitos atau Bukan, Jenis Kelamin Anak Bisa Ditentukan Sebelum Hamil?

Share
Mitos atau Bukan, Jenis Kelamin Anak Bisa Ditentukan Sebelum Hamil?
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Ramai di media sosial, beredar berbagai cara yang diklaim bisa membantu pasangan menentukan jenis kelamin calon bayi sebelum kehamilan terjadi. Mulai dari mengatur waktu berhubungan intim, memilih posisi tertentu saat berhubungan seks, hingga mengubah tingkat keasaman (pH) vagina melalui pola makan maupun cairan khusus.

Salah satu metode yang paling sering dibahas adalah metode Shettles, teori yang diperkenalkan dokter kandungan asal Amerika Serikat, Landrum Shettles, pada 1960-an. Bahkan, hingga kini masih ada sejumlah dokter dan fasilitas kesehatan yang menyarankan metode tersebut untuk meningkatkan peluang memperoleh anak dengan jenis kelamin tertentu.

Namun, benarkah cara tersebut terbukti secara ilmiah?

Hal ini dijelaskan oleh William dan Mutiara Rani dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dalam artikel “Benarkah berhubungan seks dekat masa subur bisa menentukan jenis kelamin anak?” yang dipublikasikan di The Conversation pada 11 Juni 2026.

Metode Shettles berangkat dari anggapan bahwa sperma pembawa kromosom Y, yang akan menghasilkan bayi laki-laki, bergerak lebih cepat menuju sel telur, tetapi memiliki daya tahan lebih pendek. Sebaliknya, sperma pembawa kromosom X, yang menghasilkan bayi perempuan, dianggap bergerak lebih lambat namun mampu bertahan hidup lebih lama.

Berdasarkan teori tersebut, pasangan yang menginginkan anak laki-laki disarankan berhubungan intim sedekat mungkin dengan masa ovulasi agar sperma Y lebih dulu mencapai sel telur. Sebaliknya, hubungan intim beberapa hari sebelum ovulasi dipercaya meningkatkan peluang memiliki anak perempuan karena sperma Y diperkirakan sudah mati sebelum terjadi pembuahan.

Tak hanya itu, metode Shettles juga menyarankan posisi berhubungan tertentu serta manipulasi pH vagina, misalnya melalui pola makan atau membilas vagina menggunakan larutan tertentu.

Meski cukup populer, berbagai penelitian menunjukkan metode tersebut tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat.

Hingga saat ini, belum ada bukti yang konsisten bahwa waktu berhubungan seksual di sekitar masa ovulasi dapat meningkatkan peluang memiliki bayi laki-laki maupun perempuan.

Begitu pula dengan anggapan bahwa posisi seksual tertentu dapat menentukan jenis kelamin bayi. Klaim tersebut juga belum pernah terbukti secara ilmiah.

Sementara itu, upaya mengubah pH vagina menggunakan garam atau cairan khusus justru dinilai berisiko. Praktik tersebut dapat mengganggu keseimbangan flora normal vagina sehingga meningkatkan risiko iritasi maupun infeksi.

Selain metode Shettles, berkembang pula anggapan bahwa pola makan ibu dapat memengaruhi jenis kelamin bayi.

Misalnya, konsumsi makanan tinggi natrium dan kalium disebut meningkatkan peluang memiliki anak laki-laki. Sebaliknya, makanan kaya kalsium dan magnesium dipercaya lebih mungkin menghasilkan anak perempuan.

Namun, hingga kini belum ada penelitian yang mampu membuktikan klaim tersebut secara konsisten.

Yang justru menarik perhatian ilmuwan berasal dari penelitian terbaru pada 2026 yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).

Studi tersebut menemukan bahwa paparan suhu lingkungan yang tinggi selama kehamilan berkaitan dengan menurunnya peluang kelahiran bayi laki-laki. Penyebabnya bukan karena suhu menentukan jenis kelamin, melainkan karena janin laki-laki dinilai lebih rentan terhadap stres lingkungan, terutama pada trimester pertama kehamilan.

Lalu mengapa metode seperti Shettles masih dipercaya sebagian masyarakat?

Menurut para peneliti, peluang kelahiran bayi laki-laki maupun perempuan secara alami memang hampir seimbang, yakni mendekati 50:50. Akibatnya, hampir semua metode akan terlihat berhasil pada sebagian pasangan meski sebenarnya hanya dipengaruhi faktor kebetulan.

Selain itu, pengalaman pribadi dan bias konfirmasi membuat seseorang cenderung menganggap suatu metode efektif ketika hasilnya sesuai harapan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances pada 2025 memang menemukan bahwa setiap pasangan kemungkinan memiliki kecenderungan biologis kecil untuk lebih sering memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu.

Studi yang melibatkan lebih dari 58 ribu perempuan tersebut menunjukkan variasi itu lebih dipengaruhi faktor biologis kompleks, termasuk kemungkinan pengaruh faktor genetik ibu dan perubahan lingkungan reproduksi seiring bertambahnya usia.

Meski demikian, para peneliti menegaskan pengaruh tersebut sangat kecil, tidak konsisten, dan belum dapat dijadikan dasar untuk menentukan jenis kelamin bayi melalui intervensi tertentu.

Berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia saat ini, para ahli menyimpulkan belum ada metode alami yang terbukti mampu menentukan jenis kelamin bayi secara konsisten sebelum kehamilan.

Peluang memiliki anak laki-laki maupun perempuan tetap mendekati 50:50.

Karena itu, pasangan yang sedang merencanakan kehamilan disarankan lebih fokus mempersiapkan kondisi kesehatan, seperti menjaga berat badan ideal, memenuhi kebutuhan nutrisi, mengontrol penyakit penyerta, menerapkan gaya hidup sehat, menjaga kualitas sperma, serta memastikan siklus menstruasi tetap teratur.

Dengan demikian, peluang memperoleh kehamilan yang sehat jauh lebih penting dibanding mengejar jenis kelamin tertentu yang hingga kini belum dapat dikendalikan secara alami.

(dce)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *