
Jakarta, CNBC Indonesia – Eskalasi konflik di Timur Tengah kian memanas usai rentetan serangan rudal balistik Iran menewaskan enam milisi Peshmerga dan melukai sekitar 30 orang lainnya di provinsi Erbil, Irak. Tragedi ini menandai peningkatan tajam dalam eskalasi serangan lintas batas yang menargetkan pasukan keamanan Kurdi-Irak.
Mengutip media India, News on Air, Rabu (23/09/2026), Kementerian Urusan Peshmerga Wilayah Kurdistan mengonfirmasi bahwa enam rudal balistik tersebut telah menghantam posisi militer strategis mereka di distrik Soran. Sasaran gempuran itu mencakup markas besar Divisi Infanteri ke-7 dan sebuah unit dari Divisi Infanteri ke-5.
“Serangan ini merupakan tindakan permusuhan dan pengkhianatan yang melanggar prinsip-prinsip hubungan bertetangga yang baik,” tegas pihak kementerian.
Serangan mematikan ini terjadi di tengah pola aktivitas militer Iran yang semakin intensif menargetkan wilayah Irak utara dalam beberapa minggu terakhir. Teheran diketahui secara agresif meluncurkan rudal dan pesawat tak berawak (drone) ke berbagai situs yang diklaimnya memiliki hubungan dengan pasukan Amerika Serikat (AS) dan kelompok oposisi Kurdi-Iran yang beroperasi di Wilayah Kurdistan, termasuk faksi seperti Partai Demokrat Kurdistan Iran dan Komala.
Para pejabat Irak dan Kurdi menyebut bahwa Iran memandang kelompok-kelompok ini, beserta infrastruktur keamanan yang lebih luas di Erbil, sebagai ancaman nyata bagi stabilitas internal mereka.
Kekhawatiran global kini semakin memuncak bahwa Wilayah Kurdistan dapat terseret lebih dalam ke pusaran konflik regional. Terlebih lagi, beberapa faksi Kurdi kini tengah ramai didiskusikan sebagai mitra potensial dalam kampanye yang didukung AS untuk melawan Iran.
Teror Drone di Erbil dan Baghdad
Selain hujan rudal balistik, ancaman drone juga terus menghantui Irak secara bertubi-tubi. Pada hari ini, dua drone dilaporkan jatuh di pusat kota Erbil seiring dengan intensitas serangan yang terus meningkat. Satu drone menghantam sebuah rumah warga, sementara satu lainnya mendarat di area terbuka. Beruntung, insiden ganda ini sama sekali tidak menimbulkan korban jiwa.
Sehari sebelumnya pada waktu petang, dua drone juga sukses menghantam fasilitas dukungan diplomatik AS di Bandara Internasional Baghdad. Serangan mengejutkan ini menandai insiden kedua dalam dua hari berturut-turut yang menargetkan fasilitas vital tersebut. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam serangan di area bandara ini.
“Fasilitas tersebut berfungsi sebagai pusat logistik dan administrasi bagi para diplomat dan personel Amerika, yang menampung area perumahan, zona penyimpanan, hingga bagian keamanan yang mendukung operasi kedutaan besar AS di seluruh Irak.”
Hingga saat ini, belum ada pihak yang secara langsung mengeklaim bertanggung jawab atas insiden drone di Erbil maupun Baghdad. Rentetan peristiwa ini membuktikan bahwa Irak kini semakin tersudut ke dalam konflik Asia Barat yang lebih luas, di mana wilayahnya perlahan berubah menjadi titik nyala yang terus berkembang bagi berbagai serangan yang menargetkan kepentingan Amerika di kawasan tersebut.
(tps/tps)
Leave a comment