
Jakarta, CNBC Indonesia – China kembali memperkuat kapasitas energi bersihnya setelah unit kedua Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Taipingling di Provinsi Guangdong resmi beroperasi secara komersial pada Senin. Pembangkit tersebut menggunakan Hualong One, reaktor nuklir generasi ketiga yang dikembangkan sendiri oleh China.
Beroperasinya unit kedua itu sekaligus menandai rampungnya tahap pertama proyek PLTN Taipingling secara penuh. Proyek ini menjadi pembangkit nuklir pertama di Kawasan Teluk Besar Guangdong-Hong Kong-Makau yang mengadopsi teknologi Hualong One.
Ketua CGN Huizhou Nuclear Power Co., Ltd., Zhang Guoqiang, mengatakan dua unit pada tahap pertama proyek tersebut diperkirakan mampu menghasilkan lebih dari 18 miliar kilowatt-jam listrik setiap tahun.
“Jumlah itu cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik hampir 2 juta penduduk sekaligus mengurangi emisi karbon dioksida hingga 16,63 juta ton per tahun,” ujar Zhang, seperti dikutip Xinhua, Selasa (4/8/2026).
PLTN Taipingling berlokasi di Kabupaten Huidong, Kota Huizhou, dan menjadi proyek nuklir pertama di Kawasan Teluk Besar Guangdong-Hong Kong-Makau yang mengadopsi teknologi Hualong One. Unit pertama telah lebih dulu beroperasi sejak April 2026, sementara proyek ini nantinya akan memiliki total enam unit reaktor.
Menurut Zhang, teknologi Hualong One telah memenuhi standar keselamatan global tertinggi dan menjadi tonggak penting dalam pengembangan industri tenaga nuklir China. Kehadiran pembangkit tersebut juga diharapkan memperkuat pasokan energi bersih sekaligus mendukung pengurangan emisi karbon di kawasan selatan China.
Sejumlah pakar menilai rampungnya tahap pertama PLTN Taipingling menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi di Kawasan Teluk Besar. Selain meningkatkan pasokan listrik rendah emisi, proyek ini juga menjadi bagian dari upaya Beijing mewujudkan target “karbon ganda”, yakni mencapai puncak emisi karbon sebelum 2030 dan netral karbon sebelum 2060.
Pemerintah China sendiri menargetkan terbentuknya sistem energi baru yang bersih, rendah karbon, aman, dan efisien pada 2030. Dalam rencana lima tahun terbaru, Beijing menegaskan akan terus mengembangkan tenaga nuklir secara proaktif dan terukur dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan.
Melalui target tersebut, kapasitas pembangkit listrik tenaga nuklir yang beroperasi di China diharapkan mencapai sekitar 110 gigawatt pada 2030. Hingga akhir 2025, negara itu telah memiliki 112 unit pembangkit nuklir yang beroperasi, sedang dibangun, maupun telah memperoleh persetujuan pembangunan.
Selama periode Rencana Lima Tahun ke-15 pada 2026-2030, jumlah reaktor nuklir yang beroperasi secara komersial di China diperkirakan akan melampaui 100 unit, memperkuat posisi negara tersebut sebagai salah satu kekuatan utama dunia dalam pengembangan energi nuklir.
(tfa/sef)
Leave a comment