Home Finance Pasokan China Menipis, Listrik Padam di India
Finance

Pasokan China Menipis, Listrik Padam di India

Share
Pasokan China Menipis, Listrik Padam di India
Share


Jakarta, CNBC Indonesia- Harga batu bara melonjak lagi setelah China dan India melaporkan kekurangan pasokan.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Senin (12/10/2026) menguat 0,7% ke US$ 151,55 per ton. Harganya sudah naik dua hari beruntun.



Harga Batu Bara Melonjak di China

Harga batu bara termal China melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun.

Kenaikan ini dipicu oleh lambatnya pertumbuhan produksi domestik dan gangguan pasokan dari Indonesia, pemasok utama batu bara China, di tengah reli harga energi akibat perang AS-Iran.

Menurut Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China, harga acuan batu bara untuk pembangkit listrik mencapai CNY1.004 atau sekitar US$150 per ton pada Senin (12/10/2026).

Ini menjadi kali pertama harga menembus level CNY 1.000 dalam dua tahun. Sejak pertengahan Juli, harga batu bara tersebut telah melonjak sekitar 25%.

 

Batu bara masih menjadi sumber utama pembangkit listrik China, dengan kontribusi sekitar separuh dari bauran listrik negara tersebut, meskipun pengembangan energi terbarukan meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Produksi batu bara domestik China turun lebih dari 3% sepanjang Januari-Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan ini terjadi setelah pemerintah memperketat pengawasan keselamatan menyusul kecelakaan tambang mematikan di Provinsi Shanxi pada Mei lalu.

Pasar sebelumnya berharap produksi batu bara Shanxi pulih dengan tambahan kapasitas produksi tahunan sekitar 31 juta ton hingga akhir tahun.

Namun, persetujuan untuk mengoperasikan kembali tambang-tambang yang dihentikan berjalan lebih lambat dari perkiraan.

Pemerintah diperkirakan tetap berhati-hati menjelang pertemuan besar Partai Komunis pada akhir Oktober, sehingga pelonggaran aturan keselamatan dalam waktu dekat dinilai terbatas.

 

Selain itu, pemeliharaan selama tiga pekan pada jalur kereta batu bara utama China hingga 26 Oktober diperkirakan turut mempertahankan tekanan kenaikan harga.

Di tengah kendala produksi domestik, pengiriman batu bara dari Indonesia, pemasok utama batu bara termal impor China, juga turun tajam sepanjang tahun ini.

Penurunan terjadi setelah pemerintah Indonesia berupaya membatasi produksi untuk memulihkan harga batu bara dan meningkatkan penerimaan negara.

Belakangan, kekeringan yang berkaitan dengan fenomena El Niño turut menurunkan permukaan air sungai di sejumlah wilayah pertambangan batu bara Indonesia. Kondisi tersebut memaksa operator tongkang mengurangi muatan, sehingga pengiriman batu bara semakin terhambat.

Tekanan harga diperkirakan berlanjut karena konsumsi batu bara China biasanya meningkat selama musim dingin.

 

Di sisi lain, gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG), yang menjadi bahan bakar alternatif untuk pembangkit listrik, juga mengalami lonjakan harga sepanjang tahun ini. Perang di Timur Tengah menghambat pasokan Qatar akibat terganggunya jalur pengiriman melalui Selat Hormuz.

Dari Eropa dilaporkan kontrak berjangka batu bara Eropa mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua tahun. Kontrak November API2 naik menjadi US$146,80 per ton. Sementara itu, harga batu bara Afrika Selatan turut menguat didorong kuatnya permintaan dari Asia dan terbatasnya ketersediaan pasokan untuk pengiriman dalam waktu dekat.

Pembeli dari China kembali aktif mencari pasokan setelah libur Golden Week, dengan mengajukan permintaan pembelian baru. Namun, tingginya harga batu bara masih membatasi permintaan.

India Padamkan Listrik

Persoalan pasokan juga melanda India.

Pemadaman listrik mulai melanda rumah tangga, pabrik kecil, dan pabrik baja di India.

Kondisi ini terjadi ketika persediaan batu bara di banyak pembangkit listrik merosot, sementara permintaan listrik melonjak akibat cuaca yang lebih panas dan penurunan tajam produksi listrik tenaga air.

 

Permintaan listrik yang melampaui pasokan dalam beberapa pekan terakhir memicu pemadaman di sejumlah wilayah, termasuk bagi rumah tangga, pabrik kecil, dan fasilitas peleburan logam, Bloomberg melaporkan pada Senin.

Fenomena El Niño yang kuat menyebabkan musim monsun India menjadi yang terlemah dalam satu dekade, sekaligus mendorong suhu melampaui rata-rata normal untuk periode ini. Kondisi tersebut menekan pasokan listrik ketika minimnya curah hujan mengurangi produksi listrik tenaga air dan stok batu bara di puluhan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mencapai level kritis.

Data pemerintah pada akhir September menunjukkan, proporsi PLTU yang memiliki persediaan batu bara sangat rendah melonjak dalam beberapa pekan terakhir hingga melampaui 40% dari seluruh pembangkit batu bara yang beroperasi.

Pada 1 Oktober, sebanyak 85 pembangkit tercatat memiliki stok batu bara di bawah 25% dari kebutuhan normalnya.

Hal ini menunjukkan tekanan yang semakin besar terhadap rantai pasokan batu bara, menurut analisis triwulanan sektor kelistrikan India periode Juli-September 2026 dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), lembaga riset yang berbasis di Finlandia.

 

El Niño yang kuat dan cuaca lebih panas semakin membebani pasokan batu bara India. Pembangkit listrik kini membakar batu bara lebih cepat di tengah rendahnya produksi listrik tenaga air dan lonjakan permintaan listrik.

Tekanan terhadap stok batu bara dan pembangkitan listrik mulai berdampak pada aktivitas ekonomi, menurut sejumlah pelaku industri kepada Bloomberg.

Pabrik-pabrik baja skala kecil di Chhattisgarh, India tengah, menghadapi pemadaman selama 10 hingga 12 jam per hari. Kondisi tersebut memaksa mereka mengurangi produksi, kata Manish Dhuppad, Sekretaris Jenderal Chhattisgarh Mini Steel Plant Association, kepada Bloomberg.

Pemadaman listrik juga meningkatkan biaya energi bagi pabrik dan produsen baja karena mereka harus beralih menggunakan generator berbahan bakar mahal.

Rumah tangga turut terdampak. Di Uttar Pradesh, negara bagian dengan populasi terbesar di India yang dihuni lebih dari 240 juta orang, sejumlah desa mengalami pemadaman listrik hingga tujuh jam sehari

(mae/mae)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *