
Jakarta, CNBC Indonesia – Paus Leo yang berusia 71 tahun didiagnosis menderita adenokarsinoma paru, sebuah bentuk kanker paru-paru yang umum ditemui. Diagnosis tersebut terkonfirmasi setelah dokter berhasil mengangkat lobus bawah paru-paru kanannya dalam operasi pada hari Selasa, ungkap buletin medis Vatikan.
Mengutip CNBC, Rabu (14/10/2026), Paus dirawat di rumah sakit Gemelli, Roma, pada hari Selasa untuk menjalani operasi pengangkatan jaringan tumor di paru-parunya yang ditemukan oleh dokter dalam pemeriksaan kesehatan baru-baru ini. Operasi yang berlangsung selama sekitar 90 menit tersebut berjalan sukses tanpa komplikasi, dan Paus kini telah sadar secara normal serta beristirahat di kamar rumah sakitnya.
Kepala bedah toraks di Gemelli sekaligus dokter bedah utama Paus, Profesor Stefano Margaritora, membeberkan rincian lebih lanjut mengenai tindakan medis yang dilakukan oleh timnya.
“Untuk membuat prosedur ini kuratif, lobus bawah paru-paru kanan diangkat menggunakan teknik berbantuan video,” kata Margaritora.
“Pemeriksaan histologis intraoperatif yang cepat mengonfirmasi diagnosis adenokarsinoma paru, seperti yang telah dicurigai dari tes pra operasi.”
Sebelumnya, Paus Leo meninggalkan Vatikan menjelang operasi sesaat sebelum pukul 1 siang waktu setempat. Ia terlihat melambai dari kursi belakang sebuah SUV hitam saat konvoinya menempuh perjalanan sekitar 9 kilometer ke utara menuju Gemelli. Setibanya di sana, ia berjabat tangan dengan beberapa pejabat dan berjalan melewati kerumunan simpatisan yang meneriakkan ‘Auguri’ (harapan terbaik) sebelum masuk melalui pintu utama.
Vatikan menyatakan bahwa Paus diperkirakan akan menjalani masa pemulihan di rumah sakit selama sekitar satu minggu, dan seluruh acara publiknya resmi dibatalkan hingga 20 Oktober mendatang.
Terpilih oleh para kardinal dunia pada Mei 2025 menggantikan mendiang Paus Fransiskus yang meninggal pada usia 88 tahun, Paus Leo terbilang relatif muda untuk memimpin Gereja. Ia dikenal gemar berolahraga tenis, bukan seorang perokok, dan tidak memiliki riwayat masalah kesehatan serius baru-baru ini. Paus Leo juga memiliki jadwal yang sangat padat, termasuk rencana tur 11 hari ke Uruguay, Argentina, dan Peru pada 6 hingga 17 November nanti.
Sebagai pemegang otoritas duniawi tertinggi bagi 1,4 miliar umat Katolik, Paus tidak memiliki wakil yang dapat mengambil alih secara penuh posisinya ketika ia sakit. Saat ini, birokrasi Vatikan yang luas akan tetap berjalan seperti biasa, namun menunda segala keputusan penting yang secara mutlak membutuhkan persetujuan kepausan.
Lahir di Chicago pada tahun 1955 dengan nama asli Robert Prevost, Paus Leo mengabdi selama puluhan tahun sebagai misionaris dan uskup di Peru. Saat masih menjadi imam muda pada tahun 1985, ia sempat terserang demam tifoid parah di Chulucanas dan harus dirawat di rumah sakit.
Dalam wawancara untuk buku terbitan Penguin Peru, ia menceritakan betapa luar biasa rasa sakitnya kala itu hingga ia meminta Tuhan agar dirinya meninggal dunia saja daripada terus menderita. Namun, ia menganggap kelangsungan hidupnya sebagai sebuah tanda kebesaran dari Tuhan.
“Saya tidak pernah menoleh ke belakang,” tutur Paus Leo.
(tps/tps)
Leave a comment