Home Finance PBB Bongkar Kebohongan Besar AI yang Harus Diketahui Warga RI
Finance

PBB Bongkar Kebohongan Besar AI yang Harus Diketahui Warga RI

Share
PBB Bongkar Kebohongan Besar AI yang Harus Diketahui Warga RI
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyoroti ancaman kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang berpotensi memperlebar jurang digital antara negara maju dan negara berkembang.

Perkembangan AI menjadi sorotan dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York pada September 2026. Meski berbagai negara melihat AI sebagai teknologi yang menjanjikan, perbedaan pandangan masih muncul terkait pengawasan risiko serta pemerataan manfaatnya.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menilai AI memiliki kemampuan untuk mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk meningkatkan layanan kesehatan dan mendorong kemajuan ilmu pengetahuan.

“AI memang merupakan pengubah permainan, dengan potensi besar untuk memajukan kedokteran, mempercepat penemuan ilmiah, memperluas peluang, dan meningkatkan kehidupan,” ujar Guterres dikutip dari UN News, Jumat (23/10/2026).

Namun, PBB menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara mendorong inovasi dan memperkuat pengawasan. Tanpa pengamanan yang memadai, perkembangan AI berisiko memicu kehilangan pekerjaan, memperdalam kesenjangan digital antara negara maju dan berkembang seperti Indonesia, serta membuka peluang penyalahgunaan teknologi.

Presiden Majelis Umum PBB Khalilur Rahman menegaskan dunia tidak boleh menghambat inovasi, tetapi tetap harus menyiapkan aturan untuk mengantisipasi dampak negatif AI.

“AI dapat menjadi akselerator yang kuat bagi kemajuan manusia; oleh karena itu, kita tidak boleh menutup pintu bagi inovasi,” kata Rahman.

Sejumlah negara juga menyampaikan pendekatan berbeda dalam mengelola perkembangan AI. Swiss menekankan pentingnya regulasi yang dapat membangun kepercayaan tanpa menghambat manfaat teknologi. Jepang mendorong kerja sama untuk memastikan keamanan AI mutakhir, sedangkan Arab Saudi menyoroti aspek etika dan penggunaan AI yang bertanggung jawab.

Singapura turut mendorong pengujian teknologi, pembangunan kepercayaan, serta pelaporan insiden lintas negara. Negara tersebut juga mengingatkan risiko yang muncul seiring meningkatnya kemampuan sistem AI untuk beroperasi secara otonom.

Guterres menilai persoalan utama bukan terletak pada teknologi itu sendiri, melainkan pada lemahnya pertanggungjawaban dan pengawasan terhadap penggunaannya.

“Bahayanya bukanlah teknologi. Bahayanya adalah teknologi tanpa akuntabilitas, kemampuan tanpa pengawasan. Pengambilan keputusan tanpa transparansi,” pungkasnya.

(dem/dem)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *