
Jakarta, CNBC Indonesia – Peraih Nobel Ekonomi 2024 James A. Robinson menyoroti adanya risiko yang berpotensi terjadi dari target pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Bahkan Ia memberikan contoh China dan Uni Soviet akan hal ini.
Robinson mengatakan China telah mencapai keberhasilan ekonomi yang besar. Namun, ada risiko yang menghantui China setelah menggapai keberhasilan tersebut.
“Kami mengakui bahwa China telah mencapai keberhasilan ekonomi yang besar. Namun, pertumbuhan ekonomi yang kuat selama beberapa dekade dapat membuat kita terkecoh dan berpikir bahwa suatu negara telah berhasil menyelesaikan seluruh persoalan pembangunannya,” kata Robinson dalam diskusi yang diselenggarakan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) bersama Prasasti Center for Policy Studies, Senin (12/10/2026).
Robinson beranggapan kelembagaan inklusif tidak dapat dipertahankan hanya berdasarkan kehendak kelompok elite yang sempit. Namun di China, hal tersebut semakin terlihat.
“Kita tentu dapat memperdebatkan seberapa terbatas kelompok elite yang berkuasa di China. Namun, menurut pengamatan saya, kekuasaan di negara tersebut tampak semakin terpusat pada sosok pemimpin tertentu. China justru sedang membentuk rezim yang semakin personalistik, menyerupai sistem yang pernah dibangun Mao Zedong,” terang Robinson.
Bahkan Ia mencontohkan pengusaha Jack Ma, yang dahulu sering muncul di masyarakat, kini mulai redup karena menyampaikan kritik yang relatif terbatas terhadap regulasi pemerintah.
“Jack Ma merupakan simbol gelombang pertama reformasi ekonomi China dan munculnya para pengusaha pada dekade 1980-an. Lalu, apa yang terjadi dengan Jack Ma? Dalam pandangan saya, keberadaannya seolah-olah dihapus dari sejarah. Hal ini terjadi setelah Jack Ma menyampaikan kritik yang relatif terbatas terhadap regulasi pemerintah,” jelas penulis buku Why Nations Fail? tersebut.
Robinson menjelaskan kejadian tersebut menunjukkan persoalan yang mendasar mengenai hubungan antara kekuasaan politik, kebebasan berpendapat, dan ruang bagi para pelaku usaha.
“Pada suatu titik, pasti akan ada sesuatu yang harus berubah. Sistem seperti ini pada akhirnya akan menghadapi persoalan yang tidak dapat terus-menerus diabaikan,” ujarnya.
Robinson juga mencontohkan Uni Soviet, yang sekarang pecah menjadi Rusia dan beberapa negara lainnya, di mana dahulu Uni Soviet sempat menjadi pesaing besar Amerika Serikat (AS), kini beberapa bagian pecah.
“Uni Soviet digambarkan sedang mengejar Amerika Serikat dan diperkirakan akan menyamai tingkat perkembangannya sekitar 2000. Namun akhirnya, Uni Soviet sudah tidak ada lagi pada 2000. Namun di 1961, banyak orang menganggap bahwa Uni Soviet akan bertahan selamanya,” ungkap Robinson.
Saat itu, AS mulai khawatir dengan perkembangan teknologi Uni Soviet., termasuk dalam hal teknologi ke luar angkasa. Namun pada akhirnya, upaya Soviet untuk mempertahankan eksistensinya tidak bertahan lama.
“Saat itu, muncul kekhawatiran bahwa AS tertinggal dari Uni Soviet dalam perkembangan teknologi. Pada 1967, Uni Soviet masih digambarkan akan mengejar AS pada 2000. Namun, pada 1970, perkiraan tersebut mulai diundur hingga 2010.
Tampaknya, perkiraan tersebut tidak akan tercapai, mengingat Rusia yang menjadi pecahan Uni Soviet masih berusaha menyaingi AS dalam hal teknologi apapun.
“Perkiraan tahun ketika Uni Soviet akan menyamai AS terus diundur, hingga akhirnya perkiraan tersebut mulai hilang dari beberapa buku ekonomi,” pungkasnya.
Contoh Uni Soviet dan China tersebut menegaskan pesan Robinson bahwa keberhasilan ekonomi pada suatu periode tidak serta-merta menjamin keberlanjutan sistem pembangunan.
Pertumbuhan perlu berjalan beriringan dengan kelembagaan yang mampu menjaga keseimbangan kekuasaan dan memberikan ruang bagi masyarakat serta pelaku usaha.
(chd/haa)
Leave a comment