Home Finance Perak Jatuh 6% Sepekan, Tersengat Inflasi AS-Sinyal Hawkish The Fed
Finance

Perak Jatuh 6% Sepekan, Tersengat Inflasi AS-Sinyal Hawkish The Fed

Share
Perak Jatuh 6% Sepekan, Tersengat Inflasi AS-Sinyal Hawkish The Fed
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga perak terperosok pekan ini karena para pelaku pasar mencermati prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve lebih lanjut tahun ini, menyusul serangkaian data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan.

Mengutip data Refinitiv, harga perak spot pada sesi perdagangan Jumat (16/10/2026) tercatat US$57,0057 per onz atau melemah 0,7% dibandingkan hari sebelumnya. Sementara secara mingguan jatuh 6,23%.

Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyuarakan optimisme tentang kekuatan ekonomi Amerika Serikat tetapi tidak memberikan petunjuk apa pun tentang arah kebijakan suku bunga bank sentral.

Indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat (AS) naik 0,6% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada September, dengan kenaikan tahunan mencapai 3,7%. Angka bulanan sesuai dengan ekspektasi, tetapi inflasi tahunan lebih tinggi dari perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones, yakni 3,6%.

Tidak termasuk harga pangan dan energi, inflasi inti (core CPI) masing-masing naik 0,3% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan. Kedua angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonom sebesar 0,2% dan 2,5%.


Philip Blancato, Kepala Strategi Pasar Osaic, mengatakan kepada CNBC bahwa data tersebut membuat peluang perubahan kebijakan Federal Reserve (The Fed) pada Desember kembali terbuka lebar.

Ia juga memperkirakan inflasi inti berpotensi mencapai 3% pada tahun depan, seiring dampak kenaikan harga minyak.

Laporan inflasi tersebut dirilis ketika harga minyak masih tinggi dan konsumen harus membayar lebih mahal untuk bensin. Menurut AAA, harga bensin rata-rata mencapai US$4,33 per galon, dibandingkan sekitar US$3,08 per galon setahun sebelumnya.

Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austin Goolsbee, mengatakan data tersebut mengecewakan, sementara Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, mengatakan The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga lebih agresif jika terjadi penurunan yang signifikan dalam ekspektasi inflasi masyarakat.

Para pelaku pasar sebagian besar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tetap stabil bulan ini, sementara memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 90% pada bulan Desember, menurut FedWatch Tool dari CME.

Meskipun perak biasanya dianggap sebagai alternatif emas sebagai pelindung terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik logam yang tidak memberikan imbal hasil ini.

(ras)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *