
Jakarta, CNBC Indonesia – Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama melancarkan serangan politik terhadap Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu pada 3 November 2026. Obama menuding perang AS dan Israel melawan Iran sebagai keputusan fatal yang memperburuk keamanan Amerika sekaligus mendorong kenaikan harga energi dan biaya hidup masyarakat.
Obama menyampaikan kritik tersebut dalam kampanye Partai Demokrat di Morrow, Georgia, Rabu. Ia hadir untuk mendukung Senator Jon Ossoff yang berjuang mempertahankan kursinya melawan kandidat Republik Mike Collins, serta Keisha Lance Bottoms yang bersaing dengan Rick Jackson dalam pemilihan gubernur Georgia. Hasil pemilu akan ikut menentukan partai yang menguasai Kongres AS selama dua tahun berikutnya.
“Presiden saat ini telah mengambil serangkaian keputusan buruk, yang paling fatal adalah memulai perang yang tidak perlu, perang yang tidak diminta maupun dipilih oleh siapa pun,” ujar Obama, seperti dikutip Al Jazeera, Kamis (29/10/2026).
Ia menilai konflik dengan Iran bertentangan dengan janji pemerintahan Trump dan memperingatkan bahwa perang tersebut belum benar-benar berakhir meski sebelumnya ada upaya gencatan senjata dan perundingan.
Obama juga menyoroti dampak konflik terhadap keamanan dan ekonomi AS. Ia mengatakan persediaan senjata Amerika, khususnya rudal pencegat Patriot, dilaporkan menipis, sementara penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengganggu jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Menurut Obama, situasi tersebut ikut menjelaskan kenaikan harga minyak dan bahan bakar diesel yang membebani masyarakat.
“Stok rudal kita telah berkurang, yang membuat kita semakin rentan. Kini, Iran memegang kendali atas Selat Hormuz,” kata Obama kepada para pendukungnya. Ia menambahkan bahwa lonjakan harga energi turut mendorong kenaikan harga berbagai barang, sehingga masyarakat harus menanggung konsekuensi dari keputusan pemerintah.
Selain perang, Obama menyerang kebijakan tarif perdagangan Trump yang menurutnya justru membebani konsumen.
“Para ekonom sudah memperingatkan bahwa ketika tarif diberlakukan, konsumenlah yang harus menanggung biayanya. Dan itulah yang benar-benar terjadi,” ujarnya.
Obama juga mengkritik hubungan dagang Trump dengan Kanada serta pendekatan pemerintahannya terhadap sekutu-sekutu AS.
Obama turut menyindir Trump yang dinilainya lebih sibuk mempercantik Gedung Putih ketimbang menyelesaikan persoalan negara. Ia mengejek penggunaan dekorasi emas di Ruang Oval dan menyebut Trump seperti sedang mengerjakan kerajinan tangan di tengah perang dan lonjakan harga. Sindiran itu melanjutkan lelucon Obama sebelumnya yang membandingkan renovasi Gedung Putih dengan restoran Cheesecake Factory bergaya Saddam Hussein.
Menutup pidatonya, Obama memperluas kritiknya dari persoalan ekonomi dan perang ke nilai-nilai dalam pemerintahan. Ia memperingatkan bahwa kebohongan, kecurangan, dan intimidasi dari pejabat tertinggi dapat merusak kehidupan publik.
Kampanye tersebut menjadi bagian dari upaya Demokrat menggalang dukungan menjelang pemilu, ketika isu perang Iran, biaya hidup, dan kebijakan Trump menjadi bahan utama pertarungan politik.
(tfa/sef)
Leave a comment