
Jakarta, CNBC Indonesia – Pohon dewandaru sudah lama hidup di dua dunia sekaligus.
Ia menjadi bagian dari cerita rakyat tentang keberuntungan, pesugihan, hingga pertanda bencana. Di sisi lain, tanaman bernama ilmiah Eugenia uniflora itu justru lebih sering muncul dalam jurnal ilmiah sebagai sumber senyawa antioksidan dan antimikroba.
Dua narasi tersebut berjalan beriringan, tetapi berasal dari landasan yang sama sekali berbeda. Mitos lahir dari tradisi lisan dan kepercayaan masyarakat. Sementara penelitian menguji kandungan kimia, aktivitas biologis, dan manfaatnya melalui metode ilmiah.
Dewandaru sebenarnya bukan tanaman asli Indonesia. Spesies ini berasal dari Suriname, Brasil, Uruguay, dan wilayah lain di Amerika Selatan.
Tanaman tersebut kemudian menyebar ke kawasan tropis, termasuk Indonesia, karena mampu beradaptasi pada berbagai jenis tanah dan iklim. Di Indonesia, dewandaru juga dikenal sebagai ceremai londo, ceri Suriname, atau asam selong.
Selain unik sebagai buah merah bergelombang dengan rasa manis-asam, kandungan kimianya juga menarik perhatian. Buah dewandaru mengandung vitamin A, vitamin C, beta-karoten, karotenoid, kalium, magnesium, fosfor, dan kalsium. Daunnya mengandung flavonoid, tanin, fenolik, serta minyak atsiri yang banyak diteliti karena aktivitas antioksidan dan antibakterinya.
Sejumlah penelitian menemukan ekstrak daun dewandaru mampu menghambat pertumbuhan beberapa bakteri, termasuk Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.
Penelitian lain juga melaporkan aktivitas antijamur terhadap beberapa spesies Candida. Kandungan flavonoid dan fenolik bekerja sebagai penangkap radikal bebas yang berpotensi mengurangi kerusakan sel akibat stres oksidatif.
Meski demikian, sebagian besar hasil tersebut masih berasal dari uji laboratorium maupun penelitian pada hewan. Bukti klinis pada manusia masih terbatas sehingga dewandaru belum dapat diposisikan sebagai obat untuk penyakit tertentu. Para peneliti umumnya menyebut tanaman ini memiliki potensi farmakologis yang masih membutuhkan uji klinis lebih lanjut.
Mitos Dewandaru
Di Indonesia, perhatian publik terhadap dewandaru justru lebih banyak dipicu oleh kisah-kisah yang berkembang turun-temurun.
Mitos paling populer menyebut seseorang yang kejatuhan daun, ranting, atau buah dewandaru akan memperoleh rezeki besar.
Karena keyakinan itu, banyak peziarah di beberapa lokasi sengaja menunggu buah atau daun jatuh dari pohonnya. Bagian tanaman tersebut kemudian disimpan sebagai jimat atau pembawa keberuntungan.
Pohon dewandaru menjadi salah satu daya tarik yang paling dikenal di kawasan wisata religi Gunung Kawi, Malang. Pohon ini lekat dengan berbagai kisah dan tradisi yang telah berkembang selama puluhan tahun di kalangan peziarah.
Dalam kepercayaan yang hidup di masyarakat, daun, ranting, atau buah dewandaru yang jatuh secara alami kerap diyakini sebagai simbol keberuntungan dan datangnya rezeki. Tak sedikit peziarah yang menunggu atau mencari bagian pohon yang gugur dengan harapan memperoleh berkah.
Meski demikian, keyakinan tersebut merupakan bagian dari tradisi dan warisan budaya yang berkembang di tengah masyarakat, bukan sesuatu yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
Menariknya, meski menjadi ikon Gunung Kawi, pohon dewandaru tidak tumbuh memenuhi seluruh kawasan gunung.
Keberadaannya lebih banyak dijumpai di sekitar kompleks ziarah yang menjadi pusat aktivitas spiritual, sekaligus menjadikan dewandaru sebagai salah satu simbol paling terkenal dari Gunung Kawi.
Cerita paling dikenal di kawasan Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jawa Timur adalah di kompleks makam yang dikaitkan dengan tokoh spiritual Eyang Djoego menjadi salah satu tujuan para peziarah.
Legenda setempat menyebut pohon tersebut tumbuh dari tongkat pengawal Pangeran Diponegoro. Versi lain menghubungkannya dengan berkah spiritual dari Eyang Djoego. Kepercayaan tersebut berkembang selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari tradisi ziarah di kawasan itu.
Ada pula mitos yang berkembang di Karimunjawa, Jawa Tengah. Pohon dewandaru dipercaya ditanam oleh Sunan Nyamplungan.
Masyarakat setempat meyakini pohon itu tidak boleh ditebang atau dibawa keluar dari pulau.
Pelanggaran terhadap larangan tersebut dipercaya dapat memicu musibah di laut. Beberapa cerita rakyat bahkan mengaitkan kecelakaan kapal dengan pelanggaran terhadap pantangan tersebut, meski tidak pernah ada bukti ilmiah yang menghubungkan keduanya.
Narasi lain yang sempat beredar menyebut dewandaru menjadi pertanda sebelum terjadinya tsunami Aceh 2004. Klaim itu muncul bertahun-tahun setelah bencana dan berkembang dari cerita lisan masyarakat. Hingga kini tidak ada penelitian geologi maupun kajian ilmiah yang menunjukkan pohon dewandaru memiliki kemampuan mendeteksi gempa atau tsunami.
Secara ilmiah, tanaman memang dapat merespons perubahan lingkungan seperti kekeringan, suhu, atau kadar air tanah. Namun respons tersebut tidak dapat digunakan sebagai sistem peringatan bencana.
Pergerakan Ekspor
Dalam klasifikasi HS 08109094 yang mencakup berbagai buah tropis segar dari genus Syzygium dan Eugenia, nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-Desember 2025 mencapai US$92.170 atau sekitar US$0,092 juta.
Nilai tersebut melonjak 69,45% dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan permintaan mulai tumbuh meski basisnya masih rendah. Malaysia menjadi tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$27.885, disusul Jerman sebesar US$15.492 dan Belanda US$12.020. Pasar Eropa terlihat mulai melirik komoditas ini.
Lonjakan pertumbuhan bahkan terjadi ke Inggris, Spanyol, Kuwait, dan Arab Saudi, meski nilai transaksinya masih terbatas.
Data ini menunjukkan dewandaru belum menjadi komoditas ekspor utama Indonesia, tetapi sudah memiliki ceruk pasar di sejumlah negara.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Leave a comment