Home Finance RI Siap Umumkan Kabar Gembira Hari Ini?
Finance

RI Siap Umumkan Kabar Gembira Hari Ini?

Share
RI Siap Umumkan Kabar Gembira Hari Ini?
Share

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam kemarin, bursa saham menguat sementara rupiah melemah.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar keuangan Indonesia hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit pada perdagangan Rabu (4/11/2026).

IHSG ditutup menguat 15,48 poin atau 0,32% ke posisi 4.919,77, setelah sehari sebelumnya anjlok 3,78%.

Sebelumnya, IHSG sempat tertekan pada awal perdagangan hingga menyentuh kisaran 4.826. Memasuki sesi kedua, indeks bergerak cenderung mendatar sebelum berbalik menguat setelah pukul 14.00 WIB.

Penguatan semakin terlihat menjelang penutupan perdagangan, membawa IHSG ditutup mendekati level tertinggi hariannya di kisaran 4.920.

Total volume perdagangan mencapai 26,7 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp10,8 triliun.

Sebanyak 190 saham menguat, 439 melemah dan 88 stagnan.

Investor asing akhirnya mencatat net buy sebesar Rp 257,94 miliar kemarin.

Dari sisi sentimen, perhatian investor tertuju pada pemilu sela Amerika Serikat (AS), pergerakan harga minyak dunia, serta hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Dari dalam negeri, isu penyadapan turut menjadi perhatian pasar di tengah meningkatnya ketidakpastian.

Di pasar mata uang, rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (4/11/2026), setelah sehari sebelumnya sempat mencatatkan penguatan tipis.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup di posisi Rp18.155/US$ atau melemah 0,11% dibandingkan penutupan Selasa (3/11/2026) di Rp18.135/US$.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di kisaran Rp18.100 hingga Rp18.180/US$.

Pelemahan rupiah terjadi meskipun dolar AS tengah melemah di pasar global. Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) turun 0,45% ke posisi 101,405.

Tekanan terhadap rupiah dalam beberapa waktu terakhir turut menjadi perhatian Bank Indonesia (BI).

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh perkembangan eksternal, mulai dari konflik geopolitik di Timur Tengah hingga pengetatan kebijakan moneter AS.

“Pelemahan dipengaruhi eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, pengetatan kebijakan moneter AS dan sentimen investor global terhadap aset negara berkembang,” ujar Destry dalam konferensi pers KSSK, Selasa (3/11/2026).

Destry mengungkapkan rupiah sempat menguat hingga kisaran Rp17.800/US$ pada akhir September 2026, sebelum kembali tertekan sepanjang Oktober hingga awal November.

Dari eksternal, perhatian pasar juga tertuju pada rilis neraca perdagangan AS periode September 2026 yang dijadwalkan pada Rabu (4/11/2026) malam waktu Indonesia.

Sebagai gambaran, defisit perdagangan AS pada Agustus melebar menjadi US$105,6 miliar dari US$92,8 miliar pada Juli, sekaligus menjadi yang terbesar sejak Maret 2025.

Pelebaran defisit terjadi setelah impor melonjak US$17,2 miliar ke rekor tertinggi US$420,8 miliar, sedangkan ekspor meningkat US$4,5 miliar menjadi US$315,2 miliar.

Data perdagangan AS tersebut menjadi perhatian investor untuk melihat perkembangan ekonomi Negeri Paman Sam sekaligus arah pergerakan dolar AS ke depan.

Di pasar surat berharga negara (SBN), imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun tercatat naik ke level 7,739% pada perdagangan Rabu (4/11/2026), dari posisi 7,707% pada perdagangan sebelumnya.

Kenaikan tersebut mencapai 3,2 basis poin (bps), mengindikasikan adanya tekanan pada harga obligasi pemerintah.

Sebagai catatan, pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi. Yield yang naik menunjukkan harga obligasi turun, begitu pula sebaliknya.

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street melonjak tajam pada perdagangan Rabu (4/11/2026). Kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) Amerika Serikat (AS), ditambah sikap Presiden Donald Trump yang menerima hasil pemilu, berhasil meredakan ketidakpastian politik yang selama ini membayangi pasar keuangan.

Partai Demokrat berhasil merebut mayoritas kursi di DPR dan Senat AS, sekaligus memenangkan sejumlah pemilihan gubernur strategis, termasuk di Texas.

Kemenangan ini membuat Demokrat berpotensi menjadi penyeimbang kebijakan Trump, yang selama ini dikenal mendorong pemangkasan pajak ramah bisnis, tetapi juga menerapkan tarif impor dan melancarkan perang dengan Iran yang turut memicu inflasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 1.569,40 poin atau 3,03% ke level 53.356,12. Indeks yang berisi 30 saham unggulan tersebut kembali menembus level 53.000 untuk pertama kalinya sejak 8 September.

Kenaikan ini juga menjadi yang terbesar sejak 9 April 2025, ketika Trump mengumumkan penangguhan tarif resiprokal selama 90 hari untuk sejumlah negara.

Sementara itu, S&P 500 menguat 1,58% ke posisi 7.688,62, sedangkan Nasdaq Composite naik 1,44% menjadi 25.736,51.

Penguatan bursa semakin kencang setelah harga minyak mentah AS anjlok lebih dari 8%. Wakil Presiden JD Vance menyalahkan perang Iran sebagai salah satu penyebab kekalahan Partai Republik dalam pemilu pada Selasa. Harga minyak mentah Brent juga merosot lebih dari 8%.

Chief Investment Officer One Point BFG Wealth Partners Peter Boockvar menilai hasil pemilu akan semakin meningkatkan tekanan terhadap pemerintah untuk mengakhiri perang.

“Tekanan untuk mengakhiri perang akan semakin besar. Rakyat AS jelas telah menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap inflasi dan harga bensin, di antara persoalan lainnya. Mungkin hasil ini akan mendorong upaya untuk mengakhiri perang. Kita lihat saja,” ujarnya, dikutip dari CNBC International.

Trump mengatakan kepada The New York Times bahwa dirinya sepenuhnya bersedia menerima hasil pemilu. Kepada The Wall Street Journal, Trump juga menyatakan bahwa dirinya bersama Partai Republik akan bekerja sama dengan Demokrat.

Menurut Chief Market Strategist Freedom Capital Markets Jay Woods, reli pasar saham turut dipicu oleh respons awal Trump yang menerima hasil pemilu.

“Ketidakpastian memang masih membayangi, tetapi satu hal yang pasti, pemerintahan akan menghadapi kebuntuan politik. Secara historis, kondisi ini justru baik bagi pasar,” ujarnya.

Saham-saham yang berkaitan dengan aktivitas ekonomi dan berpotensi diuntungkan oleh kondisi yang lebih stabil memimpin penguatan. Saham Walmart naik 3%, sementara Bank of America menguat sekitar 4% seiring investor mulai melirik saham di luar sektor teknologi.

Sebelum pemilu, investor sempat khawatir kemenangan besar Demokrat akan menekan sejumlah sektor pasar, terutama saham-saham yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Kemenangan Demokrat dikhawatirkan membuka jalan bagi pembatasan lebih ketat terhadap pembangunan pusat data (data center) di berbagai wilayah AS.

Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah Gina Hinojosa memenangkan pemilihan gubernur Texas.

Ia sebelumnya berjanji memberlakukan moratorium segera terhadap pembangunan pusat data di negara bagian yang menjadi salah satu pusat industri tersebut.

Saham CoreWeave melemah pada perdagangan Rabu. Saham SpaceX milik Elon Musk, yang berkantor pusat di Texas, juga turun. Sementara itu, saham Nvidia terkoreksi sekitar 3%.

Sentimen positif di pasar juga didorong oleh catatan historis yang menunjukkan bahwa pasar saham cenderung berkinerja baik ketika pemerintahan AS terpecah antara dua partai politik. Kondisi ini membuat ruang gerak pemerintah dalam menerapkan kebijakan dan regulasi menjadi lebih terbatas sehingga memberikan kepastian lebih besar bagi dunia usaha.

Andrew Slimmon dari Morgan Stanley Investment Management mengatakan pasar menyukai kondisi kebuntuan politik atau gridlock.

“Pasar menyukai kebuntuan politik. Mereka tidak menyukai satu partai yang memiliki kekuasaan terlalu besar,” ujarnya.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan menguat pada hari ini. Hasil pemilu AS dan anjloknya harga minyak diharapkan bisa menjadi katalis positif.  

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026, perkembangan pasar modal, serta rencana perluasan bantuan BPJS Kesehatan.

Berikut  sentimen dan perkembangan penting yang perlu dicermati pelaku pasar.

1. Pemilu AS, Trump dan Republik Kalah Telak

Partai Demokrat berjanji memanfaatkan kemenangan telak dalam pemilu paruh waktu (midterm elections) untuk membatasi kekuasaan Presiden Donald Trump.

Kemenangan ini membuka peluang kebuntuan politik di Washington selama dua tahun ke depan. Sementara itu, dalam penampilan publik pertamanya setelah pemilu, Trump justru memamerkan proyek pembangunan ballroom di Gedung Putih.

Demokrat berhasil merebut kendali Senat dan DPR AS setelah meraih kemenangan di sejumlah basis kuat Partai Republik. Gelombang kemarahan publik terhadap kebijakan Trump, terutama perang AS-Iran yang memperburuk inflasi dan biaya hidup, menjadi salah satu pendorong utama kemenangan tersebut.




Hasil Pemilu ASHasil Pemilu AS Foto: Reuters

 

Ini menjadi kali pertama Trump harus berhadapan dengan Kongres yang dikuasai Demokrat. Pemimpin Demokrat di DPR, Hakeem Jeffries, menegaskan partainya akan memprioritaskan persoalan biaya hidup dan mengawasi pemerintahan Trump.

“Kami tidak bekerja untuk Donald Trump. Kami bekerja untuk rakyat Amerika. Era ketika DPR menjadi perpanjangan tangan pemerintahan Trump telah berakhir,” ujarnya, dikutip dari Reuters.

Trump sendiri mengakui perang Iran turut berkontribusi terhadap kekalahan Partai Republik. Namun, ia tetap mempertahankan keputusannya untuk menyerang Iran. Sebaliknya, Wakil Presiden JD Vance secara terbuka menyebut perang tersebut sebagai penyebab utama kekalahan partainya.

Kemenangan Demokrat juga mencetak sejarah di sejumlah negara bagian. Di Texas, Demokrat merebut kursi Senat untuk pertama kalinya sejak 1988 sekaligus mengalahkan Gubernur Greg Abbott. Kansas juga memilih senator Demokrat pertamanya dalam hampir satu abad.

Setelah resmi dilantik pada Januari mendatang, Demokrat diperkirakan akan menggunakan mayoritas di Kongres untuk menyelidiki pemerintahan Trump, menghambat sejumlah agenda legislasi, hingga memblokir calon pejabat yang diajukan presiden.

Gelombang kemenangan Demokrat bahkan meluas ke hampir seluruh wilayah AS. Partai tersebut merebut lebih dari dua lusin kursi DPR yang sebelumnya dikuasai Republik, termasuk di sejumlah daerah yang dimenangkan Trump dengan selisih besar pada pemilu 2024.

Pemilu kali ini juga mencatat sejarah baru. Keisha Lance Bottoms menjadi perempuan kulit hitam pertama yang terpilih sebagai gubernur AS, sementara Deb Haaland menjadi perempuan penduduk asli Amerika pertama yang memenangkan jabatan tersebut.

2. Defisit Perdagangan AS Menyusut

Defisit perdagangan Amerika Serikat (AS) menyusut tipis menjadi US$105 miliar pada September 2026, dari US$105,7 miliar pada Agustus. Angka ini juga lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar US$108 miliar.

Penyusutan defisit ditopang oleh ekspor yang melonjak 1,9% menjadi US$321,5 miliar, tertinggi dalam lima bulan. Kenaikan ekspor terutama berasal dari komputer, kedelai, minyak mentah, aksesori komputer, pesawat sipil, dan produk farmasi. Namun, ekspor emas nonmoneter mengalami penurunan.



Di sisi lain, impor AS masih meningkat 1,2% menjadi rekor tertinggi US$426,6 miliar. Kenaikan terutama didorong pembelian komputer, aksesori komputer, dan produk farmasi. Sementara itu, impor semikonduktor, emas nonmoneter, dan minyak mentah tercatat menurun.

Defisit perdagangan terbesar AS tercatat dengan Meksiko sebesar US$28,7 miliar, Vietnam US$25,3 miliar, Taiwan US$21,9 miliar, China US$17,9 miliar, Uni Eropa US$14,2 miliar, dan Korea Selatan US$12,8 miliar. Sementara itu, AS mencatat defisit perdagangan sebesar US$4,4 miliar dengan Kanada.



3. Data Tenaga Kerja AS

Sektor swasta Amerika Serikat (AS) menambah 86.000 tenaga kerja pada Oktober 2026, melampaui ekspektasi pasar sebesar 69.000 pekerjaan. Angka ini juga menyamai kenaikan pada September yang telah direvisi lebih rendah. Perekrutan tenaga kerja masih solid selama dua bulan berturut-turut, dengan perusahaan dari berbagai skala bisnis mencatat penambahan karyawan.

Dari sisi sektor, penyerapan tenaga kerja terbesar terjadi pada perdagangan, transportasi, dan utilitas yang bertambah 39.000 pekerjaan. Sektor pendidikan dan kesehatan menyusul dengan 28.000 pekerjaan, sementara rekreasi dan perhotelan menambah 19.000 pekerjaan.

Namun, sektor jasa profesional dan bisnis justru kehilangan 27.000 pekerjaan untuk bulan ketiga berturut-turut. Sektor sumber daya alam dan pertambangan juga berkurang 8.000 pekerjaan, sedangkan sektor informasi turun 2.000 pekerjaan.

Kepala Ekonom ADP Nela Richardson mengatakan pertumbuhan upah pekerja yang berpindah pekerjaan mencapai level tercepat sejak Maret 2024. Kenaikan tersebut ditopang oleh gaji pokok, bonus, upah lembur, serta jam kerja yang lebih panjang.

4. Sektor Jasa AS Melandai

Indeks aktivitas sektor jasa Amerika Serikat (ISM Services PMI) turun menjadi 54,5 pada Oktober 2026, dari 54,9 pada September. Angka ini juga lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 54,8 dan menjadi level terendah dalam tiga bulan terakhir. Meski masih berada di atas level 50, perlambatan ini menunjukkan ekspansi sektor jasa AS mulai kehilangan momentum.

Pelemahan terutama dipicu oleh melambatnya aktivitas bisnis yang turun menjadi 53,8 dari 56,5, serta pesanan baru yang merosot menjadi 55,9 dari 59,8. Indeks persediaan juga turun menjadi 55,4 dari 57,8.

Ketua ISM Steve Miller mengatakan tarif impor dan kenaikan biaya bahan bakar masih menjadi persoalan utama rantai pasok. Sejumlah pelaku usaha bahkan belum sepenuhnya merasakan dampak kenaikan biaya tersebut atau meneruskannya kepada konsumen.

ISM memperingatkan tekanan harga berpotensi kembali meningkat jika kenaikan biaya tarif dan minyak tidak mereda. Bahkan tanpa kenaikan lebih lanjut, dampak biaya yang sudah terjadi masih berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.

5. Harga MInyak Jatuh

Harga minyak mentah dunia ambruk lebih dari 8% pada perdagangan Rabu (4/11/2026), menyentuh level terendah dalam lebih dari dua bulan.

Pelemahan terjadi setelah Partai Republik pimpinan Presiden Donald Trump kehilangan kendali atas Kongres AS dalam pemilu paruh waktu. Investor menilai perubahan kekuasaan politik ini dapat memperbesar tekanan terhadap Trump untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran.

Harga minyak Brent anjlok 8,7% ke US$94,62 per barel, sementara minyak WTI merosot 8,3% ke US$88,12 per barel. Keduanya mencatatkan penutupan terendah sejak 31 Agustus.

Kekalahan Partai Republik membuat posisi politik Trump melemah. Dengan Demokrat menguasai DPR dan Senat, ruang gerak militer pemerintah AS berpotensi semakin terbatas sehingga peluang negosiasi damai dengan Iran dinilai meningkat.



Wakil Presiden AS JD Vance bahkan mempertanyakan keputusan untuk berperang dan menyebut konflik Iran sebagai penyebab utama kekalahan Partai Republik. Trump sendiri mengakui perang tersebut turut berkontribusi terhadap hasil buruk partainya dalam pemilu.

Sentimen negatif terhadap harga minyak juga datang dari pernyataan Trump yang menyebut AS tidak memiliki rencana segera menyerang Iran. Qatar turut meningkatkan upaya mediasi untuk mencegah eskalasi konflik.

Meski demikian, risiko perang belum sepenuhnya mereda. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menegaskan permusuhan AS terhadap Teheran akan terus berlanjut, terlepas dari partai yang berkuasa di Washington.

Dari sisi pasokan, ekspor minyak mentah dan produk olahan negara-negara Teluk turun menjadi 17,1 juta barel per hari pada Oktober, dari 18,9 juta barel per hari pada September.

Sementara itu, stok minyak mentah AS turun 865.000 barel menjadi 409,8 juta barel pada pekan yang berakhir 30 Oktober. Penurunan ini berlawanan dengan ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan stok sebesar 877.000 barel.

 6. OJK Catat 25 Perusahaan Antre IPO, Minat Investor Terus Tumbuh

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat minat perusahaan untuk menghimpun dana melalui pasar modal Indonesia masih tinggi, dengan 25 rencana penawaran umum yang berada dalam pipeline.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan, hingga 28 Oktober 2026, nilai penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp202,04 triliun secara year-to-date (ytd), didominasi penerbitan Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS) senilai Rp150,43 triliun.

“Di pipeline juga masih banyak yang mau IPO di pasar modal kita. Masih ada 25 rencana penawaran umum,” ujarnya dalam konferensi pers KSSK, Rabu (4/11/2026).

Dari sisi investor, jumlah Single Investor Identification (SID) mencapai 33,36 juta per 26 Oktober 2026, meningkat 63,94% secara ytd. Sementara itu, sebanyak 73,54% emiten saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat membukukan laba berdasarkan laporan keuangan tengah tahunan 2026.

7. Pemerintah Siapkan Rp94,78 Triliun untuk Perluasan Bantuan BPJS Kesehatan

Pemerintah tengah menyiapkan skema perluasan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK) BPJS Kesehatan yang ditargetkan menjangkau sekitar 188 juta penduduk Indonesia.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menjelaskan, skema tersebut menyasar masyarakat kelompok desil 1 hingga 8 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), dengan pembagian tanggung jawab pembiayaan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Dalam rancangan tersebut, masyarakat desil 1-4 akan ditanggung pemerintah pusat melalui APBN, desil 5-6 oleh pemerintah kabupaten/kota, sedangkan desil 7-8 menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi.

Dengan asumsi iuran Rp42.000 per orang per bulan, total kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai Rp94,78 triliun per tahun, terdiri dari:

  • Desil 1-4: Rp52,49 triliun untuk 104,15 juta jiwa, ditanggung APBN.

  • Desil 5-6: Rp23,22 triliun untuk 46,06 juta jiwa, ditanggung APBD kabupaten/kota.

  • Desil 7-8: Rp19,07 triliun untuk 37,84 juta jiwa, ditanggung APBD provinsi.

Secara keseluruhan, komposisi pembiayaan direncanakan sebesar 55% dari APBN, 25% dari APBD kabupaten/kota, dan 20% dari APBD provinsi.

Berdasarkan pemetaan pemerintah, sebanyak 223,4 juta penduduk berada dalam kelompok desil 1-8. Dari jumlah tersebut, sekitar 188 juta jiwa atau 84% berpotensi menerima bantuan iuran, sedangkan 35,3 juta lainnya telah dijamin pemberi kerja atau menjadi peserta mandiri kelas I-II.

Sebagai perbandingan, skema bantuan iuran JKN yang berjalan saat ini mencakup sekitar 156,8 juta jiwa atau 55% populasi Indonesia.

Meski demikian, Gus Ipul menegaskan bahwa rancangan perluasan bantuan tersebut masih dalam tahap simulasi dan pembahasan, sehingga belum menjadi kebijakan final.

Dari sisi ekonomi, perluasan bantuan BPJS Kesehatan berpotensi memperkuat perlindungan sosial dan mengurangi beban pengeluaran kesehatan rumah tangga, terutama kelompok berpendapatan rendah dan rentan. Namun, kebutuhan anggaran yang mencapai Rp94,78 triliun per tahun juga perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi ruang fiskal pemerintah pusat dan daerah, bergantung pada skema pendanaan akhir yang disepakati.

8. Pertumbuhan PDB Indonesia Kuartal III 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 pada hari ini Kamis (5/11/2026), pukul 11:00 WIB.

Berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 15 lembaga/institusi, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 5,20% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III-2026.

Sementara secara kuartalan, ekonomi diproyeksi masih tumbuh 1,33% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq).

Sebagai gambaran, ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tumbuh 5,29% yoy dan 3,73% qtq. Sementara pada kuartal I-2026, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,61% yoy.

Apabila proyeksi sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang akan diumumkan pada Kamis (5/11/2026), maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat selama dua kuartal berturut-turut, dari 5,61% pada kuartal I menjadi 5,29% pada kuartal II, kemudian 5,20% pada kuartal III-2026.

Meski demikian, pertumbuhan tersebut masih lebih tinggi dibandingkan kuartal III-2025 yang mencapai 5,04% yoy

Bagi pelaku pasar, data ini menjadi indikator penting untuk menilai ketahanan ekonomi domestik, terutama dari sisi konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas produksi. Realisasi pertumbuhan yang melampaui ekspektasi berpotensi menjadi sentimen positif bagi IHSG dan rupiah.

Sebaliknya, pertumbuhan di bawah perkiraan dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi Indonesia serta memengaruhi ekspektasi arah kebijakan moneter Bank Indonesia.

Konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia dengan pertumbuhan 5,06% pada kuartal II-2026. Namun, kenaikan inflasi hingga 3,28% pada September berpotensi menekan daya beli. Meski Indeks Keyakinan Konsumen masih berada di atas 100, pertumbuhan penjualan ritel dan kredit konsumsi yang relatif terbatas menunjukkan masyarakat masih cenderung berhati-hati dalam berbelanja.

Ekspor dan perdagangan luar negeri menunjukkan perbaikan setelah neraca perdagangan kembali mencatat surplus US$7,03 miliar sepanjang kuartal III-2026, berbalik dari defisit US$1,97 miliar pada kuartal sebelumnya. Ekspor September tumbuh 11,87% secara tahunan menjadi US$27,59 miliar. Namun, impor tumbuh lebih tinggi sebesar 18,41% menjadi US$24,23 miliar, mencerminkan kebutuhan barang dari luar negeri yang masih kuat dan berpotensi menahan kontribusi ekspor neto terhadap PDB.

 

Belanja pemerintah meningkat signifikan. Peningkatan terutama didorong belanja barang yang melonjak 66,9%, termasuk untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pemerintah juga menggelontorkan stimulus Rp26,34 triliun, bantuan pangan, serta menjaga harga listrik dan BBM bersubsidi untuk menopang daya beli masyarakat.

Investasi menjadi salah satu sumber pertumbuhan yang menunjukkan perkembangan positif. Realisasi investasi kuartal III-2026 mencapai Rp528,7 triliun, tumbuh 7,6% secara tahunan dan menyerap 745.634 tenaga kerja. Aktivitas manufaktur juga mulai ekspansif, tercermin dari PMI manufaktur yang naik menjadi 52,4 pada September.

9. Rapat DK OJK


Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menggelar konferensi pers mengenai kondisi sektor keuangan terkini.

Menarik dicermati apa saja yang akan disampaikan OJK, terutama data terkait kesehatan pasar modal dan perbankan Indonesia.

Perlu disimak juga apakah OJK akan mengeluarkan aturan atau kebijakan baru di akhir tahun untuk membangkitkan pasar modal Indonesia yang terpuruk.

10. Zona Euro Rilis Inflasi Produsen September 2026

Zona Euro dijadwalkan merilis data Producer Price Index (PPI) atau inflasi harga produsen periode September 2026 pada hari ini, Kamis (5/11/2026) pukul 17.00 WIB.

Berdasarkan Trading Economics, harga produsen Zona Euro pada Agustus 2026 meningkat 8,2% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan 5,8% pada Juli dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 8,1%. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Februari 2023.

Bagi pelaku pasar, data PPI menjadi indikator penting untuk mengukur tekanan inflasi dari sisi produksi yang berpotensi diteruskan ke harga konsumen. Jika inflasi produsen tetap tinggi, ekspektasi terhadap kebijakan moneter ketat Bank Sentral Eropa (ECB) dapat menguat. Sebaliknya, perlambatan PPI berpotensi meredakan kekhawatiran inflasi dan memengaruhi pergerakan euro serta pasar obligasi Eropa.


Berikut agenda ekonomi hari ini, Kamis (04/11/2026):

  • Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia (PDB) kuartal III-2026, baik secara tahunan (YoY) maupun kuartalan (QoQ).
  • Bursa Efek Indonesia (BEI), KPEI, dan KSEI menggelar Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 di Main Hall BEI, Jakarta. Agenda hari pertama mencakup seminar “Indonesia’s Economic & Investment Outlook”.
  • Konferensi Pers Menteri Koordinator Bidang Perekonomian terkait pertumbuhan ekonomi triwulan III di kantor Kemenko Ekon, Jakarta Pusat


  • Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus memberikan arahan kepada manajemen PLN di kantor pusat PLN, Jakarta Selatan


  • Konferensi Pers Virtual Rapat Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan


  • HP & Intel menggelar The OmniBook Clubhouse 2.0: Step into Your OmniWorld di Bengkel Fairgrounds SCBD, Jakarta Selatan


  • Media Briefing: Hubungan Obesitas dan Kesehatan Mental di Semasa Dulu, Urban Forest, Jakarta Selatan.

  • Legal BUMD Seluruh Indonesia Summit 2026 digelar di Discovery Hotel Ancol, Jakarta, membahas penguatan tata kelola, kepastian hukum, dan daya saing Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
  • Zona Euro akan merilis data Producer Price Index (PPI) periode September 2026.
  • Jepang akan merilis data final S&P Global Services PMI dan Composite PMI periode Oktober 2026.
  • Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, dijadwalkan menyampaikan pidato.
  • Presiden Federal Reserve Bank of Richmond, Thomas Barkin, dijadwalkan menyampaikan pidato.

Berikut agenda korporasi hari ini:

RUPS Rencana Sepatu Bata Tbk
Rencana Rupo emisi Obligasi I Sinergi Inti Andalan Prima Tahun 2026
Rencana RupSu emisi Sukuk Ijarah I Sinergi Inti Andalan Prima Tahun 2026
Panggilan Rupo emisi Obligasi I Sinergi Inti Andalan Prima Tahun 2026
Panggilan RupSu emisi Sukuk Ijarah I Sinergi Inti Andalan Prima Tahun 2026
Tanggal cum Dividen Tunai Interim United Tractors Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim JAPFA Comfeed Indonesia Tbk
Tanggal ex HMETD PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Pulau Subur Tbk

Berikut indikator ekonomi terbaru:


Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *