Home Finance Ringgit Jadi Raja, Rupiah-Won Tak Kalah Perkasa
Finance

Ringgit Jadi Raja, Rupiah-Won Tak Kalah Perkasa

Share
Ringgit Jadi Raja, Rupiah-Won Tak Kalah Perkasa
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Menjelang akhir pekan, angin segar sedang menyelimuti pasar mata uang Asia. Mayoritas mata uang Asia mampu menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (30/10/2026), ketika greenback kehilangan tenaga cukup besar.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.20 WIB, tujuh dari 10 mata uang Asia yang dipantau menguat terhadap dolar AS. Sementara tiga mata uang lainnya masih berada di zona merah.

Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam pagi ini. Ringgit naik 0,27% ke posisi MYR4,046/US$.

Yen Jepang menyusul dengan kenaikan 0,16%, sementara rupiah menguat 0,14% ke posisi Rp18.100/US$.

Won Korea Selatan dan dolar Singapura sama-sama naik 0,12%. Peso Filipina menguat 0,05%, sedangkan yuan China naik tipis 0,03%.

Di sisi lain, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam setelah melemah 0,15%. Baht Thailand turun 0,03%, sementara dong Vietnam terkoreksi tipis 0,02%.


Greenback ikut melemah ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS bergerak turun. Indeks dolar AS atau DXY pada pagi ini terkoreksi 0,28% ke posisi 101,744.

Tekanan terhadap dolar kali ini datang dari arah yang cukup berbeda. Kekhawatiran terhadap saham-saham perusahaan kecerdasan buatan atau AI memicu aksi jual di pasar saham AS dan membuat investor beralih ke obligasi pemerintah AS.

Permintaan terhadap obligasi tersebut membuat harganya naik dan imbal hasilnya turun. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,8958%, sementara tenor 30 tahun turun ke 5,2623%. Keduanya berada di level terendah dalam lebih dari satu bulan.

Turunnya imbal hasil kemudian ikut mengurangi daya tarik dolar AS.

“Reaksi pasar terlihat berbeda dari pola penghindaran risiko yang biasanya dipicu harga energi,” ujar Sim Moh Siong, ahli strategi valuta OCBC, dikutip dari Reuters.

“Alih-alih mendukung dolar AS dan mendorong imbal hasil AS lebih tinggi, kekhawatiran terhadap AI yang berpusat di AS justru dibarengi penurunan imbal hasil Treasury serta dolar AS yang lebih lemah atau cenderung tertahan,” tambahnya.

Kekhawatiran terhadap sektor AI kembali meningkat setelah laporan kinerja Alphabet memunculkan pertanyaan mengenai besarnya belanja untuk pengembangan kecerdasan buatan. Sentimen tersebut menekan pasar saham dan meningkatkan permintaan terhadap obligasi pemerintah.

Meski terkoreksi pagi ini, dolar AS masih berada di tren penguatan sekitar 0,3% sepanjang Oktober. Jika bertahan, kenaikan tersebut menjadi penguatan bulanan kedua secara berturut-turut.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *