
Jakarta, CNBC Indonesia – Mata uang Garuda ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (3/11/2026), setelah sehari sebelumnya ditutup melemah.
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp18.135/US$ atau menguat tipis 0,03% dibandingkan penutupan Senin (2/11/2026) di posisi Rp18.140/US$
Sepanjang perdagangan, rupiah sempat tertekan hingga Rp18.165/US$ sebelum berbalik arah dan mengakhiri perdagangan di zona hijau.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,06% ke posisi 101,688.
Di pasar global, perhatian investor kini tertuju pada pemilu sela AS yang berlangsung hari ini. Hasil pemilu tersebut akan menentukan keseimbangan kekuatan di Kongres AS, yang berpotensi mempengaruhi ruang gerak pemerintahan Presiden Donald Trump dalam menjalankan kebijakan anggaran, perpajakan, dan belanja negara.
Sementara dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah dalam beberapa waktu terakhir turut memunculkan ekspektasi bahwa Bank Indonesia (BI) akan kembali menaikkan suku bunga acuan.
Tim Ekonom BCA menilai pelemahan rupiah, arus modal asing yang keluar, serta risiko inflasi impor dapat mendorong BI mengambil kebijakan moneter lebih ketat. Kekhawatiran terhadap potensi reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI juga dinilai menambah tekanan terhadap arus modal asing.
“Oleh karena itu, kami mempertahankan pandangan bahwa Bank Indonesia mungkin akan menyampaikan kenaikan suku bunga acuan (policy rate hike) lagi untuk menjaga stabilitas eksternal dan menenangkan pasar domestik,” menurut Tim Ekonom BCA, dikutip Selasa (3/11/2026).
Pandangan serupa disampaikan Tim Ekonom Permata Bank. Mereka memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada November 2026, sehingga BI-Rate mencapai 6,00%.
Perkiraan tersebut turut mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada Desember, yang dapat menambah tekanan terhadap rupiah dan mendorong BI menjaga selisih suku bunga agar aset domestik tetap menarik bagi investor.
Di sisi lain, aktivitas manufaktur Indonesia masih menunjukkan penguatan. Berdasarkan data S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia meningkat menjadi 54,0 pada Oktober 2026, dari 52,4 pada September.
(evw/evw)
Leave a comment