Home Finance Salim Group Terseret Isu Karhutla, Indofood (INDF) Ungkap Fakta Ini
Finance

Salim Group Terseret Isu Karhutla, Indofood (INDF) Ungkap Fakta Ini

Share
Salim Group Terseret Isu Karhutla, Indofood (INDF) Ungkap Fakta Ini
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) buka suara terkait pemanggilan otoritas Singapura terhadap salah satu entitas anak usahanya, Indofood Agri Resources Ltd. (IFAR), terkait dengan penyelidikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga saat ini, proses tersebut masih berlangsung dan IFAR masih menunggu arahan lebih lanjut dari otoritas Singapura.

“Salah satu pihak yang menerima pemanggilan dari pihak otoritas di Singapura dan yang menghadiri pertemuan adalah entitas anak Perseroan, yaitu Indofood Agri Resources Ltd., (IFAR),” tulis manajemen, Selasa (3/11/2026).

Disebutkan bahwa, IFAR menyatakan akan bekerja sama dengan otoritas terkait serta tetap memperhatikan ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Singapura maupun Indonesia.

Manajemen menjelaskan lebih jauh, kegiatan usaha perkebunan dilakukan oleh entitas anak IFAR, yakni PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia.

Terkait isu karhutla, INDF merujuk pada keterbukaan informasi SIMP pada 15 Oktober 2026. Dalam penjelasan tersebut, area perkebunan SIMP dan entitas anaknya saat ini merupakan lahan yang sudah tertanam dan tidak terdapat kegiatan pembukaan lahan berskala besar.

Perseroan menegaskan bahwa pencegahan kebakaran di dalam maupun sekitar area perkebunan menjadi prioritas, mengingat lahan perkebunan merupakan salah satu aset utama Grup SIMP.

Sementara itu, dalam suratnya kepada BEI tertanggal 15 Oktober 2026, SIMP menjelaskan bahwa lokasi perkebunan Grup SIMP tersebar di sejumlah provinsi di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

SIMP menyebutkan bahwa peningkatan karhutla di Indonesia sepanjang 2026 dipengaruhi oleh musim kemarau panjang dengan curah hujan mendekati nol, yang diperparah fenomena El Niño. Selain faktor cuaca, aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar atau slash-and-burn juga berpotensi meningkatkan jumlah titik api (hotspots).

Meski demikian, SIMP menegaskan secara konsisten menerapkan kebijakan larangan pembakaran atau zero burning policy. Perseroan juga melakukan pembersihan lahan secara mekanis untuk area perkebunan yang tidak produktif.

Dalam upaya mendeteksi potensi kebakaran, SIMP melakukan pemantauan titik api secara proaktif menggunakan data satelit dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan National Aeronautics and Space Administration (NASA). Data tersebut kemudian dicocokkan dengan peta konsesi resmi perusahaan.

Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, SIMP menyebut titik api ditemukan muncul secara acak dalam skala kecil di area perkebunan Grup SIMP. Titik api tersebut diklaim dapat segera ditangani sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran.

Untuk memperkuat pencegahan dan penanggulangan karhutla, setiap perkebunan Grup SIMP juga dilengkapi kendaraan dan peralatan pemadam kebakaran. Perseroan turut menyiapkan karyawan yang memiliki tugas khusus serta diwajibkan mengikuti pelatihan rutin terkait pencegahan kebakaran dan tanggap darurat.

Selain itu, SIMP berkolaborasi dengan masyarakat sekitar perkebunan untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan mengenai pencegahan kebakaran.

(rob/rob)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *